Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

7 Ritual Memanggil Hujan di Indonesia

126

Jakartakita.com – Musim kemarau sudah beberapa bulan belakangan melanda Indonesia, tak terkecuali di wilayah Jabodetabek. Teriknya matahari tak pernah absen menemani aktivitas warga Jakarta dan sekitarnya. Akibat hujan yang tak kunjung turun, sejumlah daerah termasuk Jakarta mengalami kesulitan air. Diperkirakan situasi ini akan berlanjut hingga sekitar bulan November-Desember 2015. Itu berarti kita masih harus bersabar paling tidak dua bulan ke depan.

Meski begitu bukan berarti manusia tidak bisa berupaya untuk memanggil hujan, salah satunya dengan melakukan shalat istisqa secara berjamaah di tanah lapang yang dilakukan umat muslim akhir-akhir ini. Menurut laporan hujan pun turun di beberapa wilayah yang melakukan shalat istisqa.

Selain shalat istisqa, ternyata ada beberapa ritual aneh bin unik yang dilakukan di sejumlah wilayah di Indonesia untuk memanggil hujan. Konon ritual tersebut sudah dilakukan turun-temurun. Meski ritual tersebut tidak selalu sukses memanggil hujan, namun ritual tersebut sukses memanggil turis asing dan lokal untuk melihat dari dekat. Berikut jakartakita.com rangkumkan untuk Anda:

foto: istimewa
foto: istimewa
  • Shalat Istisqa. Bagi umat Islam, jika hujan tidak turun, dan suatu daerah tertimpa kekeringan, maka disunnahkan keluar menuju tanah lapang untuk shalat Istisqa’ (memohon hujan). Kemudian seorang imam melakukan shalat dua raka’at bersama masyarakat. Setelah itu dia memperbanyak do’a dan istighfar sambil merubah letak syal (selendang) nya dan menjadikan bagian kanannya di atas bagian kirinya.
foto: istimewa
foto: istimewa
  • Manten Kucing atau penganten kucing adalah ritual memanggil hujan di Tulungagung, khususnya di Desa Palem. Caranya, sepasang kucing akan dinikahkan secara simbolis di sebuah Coban Kromo. Prosesi manten kucing ini cukup megah, hampir mirip dengan pernikahan manusia.
foto: Antara
foto: Antara
  • Cowongan. Masyarakat Banyumas mengenal ritual cowongan sebagai tradisi memanggil hujan. Konon ritual yang sudah dilakukan turun-temurun ini untuk merayu para bidadari agar membantu. Makanya peserta ritual ini biasanya wanita. Untuk prosesi ini, warga bisa menyiapkan siwur (gayung dari tempurung kelapa) untuk kemudian disusul pembacaan mantra.
foto: istimewa
foto: istimewa
  • Ojung. Ritual yang berasal dari Bondowoso ini diawali dengan tarian Topeng Kuna dan Rontek Singo Wulung. Puncak dari ritual ini adalah pertandingan adu rotan yang dilecutkan ke tubuh. Pesertanya terdiri dari pria dewasa mulai dari usia 17 hingga 50 tahun. Selain untuk memohon hujan, ritual ini juga dimaksudkan untuk menolak bala bagi masyarakat desa sekitar.
foto: istimewa
foto: istimewa
  • Unjungan. Masyarakat Purbalingga dan Banjarnegara mengenal ritual unjungan atau adu pukul menggunakan rotan yang dilakukan kedua pria sebagai salah satu upaya untuk memanggil hujan. Sebelum beradu pukul berlangsung biasanya pemain Unjungan akan menari terlebih dahulu dangan iringan musik, setelah musik selesai barulah mereka beradu. Ritual ini akan terus dilakukan jika hujan belum juga turun, namun jumlahnya dihitung secara ganjil. Apabila setelah tiga kali dilaksanakan masih belum turun hujan, maka Unjungan dilaksanakan lagi sebanyak tujuh kali, begitu seterusnya.
foto: istimewa
foto: istimewa
  • Cambuk Badan Tiban. Selain manten kucing ternyata masyarakat Tulungagung juga mengenal tradisi memanggil hujan dengan cara saling cambuk badan pria. Konon tradisi dari Desa Wajak, Boyolali, Tulungagung ini dahulu dilakukan oleh Tumenggung Surotani II untuk mencari bibit prajurit yang tangguh, namun seiring pergeseran zaman, tradisi Cambuk badan tiban dijadikan cara untuk mendatangkan hujan bagi warga setempat. Darah yang keluar akibat dari cambukan inilah yang dipercaya warga akan mendatangkan hujan.
foto: istimewa
foto: istimewa
  • Gedub Ende. Tradisi yang dikenal di Pulau Bali ini hampir serupa dengan ritual Ojung dan Unjungan di Pualau Jawa. Kedua pria ‘pilihan’ saling mencambuk badan dengan menggunakan rotan atau ‘ende’. Mereka boleh menangkis ende dengan menggunakan ‘gedub’. Dalam pertarungan Gedub Ende ada seorang wasit yang bernama Saye. Wasit inilah yang nantinya memberikan peringatan kepada pemain yang melakukan pelanggaran. Darah yang ditimbulkan dalam pertarungan Gedub Ende diyakini warga akan mendatangkan hujan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: