Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Salah Kaprah Arti Kata ‘Gentlemen’

132
dok: thedrum
dok: thedrum

Dalam media sosial, kita bisa menemukan beragam tipe pengguna. Status, postingan foto/video, link situs yang di-share dapat menggambarkan siapakah si pemilik akun. Namun, tidak sedikit orang biasa yang menjadi sangat luar biasa lewat pencitraan yang sukses di media sosial.

Salah satu tipe pengguna media sosial yang populer, adalah mereka si tukang komentar. Jarang posting status/foto/video, tetapi doyan komentar di postingan orang lain. Terkadang suka sekali membuat komentar yang mengundang debat kusir, walaupun pengetahuan mereka sebetulnya tidak cukup baik.

Level keberanian si tukang komentar sudah cukup tinggi untuk menjadi sosok yang selalu komentar apapun postingan si target untuk mencari perhatian. Mereka sudah tidak malu-malu lagi, menyapa, mengomentari postingan si target di media sosial. Tak jarang mereka menebar kata-kata asing agar terkesan komentarnya berbobot.

Suatu kali di Facebook, saya memposting foto pertemuan Prabowo dan Jokowi di Istana Bogor. Saya menambahkan keterangan bahwa itu adalah foto pertemuan dua ‘sahabat’ lama, sambil menyinggung peran Megawati sang bos besar partai kepala banteng sebagai orang ketiga.

Seorang teman Facebook saya mengomentari, ” jgn mngejek dgn sebutan tdk pantas bg bu mega. setiap wanita tdk pnya jiwa ‘gentlemen’ dlm mnghadapi rivalnya. wanita baik hnya gentleman brlapang dada hnya pd suaminya, ayahnya abangnya adiknya ataupun anaknya. pak prabowo sgt gentlemen pd rivalnya spt bu mega n pak jokowi. krn prabowo brsikap spt rival kpd bu mega mk bu mega tdk bs gentlemen.”

Saya pun membalasnya tak kalah seru sambil menanyakan apakah peran Megawati sang bos besar partai kepala banteng mem-plot BG sebagai kapolri adalah bagian dari rivalitasnya dengan Prabowo?

Lagi-lagi si tukang komentar membalas, “tuh kan wanita itu g pnya sikap gentlemen trmsk kau. kau mnganggap ak rival mknya yg baik n yg benar ku sampaikn pasti di salahkan”.

Apakah Anda mengerti apa yang berusaha disampaikan oleh teman saya yang tukang komentar? Dengan bahasa yang acak-acakan, singkatan sana-sini ditambah dengan kata ‘gentlemen’ yang disematkan pada sifat Ibu Megawati dan saya yang jelas-jelas perempuan. Membuat saya makin bingung sebenarnya, teman saya hendak mengatakan apa.

Saya hanya membalas singkat, “Gentlemen artinya apa? Bisa bahasa Inggris gak?”

Tampaknya teman saya yang memang hobi mengundang debat kusir mulai emosi. Dia membalas, “mngkn ipb ceroboh ya meloloskn ak jd sarjana krn ada tmn se angkatan menyepelekan keilmuan bhs inggris ku. susah debat sm wanita. laen yg diomong laen yg dibahas, cari kesalahan kecil pdhal dia tau mksdnya”.

Saya pun mengikik, dalam hati saya balas, “Sungguh kasihan IPB telah meluluskan sarjana yang bahkan tidak bisa menulis komentar sedikit terpelajar. Setidaknya tidak menggunakan singkatan banyak dan tidak asal menyematkan bahasa asing supaya terlihat hebat”.

Terus terang tulisan penuh singkatan itu mirip dengan isi sms yang dikirimkan oleh ART saya yang bukan lulusan sarjana. Tetapi saya maklum, karena itu hanya sebatas sms. Bahkan di grup masak-memasak yang saya ikuti di media sosial, akan mengeluarkan pesertanya yang memposting status penuh singkatan. Itu grup memasak yang pesertanya tidak semua lulusan sarjana. Tetapi mereka tertib berbahasa Indonesia.

Lalu apa arti ‘gentlemen’ yang merupakan bentuk plural dari ‘gentleman’ yang sebenarnya? Entah apakah teman saya itu lulus kelas Bahasa Inggris sehingga tahu perbedaan ‘plural’ dan ‘singular’.

Mari saya beritahu apa itu ‘gentleman’. Sebenarnya ‘gentleman’ itu bukan gabungan antara kata ‘gentle’ (=lembut) dan ‘man'(pria), sehingga orang suka mengartikan ‘gentleman’ sebagai ‘pria baik’. ‘Gent’ memang kata sifat yang disematkan pada pria, namun artinya tidak sesempit itu, yang berarti ‘Nobleman’ atau pria dengan nilai, karakter dan status yang tinggi.

Bahkan di Encyclopædia Britannica xvii. halaman 540 b, edisi kesembilan, mengatakan ‘gentleman’adalah tentang kualitas kesatria berkuda dan tentara kerajaan eropa pada abad. Ke-14 dan 15 pada era tersebut ‘gentleman’ adalah istilah untuk seorang kesatria yang tidak perlu kerja terus menerus untuk menghidupi dirinya dan keluarganya karena mereka selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan dari kerajaan sebab sesekali mereka ikut berperang demi membela kerajaan, bahkan mereka tidak segan-segan untuk tidak berbuat ‘gentle’ atau lembut kepada wanita yang memang tidak layak dan tidak memenuhi kriterianya. Misalkan, memperkosa wanita yang merupakan musuh kerajaan, atau bahkan membunuh.

Ah, panjang kalau saya mesti menjabarkan arti ‘gentleman’ yang sesungguhnya. Namun, dari kesemua sejarah, kamus, dan ensiklopedi yang saya baca sepakat kalau ‘gent’ itu hanya disematkan kepada jenis kelamin laki-laki, dan ‘lady’ untuk jenis kelamin perempuan. Makanya kalau di pidato bahasa Inggris, pembicara selalu menyebut ‘ladies and gentlemen’. Kata ‘lady’ and ‘gent’ memang lebih ‘classy’ atau berkelas dibanding kata ganti laki-laki dan perempuan lainnya dalam bahasa Inggris sebagai penghormatan.

Pertanyaannya sekarang, apa maksud komentar teman saya sebenarnya? Terus terang, saya dan Ibu Megawati yang jelas-jelas perempuan tulen, dibayar berapapun ogah disebut ‘gentleman’!

Pesan moral, biasakan berpikir dahulu sebelum berkomentar. Salah-salah Anda malah yang dikomentari.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: