Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Fientje de Feniks, Kisah Tragis Sang Pelacur Batavia

386
foto: istimewa
foto: istimewa

Jakartakita.com – Belakangan ini, jagat berita nasional dihebohkan oleh penemuan mayat seorang PSK bernama Deudeuh Alfi Syahrin alias Empi alias Tataa_chubby di di kamar kosnya di Jalan Tebet 1 nomor 15 C, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan pada Sabtu (11/4/2015). Akhirnya polisi pun dapat menangkap tersangka pembunuh Deudeuh yang ternyata adalah pelanggannya sendiri.

Mundur ke belakang 103 tahun yang lalu, saat Jakarta masih bernama Batavia kisah serupa juga pernah terjadi di Batavia. Menurut berbagai sumber, pada 17 Mei 1912, Batavia dihebohkan oleh penemuan sesosok mayat wanita muda yang mati mengambang di sungai. Mayat gadis blasteran atau indo itu dibungkus karung, tersangkut pintu air.

Perempuan yang tewas itu bernama Fientje de Feniks, seorang pelacur kelas tinggi bertarif mahal. Fientje menjadi primadona pelacur di Batavia. Paras mukanya blasteran,  campuran Indonesia dan Eropa. Kulitnya putih tapi tidak pucat. Matanya bulat besar dan  hidung mancung Rambutnya panjang, hitam dan berombak. Usianya baru 19 tahun. Fientje bekerja di rumah pelacuran milik Umar.

Komandan Polisi Batavia, Komisaris Reumpol menangani kasus ini. Reumpol bertanya pada beberapa saksi antara lain teman-teman Fientje. Ia  menemukan titik terang ketika seorang pelacur, teman Fientje, bersaksi. Pelacur itu bernama Raonah, dia melihat langsung seorang pria bernama Gemser Brinkman mencekik Fientje dari sela-sela bilik bambu.

Brinkman  anggota Sociteit Concordia yang berisi pembesar-pembesar Belanda. Raonah sempat dituding berbohong dan memberikan keterangan palsu oleh pengacara Brinkman. Pengadilan bahkan sempat mengirim tim untuk mengecek tempat kejadian perkara pembunuhan di lokalisasi milik Umar.

Akhirnya majelis hakim memutuskan Brinkman bersalah dan akan dihukum mati. Brinkman pun berang dianggap bersalah, pasalnya dia adalah orang Belanda tulen sedangkan Fientje hanya pelacur Indo yang tak berharga.

Brinkman bahkan sempat sesesumbar kalau rekan-rekannya di Societet Corcondia, perkumpulan orang-orang terhormat Belanda di Batavia bakal membelanya habis-habisan. Namun, sayang anggapannya salah besar. Brinkman tetap dihukum. Namun sayang, Brinkman yang stress berat keburu mati bunuh diri sebelum eksekusi dilakukan.

Ada beberapa versi tentang pembunuhan ini.  Brinkman sebenarnya tidak membunuh Fientje saat itu juga. Tetapi dia menyuruh pembunuh bernama Silun bersama dua anak buahnya. Silun yang mencekik Fientje hingga tewas. Ternyata Brinkman belum membayarnya lunas. Dia baru dibayar persekot atau uang mukanya saja.

Sebagian pihak meyakini Brinkman membunuh Fientje karena cemburu. Dia sebenarnya sudah ingin menjadikan Fientje sebagai gundik, namun ternyata Fientje masih juga melayani laki-laki lain. Karenanya Brinkman terbakar emosi.

Ah, tragis benar nasib Fientje de Feniks. Sama tragisnya dengan Tataa_Chubby.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

IndonesianEnglishDutchChinese (Simplified)Malay
%d bloggers like this: