Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

SKSD…

129
foto: istimewa
foto: istimewa

Ping!!! Tiba-tiba ponsel saya berbunyi, pertanda sebuah pesan singkat masuk. Tidak sekali, tetapi berkali-kali.

“Assalamualaikum…

Bu, apakabar?

Lo masih inget gue gak? 

Ini Dina…

Btw, sekarang kegiatannya apa?”

Saya pun tergoda untuk mengintip pesan singkat dari siapakah itu. Dina? Dina siapa ya? Saya pun mengernyit berusaha mengingat-ingat sesosok foto anak kecil yang mungkin saja itu anak dia. Saya sama sekali tidak punya sedikitpun petunjuk si bocah lucu itu mirip siapa.

“Dina? Dina siapa ya?” tanya saya.

“Dina Larasati…Ya Allah masak lo lupa ama gue. Gue kan yang….” bla..bla… Dina pun menjelaskan tentang dirinya dengan sejelas-jelasnya. Saya pun tertawa bahagia. Bahagia karena Dina yang merupakan teman lama saya dahulu masih di kampus masih ingat saya.

Tentu saja saya ‘ge-er’. Pasalnya, saya dan Dina sebenarnya dahulu tidak terlalu akrab berteman. Hanya sebatas teman sekelas tetapi hampir tidak pernah terlibat diskusi panjang layaknya dengan teman-teman akrab lainnya. Dan setelah hampir sepuluh tahun berpisah dari kampus, dia masih ingat saya. Luar biasa! Semoga saja Dina tidak hendak menjadikan saya downline di bisnis MLM-nya, atau menjadikan saya target penjualan produk investasinya seperti kebanyakan teman lama yang tiba-tiba menghubungi saya.

Namun kecurigaan saya segera lenyap. Karena Dina sama sekali tidak menyinggung tentang hal itu. Dia banyak bercerita tentang hidupnya begitupun dia selalu antusias mendengar cerita saya.

Tak puas hanya chatting, Dina pun tak segan-segan menelpon saya. Kami mengobrol tentang apa saja. Tentang masa-masa indah dahulu di kampus, tentang hidup, tentang anak dan pasangan hidup. Beberapa hari berikutnya Dina dan saya benar-benar menjadi teman akrab. Dina pula yang mengajak saya untuk bergabung di grup kampus.

Hingga pada suatu hari, saat usia pertemanan kami setelah berpisah belum juga berbilang bulan. Dia pun menelpon saya.

“Bu…boleh minta tolong tidak?”

“Minta tolong apa? Gue akan coba bantu kalau emang bisa”, Saya masih belum curiga.

“Mmmhhhh…”

“Apa? Bilang aja! Kalau gue bisa bantu ya gue bantu kalau gak ya gak. Tumben amat lu sok malu-malu. Biasanya cablak”. Saya pun meyakinkan dirinya.

“Gue mau minjem duit 10 juta aja. Mendesak banget, tapi gue janji seminggu pasti gue balikin”. Pintanya yang membuat saya mesti menelan ludah. Astaga, Dina? Tidak sangka Dina berani meminta sesuatu di luar dugaan saya.

“10 juta??? Gile lu! Buat apa coba?”

“Iya gue butuh banget. Ada keperluan mendesak kebetulan piutang gue belum ketagih semua. Gue butuh cuma seminggu doang kok. Minggu depan klien gue janji mau bayar”. Dina pun berusaha meyakinkan saya kalau dia cukup kredibel untuk dipinjami uang. Ya saya dengar Dina memang pengusaha. Saya yang juga sedang merintis usaha tahu persis bagaimana rasanya tidak punya cash sama sekali saat piutang tak tertagih. Tetapi saya lebih memilih menahan diri untuk bokek atau memilih bank sebagai pelarian.

Kebetulan itu adalah minggu-minggu bokek saya. Rekening untuk konsumsi pribadi nyaris ludes. Dan tak mungkin mencairkan tabungan masa depan. Jadi saya bisa beralasan.

“Yahhh….gue lagi bokek! Gajian masih lama. Kagak ada cash lah gue. Sorry banget ya…kali ini gak bisa bantu”. Saya pun beralasan.

“Yah gak apa deh…”  Dina terdengar kecewa.

“Btw thank you ya….sorry juga gangguin lo….” Dina pun buru-buru mengkoreksi nada bicaranya agar terdengar ceria. Dia pun menutup telepon.

Setelah kejadian itu, Dina masih bersikap baik kepada saya. Saya dan dia pun masih saling bicara dengan asyik. Hingga suatu hari, Dina kembali menghubungi saya untuk minta pinjaman lagi.

“Bu….sorry ganggu lagi. Kali ini gue bener-bener butuh. Kalau ada dan berkenan gue mau pinjem sejuta aja, minggu depan gue ganti. Janji! Gue butuh banget buat bayar sekolah anak.”

Saya saat itu tidak bisa bohong, karena saya memang sedang memegang uang.

“Ok…mana rekening lo?”

“Makasih ya bu….Gue janji bakal bayar paling lambat minggu depan”. 

“Ok….tuh dah gue transfer…”

“Makasih ya bu…”

Dan sejak saat itu Dina menghilang. Dina tak lagi rajin menyapa saya. Dia pun sepertinya sudah menjadi anggota pasif di grup whatsApp kampus kami. Padahal dulu dia adalah salah satu bintang yang membuat grup kami hidup. Saya pun masih positive thinking kalau Dina sedang sibuk. Mungkin bisnisnya sedang laris manis.

Seminggu berlalu saya masih mendiamkan. Dua minggu saya mencoba peruntungan saya untuk menagih utang. Dan dia pun hanya memberikan janji manis. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan. Berkali-kali saya tagih dia pun masih memberikan janji manis bahwa akan segera mengembalikan. Entah kapan.

Nyaris lima bulan saya hampir mengikhlaskan, sampai kemudian suatu hari saat saya berbincang dengan salah seorang teman, Reni. Reni bercerita kalau Dina juga mau meminjam uang darinya, dan beberapa teman juga dimintai namun uang tak kembali. Glek!

Saya yang nyaris mengikhlaskan langsung mendidih. Saya pikir hanya saya yang dimintai pinjaman, Ternyata ini hampir semua teman yang saya kenal menjadi targetnya. Ahh… Kalau begitu pasti ada yang tak beres.

Saya pun tergoda untuk mensurvei siapa saja yang pernah didekati Dina. Siapa yang sudah meminjami Dina, berapa jumlah nominal dan apakah sudah kembali. Dan hasilnya sungguh mencengangkan. Modus operandi sama, meminjam tergesa dan berjanji akan mengembalikan dalam waktu seminggu paling lama. Dan semuanya hanya janji manis.

Ah…Dina! Jadi selama ini dia bersikap sok kenal sok dekat (SKSD) kepada saya karena ada maunya?

Sepertinya kasus Dina, akan menjadi pelajaran berharga bagi saya untuk tidak lagi percaya dengan siapapun yang tiba-tiba bersikap SKSD kepada saya.

(Disclaimer: Rubrik “Jakarta Kita” adalah kumpulan artikel non formal yang lebih bersifat opini atau fiksi bukan bagian dari berita resmi jakartakita.com)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

IndonesianEnglishDutchChinese (Simplified)Malay
%d bloggers like this: