Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Kisah Romantis Saijah dan Adinda

282

kasih tak sampaiJakartakita.com – Saijah dan Adinda merupakan salah satu kisah cinta yang paling fenomenal. Walaupun, kisah cinta ini terjadi di Banten, tetangga Batavia. Namun, kisah ini tak bisa dipisahkan dengan Batavia, atau Tanah Betawi tempo dulu, tempat Saijah merantau.

kisah yang menjadi bagian dari buku terkenal karya Multatuli alias Eduard Douwes Dekker yang berjudul Max Havelaar.Kisah ini membuka mata Eropa tahun 1860, tentang betapa buruknya sistem kolonial dan kemiskinan di Banten.

Periode tanam paksa yang dimulai sejak tahun 1830 sangat menyiksa rakyat Banten. Penderitaan rakyat Banten ditambah polah adipati Lebak dan Demang Parangkujang yang sungguh memuakkan. Petani dibebani pajak tinggi. Mereka juga merampas ternak dan hasil bumi milik rakyat seenaknya. Para penguasa yang membuat hukum berdasarkan aturan mereka sendiri.

Para birokrat pribumi, adalah kuku kekuasaan kolonial di Banten. Lewat para penguasa pribumi pemerintah Belanda menjalankan kekuasaan mereka di tanah jajahan.

Eduard Douwes Dekker membuka kisah itu dengan menggambarkan penderitaan petani Banten. Tentang Saijah kecil yang menyayangi kerbau miliknya seperti sahabat sendiri. Sayangnya kebahagiaan itu tak lama.

Kejadian tersebut terjadi berulang kali sehingga membuat ibu Saijah sedih dan kemudian jatuh sakit dan meninggal. Malang tak dapat ditolak, ayah Saijah pun juga terguncang setelah ditinggal mati istrinya dan mengalami gangguan mental. Akhirnya ayah Saijah juga pergi meninggalkan rumah dan tidak pernah kembali.

Waktu berlalu dan Saijah kini pun tumbuh dewasa. Saijah dewasa menjalin kasih dengan Adinda, yang merupakan anak tetangga Saijah. Suatu ketika, Saijah memutuskan untuk mencari pekerjaan di Batavia. Awalnya Adinda menentang keputusan Saijah, tetapi demi masa depan mereka berdua, akhirnya Adinda setuju.

Di Batavia, Saijah mendapatkan pekerjaan di rumah seorang Meneer sebagai pengurus kuda. Karena ketekunannya, Saijah diangkat menjadi pelayan kepercayaan Meneer dan memiliki tabungan yang dia peroleh dari hasil kerja kerasnya setiap hari. Saijah yang merasa sudah memiliki cukup tabungan bertekad untuk pulang ke Lampung dan menemui Adinda yang sangat dirindukannya. Namun sayangnya, majikan Saijah tidak mengizinkannya pergi. Akan tetapi Saijah tetap nekat melarikan diri dari rumah majikannya dan pulang ke kampungnya.

Sayangnya, saat tiba di kampungnya, Adinda dan keluarganya sudah pergi dari rumahnya yang porak-poranda akibat kesewenang-wenangan Demang Wirakusuma. Ternyata, Adinda dan keluarganya ikut perang gerilya melawan penjajah Belanda.

Saijah terus mencari Adinda. Sayangnya, dalam sebuah pertempuran dia menemukan Adinda sudah meninggal. Tubuhnya penuh luka akibat diperkosa tentara Belanda.

Melihat itu, Saijah mengamuk. Pemuda putus asa ini berlari ke arah sekumpulan tentara Belanda yang menghunus bayonet. Dia menghujamkan tubuhnya pada bayonet serdadu yang tajam.

Adinda dan Saijah tewas. Cinta mereka yang dulu pernah diikrarkan tak pernah bersatu. Keduanya rakyat miskin korban kolonialisme bangsa asing dan keserakahan pejabat dari bangsa mereka sendiri.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: