Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Empat WNI tewas ditembak polisi Malaysia

50

Jakartakita.Com: Perwakilan Indonesia di Malaysia membenarkan ada empat warga negara Indonesia yang tewas ditembak Polisi Diraja Malaysia karena dituduh terlibat perampokan seorang warga negara Jepang yang tinggal di Malaysia.

Keempatnya tewas ditembak di Ipoh Perak pada hari Jumat (06/09) lalu.

“Setelah tembak-menembak dengan mereka ditemukan barang milik warga negara Jepang yang telah dirampok,” kata Atase Penerangan Sosial dan Budaya KBRI Kuala Lumpur Suryana Sastradiredja.

“Semua tentang mereka telah dimuat di sejumlah media Malaysia dan mereka disebut sebagai geng hitam.”

Suryana mengatakan tidak ditemukan identitas pada mereka namun kemudian Polisi Diraja Malaysia mendapati identitas dari sidik jari para korban.

“Sidik jari mereka itu tercatat di kepolisian Malaysia karena tiga diantaranya pernah melakukan pembunuhan pada tahun 2003, 2004 dan 2005.”

Suryana menepis kemungkinan bahwa keempatnya merupakan WNI yang sedang bekerja di Malaysia.

“Kalau TKI mereka akan bawa surat keterangan atau ada laporan dari perusahaan yang pekerjanya belum pulang. Dan biasanya ada klaim dari perusahaannya jika mereka adalah pekerjanya.”

Periksa ulang

Informasi awal tentang WNI yang tewas ini mulanya bersumber dari LSM Migrant Care yang menyebut lima WNI tewas ditembak Polisi Diraja Malaysia.

Menurut Migrant Care mereka adalah Mahno asal Madura, Diden, Hamid, Osnan dan Joni asal Batam.

Sementara menurut Suryana Sastradiredja petugas KBRI Kuala Lumpur telah mengecek informasi ini dan memeriksa data-datanya dari kepolisian setempat.

“Satuan tugas pelayanan perlindungan WNI langsung bergerak dan menghubungi polisi dan bertemu dan juga melakukan kunjungan ke rumah sakit untuk melihat jenazah dan berkunjung ke lokasi kejadian dan melakukan cek silang,” kata Suryana.

“Pemerintah Indonesia tidak boleh bersumber pada satu data saja dan harus cek silang kalau KBRI selalu diam maka penembakan terhadap WNI seperti ini tidak akan menemui titik akhir” Anis Hidayah

Namun sejumlah pegiat perlindungan pekerja migran menyayangkan KBRI Malaysia yang dianggap membiarkan polisi setempat menembaki warga Indonesia dalam kasus ini.

“Siapapun mereka dan apa pun latar belakangnya si WNI ketika polisi melakukan salah prosedur itu harus dipersoalkan. Polisi Malaysia pernah melakukan dan mengatakan hal yang sama pada kasus sebelumnya,” kata Direktur Migrant Care, Anis Hidayah

Dia mencontohkan kasus penembakan terhadap tiga WNI asal Madura pada tahun 2010 lalu yang ditembak karena memiliki catatan kejahatan dan disebutkan bisa mengendarai mobil dan melakukan hal lainnya tapi kenyataannya mereka bukan kriminal hanya pekerja kontruksi dan tidak bisa mengendarai mobil.

“Pemerintah Indonesia tidak boleh bersumber pada satu data saja dan harus cek silang kalau KBRI selalu diam maka penembakan terhadap WNI seperti ini tidak akan menemui titik akhir.”

Kasus berulang

Menurut Anis pemerintah mestinya melandasi pembelaan pada prinsip hak asasi manusia dalam menghadapi langkah kepolisian Malaysia.

Aparat setempat menurut Anis kerap menembak TKI dengan dalih sasaran adalah pelaku kriminal.

Menurut catatan Migrant Care, Kepolisian Diraja Malaysia juga menembak hingga tewas tiga WNI bernama Herman, Abdul Kadir Jaelani, dan Mad Noon karena dituduh berniat merampok April lalu.

Dalam kasus ini Indonesia meminta prosedur penembakan tersebut disekidiki dan diperiksa.

Sementara data yang dikumpulkan para aktivis HAM dan pekerja migran menyebutkan penembakan serupa terjadi pada 2005, 2009, dan 2010.

Dari 279 orang yang tewas dalam sepuluh tahun terakhir, 113 di antaranya warga negara Indonesia.

RY – Jakartakita.Com | BBCIndonesia

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: