Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Film ‘Dibalik 98’ Menuai Protes

53

images

Jakartakita.com – Belum sempat tayang, film ‘Dibalik 98’ karya sutradara Lukman Sardi sudah menuai protes dan kritikan. Pasalnya, ada adegan dari film bergenre drama berlatar peristiwa Mei 1998 tersebut, yang tidak sesuai fakta yang terjadi, menurut para pelaku sejarah, yakni para aktivis mahasiswa 98.

Perwakilan ‎mahasiswa 98, Sayid Junaidi, yang akrab disapa Pak Cik, mengatakan pengkritisan ini dilakukan karena kegelisahan eksponen mahasiswa yang saat peristiwa Mei 1998, ikut berdemontrasi.

“Ada beberapa hal yang saya kira tidak sesuai fakta. Seperti adanya bendera elemen tertentu ‎yang terorganisir. Kita saat itu atas nama mahasiswa yang berbaur. Ada memang OKP-OKP, namun semua melebur atas nama mahasiswa,” kata Pak Cik, dalam jumpa pers di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (7/1).‎

Ditambahkan, dalam cuplikan di film tersebut memang terlihat bendera Partai Rakyat Demokratik (PRD) berkibar. Ada juga adegan di mana rektor yang menyampaikan korban dengan jumlah dan nama yang salah.

Bukan hanya itu, eksponen 98 mempermasalahkan mengapa tanggal pemutaran dilakukan pada 15 Januari yang identik dengan gerakan mahasiswa 74. Pada tanggal itu, meletus tragedi Lima Belas Januari (Malari).

Sebelumnya, ungkapan protes juga sempat disampaikan Sekjen PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivis 98), Adian Napitupulu. Ia tidak menerima jika kalangan Aktivis 98 diklaim sebagai gerakan separatis.

“Walaupun saya belum melihat isi film ‘Dibalik 98′, namun dari membaca berbagai pemberitaan di media, maka saya perlu menyampaikan protes terbuka atas penggunaan istilah yang salah kaprah. Entah sengaja atau tidak, tapi jelas istilah itu bermakna mendiskreditkan Gerakan 98 dan semua yang terlibat didalamnya,” tegas Adian.

Adian pun mempertanyakan, apakah sutradara atau produser atau siapapun yang menyatakan hal itu, mengerti arti kata separatis atau tidak. “Tapi yang jelas, penyamaan gerakan 98 dengan gerakan separatis tentu menujukan bahwa mereka yang bicara tidak mengerti arti kata separatis atau memang sengaja menggiring opini, memutarbalikan fakta bahwa gerakan 98 adalah gerakan untuk memisahkan diri dari NKRI,” jelasnya.

Sementara itu, Lili Herawati, eksponen mahasiswa 98 yang kini sebagai Wakil Ketua DPW PKB Bengkulu, menyarankan agar Lukman Sardi segera merivisi atau menunda penayangan film ‘Di Balik 98’ agar sesuai dengan sejarah peristiwa tahun ’98 yang sebenarnya.

“Masih ada beberapa hari untuk para pembuat film melakukan revisi. Kalau dianggap perlu, kami mau dijadikan narasumber. Kalau tidak, tunda dulu penayangannya, agar bisa didiskusikan bersama. Kalau film sejarah harus ada narasumbernya, apapun bentuknya harus dilakukan riset,” tutur Lili.

Sebagai informasi, film ‘Dibalik 98’ yang merupakan film terbaru garapan MNC Pictures, akan tayang di bioskop-bioskop tanah air pada 15 Januari mendatang. Film ini dibintangi oleh Chelsea Islan, Ririn Ekawati, Agus Kuncoro, Fauzi Baadilah, Dony Alamsyah, dan Amoro Katamsi.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: