08:23 am - Saturday 30 August 2014
Advertisement

Dua Penyebab Kekalahan Foke: Reaksioner dan Elitis

By Rio Yotto - Fri Jul 13, 3:02 pm

jakartakita.com: Keunggulan Jokowi-Ahok atas Foke-Nara pada Pemilukada DKI mengejutkan banyak pihak. Indonesia Media Monitoring Centre (IMMC), lembaga yang secara reguler memantau dinamika pemberitaan Pemilukada DKI, berkesimpulan ada beberapa faktor yang membuat perolehan suara Foke bisa disalip oleh Jokowi.

Muhammad Farid, Direktur Riset IMMC, dalam rilisnya menjelaskan bahwa faktor pertama yang menyebabkan kekalahan Foke adalah minimnya potret publikasi tentang kegiatan Foke turun ke lapangan secara langsung. Riset IMMC menunjukkan bahwa tingkat popularitas Foke di media paling tinggi. Tapi sayangnya, sebagian publikasi terkait dengan kegiatan seremonial dan formalistik dan cenderung bersifat elitis.

“Sehingga persepsi yang terbentuk di opini publik, Foke elitis sedangkan Jokowi merakyat. Sebab Jokowi terlihat sangat intensif melakukan agenda turun langsung ke kantorn-kantong masyarakat Jakarta. Jokowi bersentuhan langsung, sehingga empati pemilih tersentuh. Figur Jokowi dibangun atas dasar sentuhan emosional, empatikal, non-formal. Sementara Foke cenderung formal, struktural dan birokratis. Ini yang membuat speed elektabilitas Jokowi melonjak tajam. Kalau kita ibaratkan, Jokowi itu tidak menggunakan ‘mediator’ untuk menyapa calon pemilih. Sehingga hasilnya juga directly,” jelas Farid.

Faktor lain penyebab kekalahan Foke, menurut Farid, karena program-programnya yang cenderung bersifat reaksioner. Program Foke muncul dari sikap resisten. Seperti bentuk perlawanan balik terhadap kritikan-kritikan yang dilempar kompetitornya. “Foke secara tidak sadar tenggelam dalam obsesi untuk menangkis serangan kompetitornya. Dia tampak panik. Sehingga energinya  tercurah untuk menunjukkan program keberhasilannya. Padahal, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Sehingga terkesan memaksakan dan pemilih cenderung mengeryitkan dahi, antipati. Misalnya, dalam kampanyenya Foke memaksakan diri mengatakan Jakarta tidak macet dan tidak banjir. Seharusnya Foke tak perlu meladeni. Ia tetap fokus pada program-program yang memang riil, bukan dalam konteks untuk mencouter kompetitornya,” demikian Farid menerangkan.

Menurut Farid, sebaliknya dengan Jokowi. Jokowi tampak sekali nothing to lose. Jokowi sangat lepas dalam menawarkan program-programnya. Tak terbebani oleh tekanan apapun. Sehingga ia bisa mencari dengan leluasa, program yang benar-benar mewakili aspirasi masyarakat Jakarta. Misalnya, Jokowi menggunakan kembali kampanye masterpicenya di Solo, yaitu kartu kesehatan. Meski sebagian menganggap program itu tidak akan ‘laku dijual di Jakarta, tapi Jokowi tidak terbebani dengan itu. Ia tidak reaksioner seperti Foke.

Menurut Farid, sebagai petahana, Foke sebenarnya memiliki akses dan peluang yang besar untuk lebih kreatif dan inovatif menampilkan program baru, tanpa memaksakan diri untuk memutarbalikkan fakta. Tapi ini tidak dilakukan olehnya. “Tampilan program-program di media Foke terlihat sekali sangat emosional,” tutup Farid.

IMMC Jakarta

-RY

Follow Jakartakita.Com - Jakarta Kita on Twitter, become a fan on Facebook. Stay updated via RSS



Leave a Reply


+ 1 = 8

Rio Yotto