Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Malaikat Tanpa Sayap

14
foto: angelswithoutwings
foto: angelswithoutwings

Suatu kali saya pernah menonton acara Oprah Winfrey di televisi. Kala itu Oprah sedang membahas definisi ‘jodoh’.

Selama ini kita mungkin berpikir bahwa kata ‘jodoh’ hanya digunakan untuk melabeli pasangan hidup kita, suami atau istri. Jodoh adalah belahan jiwa yang tidak akan pernah terpisahkan sampai maut sendiri yang memisahkan.Sedang seseorang yang sudah sekian lama bercinta dengan kekasihnya atau pasangan hidup resminya, namun kemudian oleh karena suatu sebab mereka terpisahkan oleh suatu keputusan cerai misalnya. Orang langsung terburu-buru mengatakan, “ Yah namanya belum jodoh…”

Benarkah jodoh seperti itu?

Saya tertarik ketika Oprah dan bintang tamu yang merupakan narasumber berkompenten merumuskan definisi jodoh. Di acara itu jodoh berarti seseorang yang datang dan memberi warna dalam kehidupan kita dalam kurun waktu tertentu. Tidak mesti harus sehidup semati. Bisa saja jodoh itu hanya berbilang hari, bulan, maupun sampai bertahun-tahun. Tidak sedikit juga yang berjodoh sampai mati.

Kemudian dikatakan lagi bahwa jodoh tidak hanya untuk seseorang yang memiliki hubungan cinta kepada kita. Jodoh bisa siapa saja, asal dia pernah datang dan memberi warna dalam hidup kita pada masa tertentu. Dia bisa saja teman sepermainan, tim sekerja, guru, orang asing, bahkan mungkin hewan-hewan peliharaan yang memberi kesan tersendiri dalam kehidupan kita. Dan Manusia biasanya memiliki lebih dari satu jodoh selama hidupnya.

Awalnya saya agak bingung dengan definisi itu. Karena saya mencoba menetralkan pikiran saya akan definisi jodoh yang sebelumnya saya terima. Kalau saya boleh menyimpulkan, jodoh adalah seseorang yang bisa memberikan euphoria ‘click’ di dalam hati kita ketika bertemu dengannya. Dari reaksi ‘click’ itu kemudian berkembang menjadi suatu kedekatan yang sangat monumental. Dan ketika dia pergi, kita merasakan ada sesuatu yang hilang dan menyadari bahwa dia telah memberi warna dalam kehidupan kita.

Ingatan saya pun melayang pada para sosok malaikat yang datang dan pergi dalam kehidupan saya. Saya berpikir mungkin mereka-mereka inilah jodoh-jodoh saya.

Sepanjang usia saya, saya ingat beberapa nama yang mendapat tempat khusus dalam hati saya. Mereka-mereka ini meskipun kehadirannya amatlah singkat, namun mewarnai hidup saya. Bahkan tak jarang di antara mereka yang membentuk karakter positif dalam diri saya.

Saya menamai mereka ‘Guardian Angel’ atau ‘Malaikat Penjaga’. Tentu saja mereka tidak seperti tampak malaikat dalam dongeng-dongeng, yang selalu berjubab putih, memiliki sayap putih dan bermahkota, senyumnya lembut menghangatkan. Tidak tentu saja tidak. Saya juga tidak mau menyamakan dia seperti malaikat sesungguhnya dalam kitab-kitab suci. Demi Allah, saya tidak mau dianggap sedang meracau tidak jelas dan dituduh membawa aliran sesat.

Malaikat-malaikat saya adalah orang-orang biasa tanpa sayap yang telah memberi arti dalam kehidupan saya. Mengapa saya menamakannya malaikat?

Karena mereka terlalu baik, hingga saya tak punya ide lagi bagaimana menamakan orang-orang istimewa ini. Saya menganggap dan membayangkan mereka benar-benar sesosok malaikat yang mungkin saja dikirim Allah untuk menjaga saya.

Sepanjang hidup, pasti kita pernah dihadapkan pada ujian kesabaran yang terkadang membuat kita harus berlinang air mata, tanpa tahu kemana harus bercerita. Selain mengadu ke Sang Pencipta, manusia terkadang membutuhkan manusia lain untuk berbagi. Karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian. Manusia membutuhkan seseorang yang bisa mendengarkan keluh-kesahnya, menjadi bahu untuk bersandar ketika menangis, menemani dalam senyap yang tak berujung, mengingatkannya agar tidak salah langkah, sekaligus menyemangatinya.

Dan saya pikir setiap Allah memberikan cobaan, Dia tidak serta-merta hanya memberikan cobaan tanpa rencana baik di dalamnya. Begitupun Allah tidak memberikannya terpisah dari solusi dan bagaimana mendapatkan solusi tersebut. Allah mengirimkan utusan-utusan-Nya untuk membantu Hamba-Nya. Allah tidak membiarkan Hamba-Nya sendirian mengatasi perkara.

Dan kita tidak pernah tahu kapan malaikat penolong itu datang atau menebak-nebak jati diri sang malaikat sebelum malaikat itu pergi dalam kehidupan kita. Kita baru menyadari betapa berjasanya dia dalam hidup kita.

Pernah tidak, suatu kali anda sedang terjepit dan amat sangat membutuhkan uang. Anda tidak tahu harus kemana. Hingga tiba-tiba ada salah seorang teman anda datang meminjamkannya. Padahal hubungan pertemanan anda dengan dia mungkin belum terlalu dekat. Tetapi bagaimana mungkin justru dia yang datang membantu.

Pernahkah suatu kali saat anda sedang dirundung masalah yang teramat pelik, dan anda tidak tahu bagaimana menyelesaikannya selain anda mengadu pada Illahi Rabb. Tiba-tiba anda berkenalan dengan seseorang yang serta-merta memecahkan permasalahan anda.

Pernahkah anda tersesat di suatu daerah yang teramat asing untuk anda, dan anda sama sekali tidka mengenal siapapun di sana. Tetapi tiba-tiba ada seseorang yang menunjukkan arah.
Pernahkah anda sedang membutuhkan jawaban dari suatu persoalan, ternyata datang orang yang tidak diduga-duga meenawarkan bantuan.

Pernahkah anda teramat kehausan dan tidak tahu bagaimana mendapatkan air, tiba-tiba ada seseorang yang menawarkan segelas air dingin untuk melepas dahaga.

Pernahkah anda sedang merasa ‘terbuang’, rendah diri, tak berguna, dan lain sebagainya. Tiba-tiba ada kenalan kamu yang datang dan membangkitkan semangat anda hingga anda merasa menjadi orang baru.

Pernahkah anda bertemu dan berkenalan dengan seseorang di kereta, bis ataupun pesawat yang membuat anda merasa ‘click’ dan seiring dengan perjalanan waktu dia ternyata memiliki andil besar dalam merapikan hidup anda.

Mereka bukan siapa-siapa. Mereka hanyalah manusia biasa yang entah bagaimana, mereka datang tepat pada waktunya. Mereka seperti malaikat penolong yang sengaja dikirim Allah untuk menyelesaikan masalah kita. Mereka seperti jawaban dari doa kita.

Mereka datang pada saat yang tepat. Kemudian pergi saat kita tidak lagi membutuhkannya. Seperti ada sebuah kontrak kerja terselubung antara Allah dan para malaikat penolong ini. Mereka hanyalah pegawai kontrak waktu tetap, yang bisa dipekerjakan dan diberhentikan sesuai kebutuhan. Saat kontrak kerja itu berakhir, malaikat penolong akan pergi dan meninggalkan saya sendiri lagi setelah saya lepas dari suatu masalah.

Sepanjang hidup saya, ada banyak sekali malaikat-malaikat tanpa sayap yang sengaja dikirim Allah untuk menemani saya melewati tantangan. Namun hanya beberapa yang saya ingat. Malaikat itu biasanya amat sangat berpengaruh dalam kehidupan saya selanjutnya. Dan sampai kapan pun saya tak akan pernah lupa pada jasanya.

*** Sebuah tulisan lama untuk mengenang para malaikat-malaikat tanpa sayap yang pernah singgah di hidup saya. Juga sekaligus untuk menyambut malaikat tanpa sayap baru yang sengaja dikirim Allah untuk tantangan kali ini…

Terima kasih ya La…Mungkin kalau kamu tidak datang saya sudah menyerah. Please jangan buru-buru ‘terbang’ sebelum kelar.

(Disclaimer: Rubrik “Jakarta Kita” adalah kumpulan artikel non formal yang lebih bersifat opini atau fiksi bukan bagian dari berita resmi jakartakita.com)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: