Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Penjualan Obligasi Pemerintah Menyebabkan Rebutan Dana Antara Pemerintah dan Swasta

75
Obligasi Asing
foto : istimewa

Jakartakita.com – Belakangan ini, kebijakan pembiayaan eksternal Pemerintah salah satunya diperoleh lewat penjualan obligasi Pemerintah kepada masyarakat dalam negeri.

Kebijakan ini baik untuk mengurangi utang luar negeri, tetapi secara ekonomi menimbulkan crowding out, yaitu rebutan dana antara pemerintah dan sektor swasta dalam negeri atas dana masyarakat.

Akibatnya biaya dana perbankan dan suku bunga kredit bertengger pada level yang relative tinggi.

Demikian diungkapkan Agus Tony Poputra, Ekonom dari Universitas Sam Ratulangi, melalui surat elektronik yang diterima Jakartakita.com, belum lama ini.

Menurutnya, cara untuk mengatasi crowding out adalah melalui pembelian obligasi pemerintah oleh Bank Indonesia (BI). Ini mirip dengan kebijakan quantitative easing yang diterapkan oleh bank sentral AmerikaSerikat, namun yang dibeli adalah obligasi pemerintah, bukannya surat berharga perusahaan.

Cara ini lebih efektif ketimbang BI membeli surat berharga perusahaan sebab dana tersebut dapat mudah mengalir keluar negeri oleh perusahaan-perusahaan penerima stimulus. Akibatnya, kata dia, dampak positif quantitative easing menjadi lambat terwujud sebagai mana dialami AmerikaSerikat.

“Quantitative  easing lewat pembelian obligasi pemerintah oleh BI akan mengurangi aliran dana keluar negeri dan membuat pemerintah dapat memperbesar dan mempercepat realisasi belanja,” jelasnya.

Dengan demikian, lanjutnya, dapat menutup penurunan daya beli masyarakat sekaligus dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

Lebih lanjut dikatakan, dana untuk membeli obligasi pemerintah dapat diperoleh BI lewat pencetakan uang. Kebijakan ini dapat meningkatkan inflasi namun sepanjang hal tersebut dilakukan secara terukur, maka dampak inflasinya tidak besar dan dapat ditutup oleh peningkatan pendapatan masyarakat dari stimulus belanja pemerintah.

“Selain itu, dalam konteks ekonomi secara luas, lebih baik terjadi peningkatan inflasi secara terkendali dibanding terjadi resesi ataupun depresi karena efek negatif resesi dan depresi jauh lebih berat,” tandasnya.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: