Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Lokasi Film AADC 2 di Yogyakarta, Jadi Rujukan Penyuka Traveling. Mana Saja?

66
Pasar-Legi-Kotagede
foto : istimewa

Jakartakita.com – Warga Jakarta, dan juga warga masyarakat di kota-kota besar lainnya di Indonesia tentu saat ini sedang mengalami ‘demam’ film ‘Ada Apa Dengan Cinta’ (AADC) 2, produksi Miles Film dan disutradarai oleh Riri Reza.

Di film tersebut, kota Gudeg Yogyakarta menjadi tempat pengambilan gambar utama film yang mempertemukan Rangga dan Cinta setelah 14 tahun berpisah.

Nah, bagi Anda yang menyukai traveling dan senang dengan pemandangan indah, situs sejarah, pusat kuliner dan tempat-tempat berkesenian di Yogyakarta, di film AADC 2, lokasi-lokasi tersebut di eksplor dengan cukup menarik kepada para penonton, melalui adegan-adegan dalam film tersebut.

Berikut tempat-tempat lokasi syuting AADC 2 yang bisa menjadi referensi saat mencari tujuan traveling Anda jika ke Yogyakarta:

Kota Gede
Kota Gede memiliki ciri khas deretan toko pengrajin perak, tempat yang cocok untuk mencari perhiasan dan kerajinan perak yang cantik. Dalam salah satu adegan AADC 2, Maura dan Karmen mengayuh sepeda menelusuri arsitektur klasik di daerah ini. Cinta dan kawan-kawannya juga menikmati suguhan khas Pasar Legi di tempat yang kental dengan atmosfer tempo dulu ini.

Punthuk Setumbu Bukit 
Punthuk Setumbu adalah salah satu tempat rahasia para fotografer untuk mendapatkan foto Borobudur yang cantik. Bukit ini bisa menjadi pilihan tempat untuk menyaksikan pemandangan Borobudur pada pagi hari, tepat ketika matahari mulai menyembul dari candi situs warisan dunia UNESCO itu. Pengunjung yang ingin menyaksikan pemandangan matahari terbit dari bukit ini sebaiknya memulai hiking saat pagi buta agar bisa melihat matahari seakan muncul dari balik Borobudur ketika sampai di atas bukit.

Rumah Doa Bukit Rhema
Dari Punthuk Setumbu, pengunjung dapat berjalan kaki sekitar sepuluh menit untuk sampai ke bangunan yang biasa disebut gereja ayam di ukit Dusun Gombong, Desa Kembanglimus. Bangunan ini dibuat oleh seorang pastur setelah ia mendapat ilham untuk mendirikan tempat berdoa bagi semua umat manusia dari berbagai agama. Dari jauh, rumah Rumah Doa Bukit Rhema terlihat seperti burung merpati.

Pantai ParangKusumo
Dalam film, Cinta, Maura, Karmen dan Milly berpiknik sekaligus menikmati matahari terbenam di sini. Pantai yang diyakini sebagai gerbang utama pantai selatan ini ombaknya besar. Namun, suasana sekitar pantai berpasir hitam ini lebih tenang sehingga lebih disukai oleh pengunjung yang ingin menghindar sejenak dari hiruk pikuk kota. Waktu terbaik mengunjungi Pantai ParangKusumo adalah sore hari ketika udara tidak terlalu panas, langit berwarna jingga dan matahari terbenam tampak sempurna di ufuk barat.

Istana Ratu Boko
Bekas kompleks istana luas ini dibangun pada abad ke-8 dan terdiri atas beberapa bagian bangunan. Letaknya yang di atas bukit memungkinkan pengunjung melihat pemandangan Kota Yogyakarta dan Candi Prambanan berlatar Gunung Merapi.

Papermoon Puppet Theatre
Teater boneka bentukan suami istri Ria dan Iwan Effendi ini telah menggelar pertunjukan di berbagai tempat. Selain gedung pertunjukan, boneka-boneka ini juga ditampilkan di kereta api, pasar tradisional dan tepi jalan. Ini sesuai dengan tema yang diangkat Papermoon, yakni kehidupan sehari-hari masyarakat yang dikemas secara imajinatif. Cinta dan Rangga menyaksikan lakon “Secangkir Kopi dari Playa” yang dipentaskan oleh teater boneka ini.

Oxen Free
Cinta dan gengnya menikmati penampilan Kill the DJ di Oxen Free, pub dan bistro di Jalan Sosrowijayan, saat mengunjungi Yogyakarta dalam AADC 2.

DGTMB Shop
DGTMB Shop yang berada di pinggiran Yogya memajang karya-karya Eko Nugrono, yang karyanya dipilih Louis Vitton menjadi salah satu pengindah koleksi musim gugurnya tahun 2013. Inisiator komik Daging Tumbuh yang mengombinasikan street art, komik underground dan pop art ini menghasilkan beragam karya, mulai dari komik, tas, kaus hingga mainan. Karyanya yang berupa lampion raksasa batik, bordir lukisan dan patung ditampilkan dalam AADC 2.

GreenHost Hotel
Hotel butik yang menggabungkan konsep ramah lingkungan dan seni ini punya galeri yang memamerkan kreasi seniman lokal. Tempat ini menjadi lokasi pameran Eko Nugroho yang dikunjungi Cinta dkk dalam film.

Villa Sunset
Ketika berkunjung ke Yogya, Cinta, Milly, Karmen dan Maura menginap di vila dengan interior dominan kayu yang terdiri dari atas kamar tidur, dapur dan kolam renang ini.

Klinik Kopi
Seniman kopi Yogyakarta, Pepeng, mengolah biji kopi lokal, memanggang, dan menggilingnya hingga jadi kopi bubuk yang siap diolah menjadi aneka minuman kopi. Di tempat ini, Cinta mengajak Rangga menikmati kopi olahan legendaris Klinik Kopi.

Lokal Resto
Restoran yang terletak di depan Hotel Lokal ini punya desain interior minimalis berwarna-warni, dengan tegel motif kawung dan mural “Yogyakarta”. Bahan makanan hingga perlengkapan makannya juga merupakan hasil produksi lokal. Menu andalan yang jadi favorit Cinta, Karmen, Milly dan Maura adalah nasi goreng roa dan pizza teri balado.

Restoran Bu Ageng
Resep turun temurun keluarga seniman Butet Kertaradjasa bisa dicicipi di sini. Tak hanya menyantap sajian rumahan khas keluarga, pembeli juga bisa bertemu dan berbincang dengan Butet yang sering hadir menjumpai para tamu. Nasi campur dan bubur durian adalah sebagian menu yang bisa disantap di sini.

Via-Via Restaurant & Bakery
Rumah makan ini dikenal sebagai “the home restaurant for world travelers” yang menyajikan makanan dari bahan organik serta bebas MSG. Roti khas yang bisa dicicipi antara lain brown bread, white bread, pita bread hingga focaccia. Rumah makan yang dikunjungi oleh Rangga dalam film ini juga menyediakan makanan penutup seperti cheese cake yogurt, banana cake dan strawberry blondie cake.

Sellie Coffee
Kafe mungil ini jadi lokasi adegan terkenal, tempat Cinta mengatakan: “Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu… jahat.” Kafe di Jalan Gerilya Prawirotaman ini rutin mengganti interior setiap beberapa bulan sekali. Berbagai jenis kopi dari penjuru nusantara serta singkong goreng dan jamur kriuk bisa dinikmati di sini.

Sate Klathak Pak Bari
Tempat ini menyajikan sate kambing yang dibakar di atas bara api menggunakan tusuk dari jeruji besi sepeda sehingga panas api menyebar rata ke seluruh bagian daging secara sempurna. Hangatnya suasana khas sate klathak serupa dengan kehangatan Rangga dan Cinta saat makan malam di sana. (Sumber : Antara)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: