Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Gue Lo End!

87

Dalam sebuah hubungan percintaan, seringkali tak berjalan mulus layaknya jalan tol. Terkadang harus melewati jalan yang terjal, berkerikil, berkelok, turun naik, bahkan jurang yang sangat dalam.

Sangat jarang terjadi hubungan percintaan yang adem ayem tanpa gejolak. Selisih paham adalah hal biasa dari dua orang yang saling bercinta. Dua orang berbeda latar belakang harus berkomitmen untuk saling menjaga api cinta.

Jangankan orang yang berbeda keluarga, saudara kandung saja bisa berselisih paham. Karena setiap manusia diciptakan unik, isi kepala dan hati yang berbeda. Yang menyatukan mereka hanya kesadaran untuk saling menjaga komitmen yang sudah dibuat, entah itu pacaran ataupun pernikahan.

Banyak orang yang sudah melewati masa pacaran yang sangat lama sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Namun sayang, pernikahan mereka justru malah hanya seumur jagung. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang memutuskan untuk menikah tanpa buang-buang waktu pacaran, namun ternyata pernikahan mereka justru langgeng. Yah, memang tidak ada yang bisa menjamin lamanya berpacaran memungkinkan kita punya cukup waktu untuk mengenal pasangan. Yakinlah, selama apapun Anda berpacaran, tidak menjamin Anda mengenal pasangan Anda dengan baik!

Pria dan wanita yang sedang berpacaran akan bersolek sedemikian rupa sebelum menemui sang pujaan hati. Mana mungkin ‘nge-date’ dengan muka kucel belum mandi, bau ketek plus bau mulut.

Tutur kata dan sikap pun dijaga sedemikian rupa demi menjaga kelanggengan hubungan pacaran. Sang kekasih tidak pernah tahu kalau sang pria pujaan hatinya adalah tukang kentut, super jorok, dan punya kebiasaan yang aneh.

Bukan hal aneh jika sang pacar khususnya pria menghujani kekasihnya dengan hadiah dan uang. Cobalah tunggu saat sudah berumah tangga, apakah si dia masih sedemikian royal menghujani Anda dengan hadiah dan uang? Karena saat menikah, ada banyak yang harus dibiayai. Tidak hanya sekedar mentraktir makan malam romantis, menonton film di bioskop atau hadiah ulang tahun yang mewah. Dan masih banyak lagi sederet kenyataan manis yang hampir mustahil terjadi saat Anda sudah menikah.

Alhasil tidak sedikit pernikahan yang berakhir lebih cepat dari lamanya waktu pacaran. Alasan klasik, “Dia sudah berubah”.

Well, sejatinya tidak ada yang berubah. Hanya saja saat pacaran semua memakai topeng untuk kamuflase. Bisa dibayangkan kalau dari awal pacaran sudah menampakan aslinya, mungkin baru hitungan jam Anda sudah berani memutuskan, “Gue Lo End!”

Selalu ada waktu untuk semua kepalsuan terbongkar. Beberapa memilih membongkarnya saat mulai serius menjalin cinta, beberapa ingin terus menutupinya sampai mendapatkan sang gadis, entah melalui pernikahan atau merampas kegadisannya.

Belakangan ini saya bertemu dengan teman-teman masa kecil saya yang membuat saya jadi berpikir panjang. Kebetulan kesemua teman-teman saya itu adalah perempuan yang punya karir hebat namun punya hubungan cinta yang kurang beruntung. Yah, mereka semua sudah bercerai. Bahkan ada beberapa perempuan yang sudah bercerai lebih dari dua kali.

Saya pun mencoba bertanya apa gerangan yang membuat mereka memilih berpisah. Ada yang beralasan perbedaan prinsip, tidak ada tanggung jawab dari pria, dan bahkan kehadiran orang ketiga.

Saya sebenarnya kurang sependapat dengan alasan perbedaan prinsip. Seberbeda apa hingga harus pilih jalan masing-masing setelah sekian lama bersama? Bukankah masih ada waktu untuk saling memahami perbedaan yang ada? Namun, saya akan angkat tangan kalau perbedaan yang terjadi adalah perbedaan keyakinan. Di agama saya, tidak ada kamus pernikahan beda agama. Dan sepertinya akan semakin banyak perbedaan kalau perbedaan paling prinsipil ini tetap dipaksakan untuk sama. Bagaimana nanti kalau ada anak?

Bagaimana dengan alasan tidak ada tanggung jawab dari pria?

Yah namanya juga hidup, roda terus berputar. Terkadang kita berada di atas terkadang berada di bawah. Di era modern ini, bukan hal aneh kalau karir istri bisa lebih melesat dibanding karir suami. Namun sayangnya terkadang kala perempuan berada di atas, muncul ego kaum pria yang tidak ingin disaingi oleh sang istri yang harusnya dinafkahi. Kesenjangan penghasilan bisa memicu depresi sang suami.

Salah seorang teman saya pernah bercerita, ia tidak henti-hentinya dimaki atau dicemburui kalau pulang kantor sedikit telat. Bahkan terkadang hal sepele saja bisa menjadi besar karena emosi sang suami yang kebetulan pengangguran menjadi labil. Padahal sang istri mati-matian harus ambil lembur demi menghidupi keluarganya.

Beberapa teman saya memilih bertahan meski capek hati dan raga. Namun, ada juga yang akhirnya menyerah memilih jalan masing-masing walau sudah memiliki buah hati.

Yang kurang ajarnya ada juga tipe suami pengangguran atau berpenghasilan kecil tidak mampu menafkahi istri, doyan memaki-maki dan selingkuh.

“Kok bisa-bisanya ya laki-laki tak tahu malu, numpang hidup kemudian berselingkuh?” begitu kata teman saya dengan berapi-api memaki sang mantan.

Dan masih banyak alasan lainnya yang terlalu panjang untuk dijabarkan.

Beruntungnya teman-teman saya itu punya karir yang bagus. Jadi mereka tidak terlalu takut untuk mengambil keputusan, di saat banyak wanita di luar sana pasrah walau dimaki, diselingkuhi dan tidak dinafkahi oleh sang suami karena mereka tidak punya penghasilan sendiri.

Terlepas dari itu semua, semua teman saya yang akhirnya memilih bercerai mengakui bahwa tidak ada yang pernah bermimpi pernikahannya akan kandas. Kalau boleh memilih, mereka pun tak ingin bercerai. Apalagi stigma buruk sering disematkan oleh masyarakat kepada mereka para janda, apalagi janda muda.

Sungguhpun pencarian cinta pasca perpisahan yang menyakitkan tidak akan semudah ketika dahulu masih lajang. Namun, para teman saya ini sepakat tidak akan trauma. Mereka tetap membuka hati, walau tidak terburu-buru.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: