Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Mengulik Sejarah Belanda Depok

104
foto: istimewa
foto: istimewa

Jakartakita.com – Bicara tentang Depok, tentunya tak lepas dari sosok bersejarah yang berperan penting dalam terbentuknya kota ini, yaitu Cornelis Chastelein. Beliau merupakan orang yang memiliki kedudukan penting di VOC. Setelah keluar dari VOC, beliau bergerak di bidang pertanian, banyak lahan-lahan yang beliau beli saat itu yaitu di Senen, Gatot Subroto, Lapangan Banteng, Cikini, Depok, Mampang, Tanah Baru, dan Srengseng Sawah.

Disamping itu, beliau memiliki banyak budak. Budak-budak tersebut dipekerjakan sebagai petani untuk membantu lahan pertanian yang dimiliki oleh Cornelis Chastelein.Tetapi berbeda dengan yang lainnya, Cornelis Chastelein memperlakukan para budaknya dengan sangat manusiawi, para budak diajarkan bagaimana cara bercocok tanam, diberikan pendidikan, kemudian juga diajarkan Agama Kristen Protestan. Cornelis Chastelein juga dapat dikatakan sebagai pejuang HAM, karena budak-budaknya dibebaskan atau dimerdekakan dari status budaknya. Budak-budak yang mau memeluk agama Kristen Protestan, dibaptis dan diberikan lahan-lahan yang dimiliki Cornelis Chastelein di Depok. Para budak yang akhirnya memeluk agama Kristen Protestan berjumlah 200 orang dan dari 200 orang tersebut dibagi menjadi 12 kelompok dan diberikan marga. Marga-marganya adalah:

  • Jonathans
  • Laurens
  • Bacas
  • Loen
  • Soedira
  • Isakh
  • Samuel
  • Leander
  • Joseph
  • Tholense
  • Jacob
  • Zadokh

 “Setelah mereka diberi lahan oleh Cornelis Chastelein di Depok, terdapat pula aset-aset yang dimiliki beliau, tetapi aset-aset tersebut bukan lagi milik Belanda, tetapi telah dihibahkan kepada para budaknya dan menjadi hak milik para budak. ” kata Suzana Leander, keturunan salah satu budak yang dibebaskan oleh Cornelis Chastelein.

Inilah deretan gedung tua yang jadi saksi bisu sejarah Belanda Depok:

foto: Jakartakita.com/Daniel Weldy
foto: Jakartakita.com/Daniel Weldy

Gedung Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein yang sebelumnya merupakan tempat para Pendeta mengajarkan agama Kristen Protestan kepada para budak. (Jalan Pemuda no. 72, Depok).

foto: Jakartakita.com/Daniel Weldy
foto: Jakartakita.com/Daniel Weldy

Gereja GPIB Immanuel yang dahulunya adalah gereja para budak-budak Cornelis Chastelein. (Jalan Pemuda no. 70, Depok).

foto: Jakartakita.com/Daniel Weldy
foto: Jakartakita.com/Daniel Weldy

Rumah Sakit Harapan Depok, yang dulu dipakai sebagai Istana KePresidenan Depok, karena pada jaman itu dipilihlah salah satu dari 200 budak untuk dijadikan pemimpin dan di istilahkan sebagai Presiden. (Jalan Pemuda no. 10, Depok).

foto: Jakartakita.com/Daniel Weldy
foto: Jakartakita.com/Daniel Weldy

Rumah Presiden Depok yang tepat bersebrangan dengan Rumah Sakit Harapan, yang sekarang dipakai oleh keturunan yang dulunya menjabat sebagai Presiden.

foto: jakartakita.com/Daniel Weldy
foto: jakartakita.com/Daniel Weldy
foto: jakartakita.com/Daniel Weldy
foto: jakartakita.com/Daniel Weldy

SDN Pancoran Mas 2, yang dulu dipakai para budak untuk mengenyam pendidikan. (Jalan Pemuda no. 32, Depok)

“Dan sebenernya masih banyak lagi aset-aset bersejarah lainnya di Depok, tetapi karena berjalannya jaman dan semakin tingginya harga pajak, para aset tersebut sudah dijual dan dibangun bangunan baru. Dari pemerintah Depok juga belum turun tangan atas adanya aset-aset bersejarah ini.” tambah Ibu Suzana Leander.

foto: jakartakita.com/Daniel Weldy
foto: jakartakita.com/Daniel Weldy

Suzana Leander juga berharap agar aset-aset bersejarah yang ada di Depok ini dapat dijadikan Cagar Budaya, supaya warga yang di Depok maupun di luar Depok dapat datang dan melihat aset-aset bersejarahnya Kota Depok.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: