Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Ngarak Bedug, Tradisi Betawi di Bulan Ramadhan yang Mulai Ditinggalkan

111

Jakartakita.com – Bagi Anda warga Jakarta yang sudah lama mendiami kota Jakarta. Pasti mengenal tradisi unik yang biasa dilakukan warga Betawi saat bulan Ramadhan, Ngarak Bedug. Tradisi yang secara harfiah berarti mengarak beduk ini memang tradisi membawa-bawa bedug dengan gerobak dipukul-pukul hingga menjadi irama tertentu untuk membangunkan orang sahur.

Tapi tiap wilayah di Jakarta memiliki sebutan yang berbeda untuk tradisi ini. Masyarakat Betawi di kawasan Joglo, Condet, Buncit hingga daerah Tangerang menyebut tradisi ini dengan nama Ngarak Beduk. Adapun orang-orang Betawi yang tinggal di Jakarta Timur seperti Bekasi sering menyebutnya dengan Beduk Sahur.

Konon tradisi ini telah ada sejak ratusan tahun yang lalu di Betawi. Itu karena Jakarta di masa lalu masih terdiri dari hutan dan rawa-rawa. Jadi, untuk membangunkan sahur, orang-orang Betawi mengandalkan suara beduk.

Saat budaya Betawi telah mengalami akulturasi budaya Tionghoa. Suara bising beduk untuk membangungkan sahur diganti dengan bebunyian petasan. Namun, karena suaranya bisa membuat ‘jantungan’ akhirnya tradisi menyulut petasan untuk membangunkan sahur pun dihapus, dan diganti dengan alat-alat tradisional seperti rebana, genta, genjring, dan gendang dipilih dan dikombinasikan. Bebunyian yang indah perpaduan dari beragam alat musik ini biasanya merupakan irama lagu Betawi. Terkadang ada juga pembacaan pantun atau puisi.

Biasanya jumlah peserta dalam tradisi ini mencapai puluhan orang. Mereka memiliki tugas tersendiri. Beberapa orang menarik gerobak berisi beduk. Ada yang memukul beduk, memainkan alat musik dan ada juga yang menjadi vokalis. Terkadang ada ondel-ondel ikut serta.

Bahkan, dahulu tradisi ‘Ngarak Bedug’ sering dilombakan antar kampung. Tradisi ini menjadi hal yang paling dinantikan oleh warga Jakarta saat bulan Ramadhan tiba. Tak hanya warga muslim, warga non muslim terkadang ikut ambil bagian dalam ‘ngarak bedug’.

Namun, tradisi ini sudah amat jarang terlihat. Paling hanya di pinggiran kota Jakarta yang masih banyak didiami warga asli Betawi. Apalagi kini ada larangan menggunakan pengeras suara yang dapat menimbulkan kegaduhan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

IndonesianEnglishDutchChinese (Simplified)Malay
%d bloggers like this: