Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Asal Mula Glodok

52

Glodok berasal  dari kata grojok yang merupakan sebutan dari bunyi air yang jatuh dari pancuran air. Di tempat itu dahulu kala ada semacam waduk penampungan air kali ciliwung. Orang  keturunan Tionghoa menyebut grojok sebagai glodok karena orang tionghoa sulit mengucap kata grojok seperti layaknya orang pribumi.

Jauh sebelum Gubernur Jenderal Jan Pieter Zoon Coen berkuasa tahun 1619, orang-orang keturunan Tionghoa sudah tinggal di sebelah timur muara Ciliwung tidak jauh dari pelabuhan itu. Mereka menjual arak, beras, candu dan kebutuhan lainnya termasuk air minum bagi para pendatang yang singgah di pelabuhan.

Lima bulan setelah berkuasa, Jan Pieterszoon Coen mengangkat Souw Beng Kong (11 Oktober 1619) sebagai kapiten administratur penduduk Tionghoa di Batavia. Bencon, begitu kompeni (VOC) menyebutnya, saudagar besar Banten yang atas bujukan Coen bersama ratusan anak buahnya kemudian hijrah ke Batavia. Untuk mereka, Coen membangun perkampungan di muara Kali Ciliwung. Ia memegang jabatan sampai 1645.

Kemudian Souw digantikan oleh Phoa Beng Gam (1645-1663). Kapiten Phoa inilah yang dijuluki sang insinyur air pada 1648,  meluruskan Ciliwung yang sebelumnya berkelok-kelok dan berbelok-belok. Hasil karyanya sampai kini masih terlihat dari sungai Ciliwung yang kiri kanannya diapit Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Gajah Mada yang tidak lagi berkelok-kelok hingga muara.

Saat Ni Hoe jadi kapiten (1736-1743), tepatnya pada tanggal 9 Oktober 1740 timbul pemberontakan besar di Batavia, yang berpusat di Glodok. Pemberontakan Cina ini memang dapat ditumpas VOC. Tapi harus dibayar mahal. Sekitar 5 ribu sampai 10 ribu Tionghoa mati menjadi korban. Belanda memindahkan orang-orang Tionghoa yang masih tersisa di kawasan Glodok yang tidak jauh dari ‘Stadhuis’ (sekarang Museum Fatahillah). Kawasan itu memang disediakan Belanda untuk lokalisasi kawasan pecinan.

Khouw Kim An adalah mayor Cina terakhir. Karena sejak masa pendudukan Jepang (1942-1945) jabatan ini dihapuskan. Sampai awal 1990-an masih kita jumpai bekas kediaman Khouw di Jalan Gajah Mada, sekitar 100 meter dan pusat perdagangan Glodok. Tapi kini, rumah tersebut tertutup oleh pencakar langit yang dibangun Modern Group.

Sejak dulu, kawasan Glodok memiliki potensi dan letak yang strategis, maka tak aneh jika mendorong banyak orang mengadu nasib. Tak hanya orang China, orang Eropa, dan kaum pribumi pun banyak yang mengadu peruntungan di kawasan pecinan Glodok. (Risma)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: