Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Ini Dia 7 Film Perjuangan Paling Fenomenal

137

Jakartakita.com – Beberapa tahun belakangan, Indonesia kekurangan film bertema perjuangan. Bukan hanya langka tetapi malah nyaris tidak ada. Padahal film bertema perjuangan adalah cara paling praktis untuk mengajarkan sejarah perjuangan bangsa kepada para generasi muda.

Mengapa banyak sineas  kurang tertarik memproduksi film bertema perjuangan? Selain butuh dana yang cukup besar karena biasanya film bertema perjuangan bersifat kolosal, peminat film tersebut tidak terlalu banyak. Itulah mengapa para produsen film lebih suka memproduksi film bergenre romantis atau komedi sekalian.

Jelang HUT Kemerdekaan RI ke-70 yang tinggal menghitung hari. Jakartakita.com mengajak para pembaca bernostalgia pada sejumlah film perjuangan yang sempat menjadi fenomenal. Film apakah itu? Yuk simak 7 film perjuangan paling fenomenal versi jakartakita.com:

foto: istimewa
foto: istimewa

1. Janur Kuning (1979)

Film ini adalah film perjuangan paling fenomenal. Pasalnya, film ini sedikit banyak berhasil menggambarkan serangan umum 1 Maret yang dipimpin oleh Letkol Soeharto. Film yang disutradarai oleh Alam Rengage Surawidjaya, dibintangi Kaharuddin Syah, Deddy Sutomo, Dicky Zulkarnain ini menceritakan  perebutan kembali kemerdekaan oleh pasukan sekutu saat episode enam jam di Yogya. Tokoh nyata yang diangkat diantararanya Soeharto, Jenderal Sudirman dan Amir Murtono.  janur kuning adalah lambang yang dipakai para pejuang di lengan sebagai lambang perlawanan. Namun sayang film ini penuh dengan propaganda Soeharto. Banyak tokoh penting dalam serangan umum 1 Maret yang malah tidak terlihat di film tersebut. Itulah mengapa sejak  bulan September 1998, pasca jatuhnya Soeharto film ini, bersama dengan film Serangan Fajar dan Pengkhianatan G 30 S PKI  tak lagi menjadi film wajib tonton. Karena dianggap sebagai film propaganda yang mengkultuskan Soeharto seolah-olah sebagai pahlawan paling berjasa.

foto: istimewa
foto: istimewa

2. Serangan Fajar (1981)

Film yang disutradarai Arifin C. Noer ini menampilkan beberapa fakta sejarah yang terjadi di daerah Yogyakarta.Peristiwa-peristiwa patriotic itu di antaranya penaikkan bendera Merah Putih di Gedung Agung, penyerbuan markasJepang di Kota Baru, penyerbuan lapangan terbang Maguwo dan seranagn beruntun di waktu fajar ke daerah sekitarsalatiga, Semarang. Ada juga cerita Temon (Dani Marsuni), anak laki-laki kecil yang masih lugu ini tampil disela-selaperang bersama neneknya (Suparmi). Room (Amoroso Katamsi) dari keluarga bangsawan ikut gigih membantu pejuang.Sementara istrinya selalu takut kehilangan kasta sebagai bangsawan, karena salah satu anaknya menjalin cinta denganseorang pemuda pejuang dari rakyat jelata.

foto: istimewa
foto: istimewa

3. November 1828 (1979)

Film yang disutradarai oleh maestro perfilman Indonesia, Teguh Karya ini dibintangi oleh sejumlah aktor watak ternama saat itu. Mulai dari Slamet Rahardjo, Maruli Sitompul, Yenni Rahman, El Manik, dan Sunarti Suwandhi. Film drama historikal ini mengambil potongan kisah dari masa perjuangan Pangeran Diponegoro dan Sentot Prawirodirdjo dua pahlawan nasional.

Berkisah tentang sebuah desa yang menolak diduduki oleh Belanda, tak hanya menggugah rasa nasionalisme, film ini juga menyoal soal identitas budaya setempat. Dengan biaya mencapai Rp 240 juta, angka yang sangat besar pada masa itu untuk sebuah produksi film film ini dinilai sukses, bahkan sampai meraih enam Piala Citra, penghargaan perfilman tertinggi di tahun 1980-an.

foto: istimewa
foto: istimewa

4. Naga Bonar (1987)

Film yang disutradarai oleh MT Risyaf dengan naskah yang dibuat oleh Asrul Sani ini, mengambil setting Sumatera Utara. Kisahnya tentang Naga Bonar yang diperankan Deddy Mizwar, pencopet yang terpaksa menjadi jenderal dalam perang kemerdekaan.

Lucunya dengan kelihaiannya Naga Bonar malah berhasil mengelabui Belanda dan merebut senjata. Ada sedikit bumbu percintaan di film ini tentan bagaimana Naga Bonar berusaha merayu Kirana sang kekasih hatinya.  Film ini sempat diajukan menjadi film berbahasa asing terbaik pada Academy Awards ke 60, namun akhirnya tidak jadi dinominasikan.

foto: istimewa
foto: istimewa

5. Tjoet Nja’ Dhien (1988)

Mengambil pengalaman satu sosok pahlawan perempuan ternama di Indonesia film Tjoet Nja’Dhien juga dinilai sukses. Disutradari oleh Eros Djarot  dan Alwin Abdullah film ini juga diperankan oleh sejumlah aktor kawakan saat itu. Mulai dari Christine Hakim sebagai Tjoet Nja’Dhien, Slamet Rahardjo sebagai Tengku Umar, Piet Burnama, dan Rudy Wowoor.

Mengambil satu episode perjuangan sang pahlawan, pada Festival Film Indonesia 1988, film ini meraih Piala Citra sebagai film terbaik. Tak hanya berjaya di dalam negeri, film ini juga sempat diajukan sebagai nominasi film berbahasa asing terbaik pada Academy Awards ke-62 di tahun 1990 yang sayangnya tidak lolos. Film ini jadi film Indonesia pertama yang ditayangkan di Festival Film Cannes pada tahun 1989.

foto: istimewa
foto: istimewa

6. Surabaya 45 (1990)

Film ini berdasarkan kisah nyata di Surabaya saat merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Dalam pertempuran ini banyak Arek Suroboyo yang gugur. Yang kemudian terkenal dengan sebutan peristiwa 10 November.Film ini dimulai ketka Jepang kalah perang dan proklamasi kemerdekaan Indonesia berkumandang di radio-radio.Ketika pasukan Inggris yang tiba di Surabaya, masyarakat menerima, sebab pasukan Inggris datang untuk melucutitentara Jepang. Masalah-masalah muncul ketika Inggris tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Pemuda-pemudaSurabaya pun angkat senjata melawan Inggris.Film garapan Imam Tantowi ini cukup unik, karena ada lima bahasa yang digunakan dalam dialog para pemain. Yaitu ;Indonesia, Inggris, Jepang, Belanda, dan bahasa Jawa. Film yang menghabiskan biaya sekitar 1,8 Milyar rupiah ini dibintangi Usman Effendy, Leo Kristi, Tuty Koesnender dan Juari Sanjaya. Film ini juga mendapat piala Citra FFI 1991 untuk sutradara Terbaik dan penghargaan Dewan Juri FFI 1991 untuk Film yang menggambarkan semangat juangIndonesia.

foto: istimewa
foto: istimewa

7. Trilogi Merdeka (2009-2011)

Terdiri dari tiga film, yakni Merah Putih, Darah Garuda dan Hati Merdeka, merupakan karya sutradara Yadi Sugandi. Film ini diproduseri secara patungan antara Conor Ally dan  Media Desa Indonesia salah satu perusahaan milik Hashim Djojohadikusumo, menggaet aktor-aktor ternama saat itu. Mulai dari Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Darius Sinathriya, Zumi Zola dan Rahayu Saraswati.

Berbiaya Rp 20 miliar tiap film ini tercatat sebagai film yang  berbiaya terbesar. Film ini mengambil genre fiksi historis, dengan setting perjuangan tahun 1947, saat Agresi Militer Belanda I di ibukota Republik Indonesia yang saat itu berada di Yogyakarta. Ceritanya seputar persahabatan beberapa pria yang berteman sejak sekolah militer di Semarang hingga akhirnya mereka melakukan perang gerilya dari pedalaman hutan melawan Belanda.

Nah, apa film favorit Anda?

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: