Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Pecel Madiun, Menjual Sepotong Surga di Pojok Serpong-Tangerang

71

pecel madiunJakartakita.com – Lupakan sejenak keruwetan Jakarta dengan kemacetannya. Abaikan dulu rutinitas pekerjaan Anda, dengan segala macam deadline yang mendera, atau lepaskan kerisauan Anda dengan hiruk pikuk kerusuhan politik, soal pemilihan calon Kapolri, hukuman mati terpidana kasus narkoba, juga perseteruan antara Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat.

Melipirlah sejenak kepinggiran Jakarta, yang kini terus menggeliat dalam pembangunan fisiknya. Sekiranya, sejak lima tahun lalu, kondisi ‘perubahan’ fisik tata ruang kota sedang terjadi di wilayah hinterland Jakarta. Para pengembang, baik kelas kakap maupun kelas teri ikutan terlibat. Namun, sedikit saja yang menyajikan ruang hijau luas sebagai strategi point of sales-nya, apalagi sebagai strategi brand awareness-nya.

Dari sedikit pengembang tersebut, nama PT PP Properti merupakan juaranya. Hal ini terbukti dari proyek-proyek yang ditawarkan selalu mengedepankan nuansa hijau serta mengangkat nilai-nilai kearifan lokal sebagai value for money yang ditawarkan kepada setiap konsumennya.

Di wilayah Tangerang, misalnya. Walaupun ‘pertarungan’ di sini cukup sengit, mengingat banyak pengembang kakap eksis menancapkan kuku bisnis di wilayahnya ‘urang Banten’, nyatanya, terdapat ‘sepotong’ Taman Firdaus, yang memanjakan masyarakat yang singgah ke Rumah Makan Pecel Madiun, yang menjadi bagian dari proyek pembangunan The Ayoma Apartement diatas lahan seluas 10 ribu meter persegi atau satu hektar.

Berlokasi di wilayah Tangerang Selatan (Tangsel), tepatnya di Jl.Ciater Barat Raya, Rawa Buntu-BSD, Serpong, Tangerang, rumah makan ini sejatinya sudah eksis sejak satu dasawarsa lalu. Seiring perjalanan waktu, lewat mulut ke mulut, nama rumah makan Pecel Madiun jadi buah bibir dikalangan pecinta kuliner.

Adalah Ibu Soelistyowati, 75 tahun, pemilik rumah makan Pecel Madiun yang dengan ulet mencoba bertahan dari ‘serbuan’ rumah makan ber’franchise’ dan cita rasa asing, yang saat ini kian menjamur di Jabodetabek, dengan menawarkan sajian menu makanan yang otentik khas Indonesia, yaitu pecel, rawon dan lain-lain.

“Awalnya, saat pertama kali buka warung, kami cuma punya 5 meja. Sekarang ada 350-400an kursi,” kata Ibu Soelis, demikian ia akrab disapa.

IMG-20150115-WA000

Dengan menggunakan sebatang tongkat yang membantunya berdiri tegak dan berjalan, Ibu Soelis masih terlihat awet muda dan bersemangat dalam memimpin anak buahnya untuk melayani para pengunjung rumah makan seluas 4 ribu meter persegi, yang tidak pernah sepi pengunjung ini. Bahkan tak jarang dirinya bernegosiasi langsung dengan tamu yang hendak menyewa tempat ini sejak jauh-jauh hari untuk ajang kumpul-kumpul keluarga.

Jika dibandingkan dengan rumah makan lain disekitar wilayah BSD, rumah makan Pecel Madiun memang unik. Keunikannya terletak dari pintu masuk rumah makan yang ‘tidak biasa’, layaknya sebuah pintu masuk di gang rumah yang hanya seukuran satu mobil. Namun ketika pengunjung masuk, suasana ‘wah’ segera menyeruak.

Taman yang luas dan tertata rapi nan asri, sungguh memanjakan mata. Cuitan suara burung dan semilir angin yang berbisik melenakan jiwa yang lelah. Suasana inilah yang menjadi ‘jualan’-nya rumah makan ini. Padahal, menu Pecel-nya dan Rawon-nya juga tidak kalah maknyus-nya. Apalagi kesegaran es dawetnya. Hmm…bikin mata merem melek.

“Di sini rasanya tenang dan nyaman. Ploong…berasa seperti di rumah sendiri,” kata Jessica, seorang pengunjung yang baru tahu ada tempat laksana Taman Firdaus di pojokan Tangerang ini. Kebetulan ia datang bersama teman-teman kantornya yang berlokasi di daerah Puri Indah, Jakarta Barat.

_MG_5117

Padahal, tutur ibu Soelis, kebanyakan pengunjung Pecel Madiun datang dari karyawan perkantoran wilayah sekitar BSD dan sekitarnya. Namun, sekarang pengunjung yang datang sudah berasal dari banyak tempat di sekitaran Jakarta. Tidak jarang juga, dari kalangan pesohor, entah itu pejabat atau selebritis.

“Dulu yang datang dari kalangan menengah atas/pejabat dan artis-artis. Tapi sekarang sudah banyak masyarakat umum yang makan di sini,” jelasnya lagi.

Harga yang terjangkau dari menu-menu masakan di Pecel Madiun juga jadi salah satu pemicu banyaknya pengunjung yang datang. “Harganya mulai dari Rp 2000 sampai Rp30ribu,” ujar Ibu Soelis.

Adapun untuk jam operasionalnya, buka setiap hari Sabtu-Kamis, mulai dari pukul 10 pagi sampai pukul 5 sore, sedangkan hari Jumat tutup.

Kedepan, rumah makan Pecel Madiun akan menyatu dengan The Ayoma Apartement yang akan segera dibangun pengembang PT PP Properti. GM Marketing Communication The Ayoma Apartement, Djoni Satria menegaskan, nantinya di kawasan ini juga akan ditambah pilihan kuliner lain yang asli Indonesia.

“Kami tetap mempertahankan kearifan lokal dengan tidak menggusur rumah makan Pecel Madiun. Karena kami memiliki prinsip, bahwa pembangunan itu tidak identik dengan menggusur. Pembangunan tidak identik dengan meratakan tanah. Pembangunan bisa juga dengan mempertahankan kearifan lokal yang sudah ada. Seperti yang akan kami kembangkan disini,” tandas Djoni.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: