06:49 pm - Tuesday 02 September 2014
Advertisement

Sejarah Lampion

By risma - Tue Jan 24, 7:40 am

Jakartakita.Com : Lampion merupakan salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari perayaan Imlek. Imlek tidak akan meriah tanpa kehadiran lentera berbentuk bulat dengan warna merah menyala yang digantung mengelilingi tempat perayaan Imlek. Warna merah menggambarkan perasaan suka cita. Sedangkan lampion berwarna putih untuk mengungkapkan rasa bela sungkawa. Ada banyak versi sejarah tentang lampion.

Salah satu sumber menyebutkan bahwa lampion sudah ada sejak zaman dinasti Xi Han  kira-kira 1800 tahun yang lalu. Lampion ada yang terbuat dari kertas, kain, kulit binatang, dan dari bordiran-bordiran kain sutra dan lain-lain. Namun yang terbuat dari kertas baru dimulai sejak di Tiongkok ditemukannya teknik pembuatan kertas oleh Cailun yaitu pada zaman dinasti Han Timur (tahun 25-220 M ).

Sejak zaman Dinasti Han hingga Tang, lampion telah disahkan sebagai simbol penyambutan hari raya imlek. Saat dinasti Ming Zhu Yuan Chang (tahun 1368 – 1644 M), ribuan lampion sengaja dibiarkan mengambang di atas air ketika memproklamirkan ibu kota negara Nanjing.

Namun ada versi lain tentang sejarah lampion yang banyak beredar. Yaitu tentang sejarah lampion (Teng Lo Leng atau Teng Lung) yang dimulai pada zaman dinasti Ming. Pada waktu ada seorang perampok budiman bernama Lie Cu Seng di kota Kaifeng. Dia adalah Robin Hood di zamannya. Karena Lie Cu Seng  hanya merampok orang-orang kaya pelit, dan hasil rampokannya dibagikan ke orang miskin.

Namun suatu ketika Lie Cu Seng difitnah, bahwa sebetulnya hasil rampokannya hanya dimakan sendiri. Lie Cu Seng yang menyamar sebagai rakyat jelata membuat cerita tandingan tentang kebaikan Lie Cu Seng, sang perampok dermawan. Dalam penyamarannya Lie Cu Seng juga meminta rakyat untuk memasang lampion di rumahnya. Tujuannya untuk memudahkan Lie Cu Seng membagikan hasil jarahannya kepada rakyat. Hanya rumah yang memasang lampion saja yang akan diberikan bagian.

Dan tentu saja Lie Cu Seng menepati janjinya. Malam hari Lie Cu Seng membagikan hasil jarahannya ke setiap rumah yang memasang lampion. Lama-kelamaan lampion itu digunakan sebagai bentuk penghargaan kepada Lie Cu Seng, sang perampok budiman. Sedang budaya memasang lampion pada akhir tahun baru diartikan sebagai permohonan berkah kepada para dewa.

Demikian beberapa versi tentang sejarah lampion. (Risma/berbagai sumber)

Follow Jakartakita.Com - Jakarta Kita on Twitter, become a fan on Facebook. Stay updated via RSS



Leave a Reply


9 + 4 =

risma