Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Mitos Seputar ‘Sunat’

431
foto: istimewa
foto: istimewa

Jakartakita.com – Sirkumsisi, khitan atau yang biasa dikenal sebagai sunat merupakan pembedahan untuk menghilangkan sebagian kulit yang menutupi kepala penis. Sunat memiliki dampak positif terhadap kesehatan dan kebersihan, selain tradisi ini merupakan perintah dari ajaran adat maupun agama.

Namun sayangnya, masih banyak mitos yang beredar di tengah-tengah masyarakat. Tak hanya mitos yang sepertinya ada kaitannya dengan kesehatan, tetapi juga mitos yang menjurus ke arah takhayul.

Yuk, kita intip sejumla mitos seputar sunat yang beredar di tengah masyarakat kita!

Mitos 1: Salah memilih hari untuk sunat bisa sial.

Ada kepercayaan di tengah-tengah masyarakat yang mengharuskan sunat dilaksanakan pada hari yang telah diperhitungkan wetonnya, dan lainnya. Kalau ini dilanggar maka akan mendapat sial seumur hidup. Benarkah demikian?

Tentu saja semua hari itu baik untuk sunat. Dalam ajaran Islam tidak ada kriteria khusus kapan hari baik untuk sunat.

Mitos 2: Tidak boleh menangis saat sunat.

Sebagian orang tua melarang anaknya untuk menangis ketika proses sunat berlangsung. Sebenarnya hal ini sah-sah saja. Namun yang keliru adalah ketika hal ini dikaitkan dengan keyakinan tertentu. Seperti yang tersebar di sebagian masyarakat kalau ketika disunat menangis nanti anak tersebut akan mendapat jodoh janda. Tentu saja ini takhayul!

Mitos 3: Prosesi sunat tidak bisa dilakukan berbarengan dengan saudara kandung.

Konon katanya jika hal tersebut dilakukan maka salah satu di antara mereka ada  yang bermasalah dengan hasil sunatnya. Tentu saja hal tersebut salah besar! Karena kesembuhan pasca sunat tidak dipengaruhi oleh kondisi kesehatan, perawatan luka, serta faktor nutrisi anak yang disunat. Jadi jika ada saudara kandung yang disunat dalam waktu bersamaan, hal ini tidak masalah dan tidak akan mempengaruhi penyembuhan luka pada salah satu anak.

Mitos 4: Mengubur bagian kulit yang dipotong.

Sebagian orang tua yang anaknya disunat meminta agar bagian kulit penis yang dipotong untuk dibawa pulang dan dikubur agar tidak mendapat sial. Padahal ini adalah keyakinan bodoh!

Mitos 5: Setelah sunat, pertumbuhan anak jadi lebih cepat
Faktanya pertumbuhan seorang anak tidak berhubungan langsung dengan sunat. Faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan adalah hormon, gizi dan keturunan. Dan kebetulan di Indonesia, anak laki-laki baru disunat usia 10-12 tahun menjelang masa akil baligh. Dan pada usia tersebut, pertumbuhan anak laki-laki memang pada puncaknya.

Mitos 6: Tidak boleh makan telur dan daging setelah sunat
Mitos ini salah. Karena justru makanan tersebut mengandung protein tinggi yang berperan penting dalam proses penyembuhan luka. Manfaat protein adalah untuk membentuk jaringan sel yang rusak dan berperan dalam tumbuh kembang anak.

Mitos 7: Ada anak yang disunat jin
Ini sudah jelas salah. Fenomena seperti ini bisa dijelaskan secara medis. Anak yang mengalami kejadian seperti disunat jin dalam istilah medis disebut parafimosis. Parafimosis adalah  kelainan bentuk penis yang terjadi karena preputium yang tertarik ke belakang dan melipat serta menjerat batang penis sehingga tidak bisa lagi ditarik ke depan yang menyebabkan kepala penis terlihat seolah-olah seperti telah disunat. Kondisi yang menyebabkan terjadinya parafimosis antara lain faktor setelah ereksi, menarik penis terlalu kuat pada saat mau kencing, atau karena penis sering dibuat main-main pada anak sehingga menyebabkan kulup yang tertarik tidak bisa kembali lagi.

Anak yang mengalami kondisi ini harus segera disunat untuk mencegah agar kulup tidak menjerat penis. Jika tidak dikhitan, dikhawatirkan akan menjerat penis dan mencegah aliran darah sehingga menyebabkan edema (bengkak) dan kematian jaringan penis. Sebaiknya segera hubungi dokter apabila ada anak yang menagalami kejadian seperti ini.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

IndonesianEnglishDutchChinese (Simplified)Malay
%d bloggers like this: