Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Kawasan ‘Esek-Esek’ Kalijodo Sudah Dikenal Sejak Zaman Batavia

36
foto: istimewa
foto: istimewa

Jakartakita.com – Bisnis ‘esek-esek’ atau prostitusi adalah bisnis tertua yang ada di muka bumi. Menurut sejarah Jakarta, bisnis lendir ini sudah ada sejak VOC menguasai Batavia abad ke 17. Hal ini dikarenakan jumlah perempuan Eropa dan Cina di Batavia lebih sedikit dibandingkan jumlah prianya saat itu.

Bahkan, sejak masa J.P. Coen pun telah berkembang praktik-praktik prostitusi walaupun secara tegas ia tidak setuju dengan praktik-praktik semacam itu. J.P. Coen sendiri bahkan pernah menghukum putri angkatnya, Sarah, yang ketahuan “bermesraan” dengan perwira VOC di kediamannya. Sang perwira itu dihukum pancung, sedangkan Sarah didera dengan badan setengah telanjang. Walaupun Coen secara tegas menolak prostitusi, kenyataannya ia dan pengganti-penggantinya kemudian tidak mampu membendung berkembangnya prostitusi dan prostitusi merupakan masalah klasik yang dihadapi Batavia seiring dengan perkembangan kota ini.

Awalnya masyarakat Betawi menyebut pelacur dengan sebutan ‘cabo’. Kata ini berasal dari bahasa Cina ‘Caibo’ yang kurang lebih berarti wanita malam. Awalnya memang bisnis prostitusi banyak dijalankan oleh pendatang dari Cina.

Menurut sejarawan Betawi, Ridwan Saidi, tempat konsentrasi prostitusi pertama di Jakarta adalah di kawasan Macao Po, yaitu berupa rumah-rumah tingkat yang berada di depan stasiun Beos (sekarang stasiun Jakarta Kota). Disebut demikian karena para pelacurnya berasal dari Macao yang didatangkan oleh para germo Portugis dan Cina untuk menghibur para tentara Belanda di sekitar Binnenstadt (sekitar kota Inten di terminal angkutan umum Jakarta Kota sekarang).

Macao Po ini menyediakan para ‘cabo’ kelas atas dengan bayaran sangat mahal, yang memang diperuntukkan buat para pejabat VOC yang suka main perempuan. Tak hanya para koruptor dari kalangan pejabat VOC, para pengusaha Tionghoa juga merupakan pelanggan tetap lokalisasi yang sebagian besar pelacurnya impor dari Makau.

Sedang untuk kawasan lokalisasi murah, berada di Kawasan Glodok, yaitu di Gang Mangga. Para pelacurnya berasal dari pribumi, Indo, dan Tionghoa. Harga yang murah tidak menjamin kualitas ‘barang’. Aktivitas prostitusi di Gang Mangga menjadi terkenal oleh penyakit sipilis yang menyebar hingga pada abad ke 19.

Lambat laun, bisnis prostitusi di Gang Mangga kalah saing dengan Soehian yang didirikan oleh para pengusaha rumah bordil Tionghoa.Bisnis ini maju pesat, hingga awal abad ke-20. Pada awal abad 20, Soehian ditutup oleh pemerintah Hindia-Belanda karena sering rusuh. Pemicu ditutupnya soehian adalah peristiwa terbunuhnya pelacur Indo yang tinggal di Kwitang bernama Fientje de Feniks pada tahun 1919 di soehian Petamburan.

Setelah soehian ditutup, sebagai gantinya muncul kompleks pelacuran serupa di Gang Hauber (Petojo) dan Kaligot (Sawah Besar). Sampai awal tahun 1970an Gang Hauber masih dihuni oleh para pelacur, sedangkan Kaligot sudah tutup pada akhir 1950an.

Sedang agak jauh dari pusat kota Batavia saat itu, ada sebuah lokalisasi prostitusi yang sudah berdiri dari abad ke 18 dan bertahan hingga kini, yaitu Kawasan Kalijodo.Kawasan Kalijodo yang berada di sebelah banjir Kanal Barat, Kali Angke ini merupakan lokalisasi legendaris. Dahulu kawasan Kalijodo merupakan langganan para pria Cina untuk mencari teman kencan atau membeli perempuan yang akan dijadikan gundik.

Begitu legendarisnya, hingga kawasan lokalisasi Kalijodo dijadikan setting penting dalam novel sejarah berjudul ‘Ca-Bau-Kan’ karya Remy Silado. Bahkan novel ini juga dijadikan film layar lebar.

Dalam novel dan film ‘Ca-Bau-Kan’ digambarkan kawasan Kalijodo adalah kawasan pecinan yang ramai. Tak hanya ramai oleh para perempuan penjaja cinta dan pelanggannya, tetapi juga kawasan ini adalah kawasan perdagangan, perjudian ilegal hingga penyelundupan candu.

Konon nama Kalijodo muncul sejak ‘peh cun’ yaitu pesta air pada hari ke-100 perayaan Imlek digelar, kawasan tersebut sudah bernama Kalijodo. Orang-orang Tionghoa yang datang ke acara ‘peh cun’ banyak yang mendapatkan jodoh di kawasan tersebut. Tahun-tahun berikutnya, kawasan tersebut selalu ramai setiap malam tidak hanya saat ‘peh cun’. Kawasan Kalijodo sudah berubah jadi ajang mencari jodoh semalam alias kenikmatan sesaat dengan para penjaja cinta di kawasan tersebut. Kawasan Kalijodo sudah berubah jadi ajang mencari jodoh semalam alias kenikmatan sesaat dengan para penjaja cinta di kawasan tersebut. Di kemudian hari kata ‘peh cun’ diselewengkan menjadi ‘pecun’ atau istilah untuk pelacur atau penjaja cinta.

Di kawasan Kalijodo, tak hanya perempuan Tionghoa, para perempuan lokal juga dipoles dan dilatih lagu-lagu Mandarin untuk memikat para babah atau perantau dari Cina. Bagi para ‘cabo’ atau ‘ca-bau-kan’ yang beruntung bisa dijadikan gundik oleh para tauke Tionghoa.

Kawasan Kalijodo memainkan peran penting terjadinya asimilasi pria-pria Tionghoa dan warga pribumi. Sampai era 50-an, para mucikari masih terlihat bersama perempuan-perempuan yang ditawarkan di atas perahu-perahu di Kali Angke.

Lambat laun, pelacuran yang dilakukan di atas perahu yang berlayar di Kawasan Kalijodo menghilang. Para ‘ca-bau-kan’ mangkal di rumah-rumah bordir milik para tauke Tionghoa. Dan lokalisasi itu bahkan bertahan hingga kini.

Walau sudah lama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sesumbar bakal membongkar kawasan maksiat ini. Namun, rencana tinggal rencana.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: