5 Resolusi Kerja untuk Generasi Milenial di Tahun 2017

foto: istimewa

foto: istimewa

Jakartakita.com – Buku pertama Richard Carlson “Don’t Sweat Small Stuff” membawa banyak perubahan positif bagi kehidupan personal dan juga karir saya. Buku tersebut mengajarkan bagaimana cara berinteraksi kita dengan orang lain, menjadi pendengar yang lebih baik, bagaimana cara mengatasi stress dan masih banyak lagi.

Beberapa minggu lalu saya membaca buku lain yang juga ditulis oleh Richard Carlson berjudul “Don’t Sweat Small Stuff at Work”. Buku ini fokus membahas pengembangan diri di tempat kerja. Sama seperti buku yang sebelumnya, ia menulis 100 poin-poin penting di buku ini.

Seperti banyak yang membicarakan, generasi milenial memiliki karakteristik unik di tempat kerja. Kebanyakan milenial mengeluh, kecewa dan pergi ketika merasa tempat kerjanya tidak seperti yang mereka harapkan.

Buku ini memberikan inspirasi dan pandangan baru bagi kita untuk dapat lebih mengerti kehidupan di lingkungan kerja. Dari 100 poin yang ditulis, ada 5 poin utama yang harus kita baca & pelajari sebagai generasi milenial.

  1. Berhenti Mengantisipasi Kelelahan

“Ya Tuhan, besok sudah hari Senin, saya harus membuat presentasi, laporan bulanan & meeting yang membosankan”; “Minggu ini saya akan sangat sibuk, saya hanya akan bisa tidur 3 jam”. Kita banyak mendengar hal ini dari teman-teman di kantor atau  bahkan dari diri kita sendiri.

Permasalahan dari mengantisipasi kelelahan adalah kita terus menerus mengingatkan dan menjadikan kita benar-benar lelah. Hal ini mengafirmasi bahwa kita memang akan sangat lelah dan hanya akan tidur selama 3 jam.

Kita tidak perlu terus mengingatkan diri kita akan kelelahan yang kita akan alami. Jika memang banyak hal yang harus kita kerjakan, coba kita tulis berdasarkan skala prioritas dan selesaikan satu demi satu. Jika kita mengetahui bahwa kita hanya memiliki sedikit jam tidur, coba untuk mencuri waktu untuk istirahat disela-sela kegiatan kita. Dengan cara ini, kita akan memiliki hari-hari yang lebih bersemangat kedepan.

  1. Daripada Mengutuk Kegelapan, Lebih Baik Menyalakan Lilin

Seperti yang disarankan dalam judul, strategi ini merupakan tindakan positif, yang berorientasi pada solusi untuk memajukan kondisi daripada mengeluhkan apa yang sedang terjadi. Artinya adalah, lebih baik kita menjadi bagian dari solusi ketimbang  menjadi pengingat masalah.

Di perusahaan tempat saya bekerja saat ini iPrice Group, setiap hari Jumat kita melakukan meeting secara keseluruhan. Salah satu bagian dari meeting tersebut adalah membacakan survey yang dapat diisi oleh seluruh karyawan tanpa nama. Tim HR membacakan survey tersebut dan pihak menejerial akan menjawab semua pertanyaan yang ada.

Beberapa pertanyaan yang muncul adalah seperti ini: “Kenapa kita tidak memiliki banyak perayaan keagamaan atau budaya?”; “Kenapa kita tidak bisa membuat kantor kita menjadi lebih cantik dan menyenangkan?”

Ada jawaban dari pihak menejerial yang menurut saya sangat sangat tepat – “Daripada selalu mengeluh mengenai apa yang tidak kita miliki saat ini, kenapa bukan kamu yang mengambil bagian dan bersuka rela untuk membuat kantor menjadi lebih cantik dan lebih menyenangkan?”

Jika kita melihat permasalah atau kekurangan yang ada dikantor kita, daripada mengutuk hal tersebut, lebih baik kita melakukan sesuatu untuk mengubah atau menjadikannya lebih baik.  Stop mengeluh, mulai lakukan sesuatu!

  1. Jangan Hiraukan Bos yang “Banyak Mau”

Hal yang harus kita pahami dari orang yang banyak mau adalah, mereka seperti itu ke semua orang. Dengan kata lain, tindakan mereka bukan bersifat personal. Permasalahan yang banyak terjadi adalah kita merasa bapak dan ibu banyak mau karena membenci kita.

Daripada mengeluh mengenai sikap mereka, coba untuk curi dan belajar sesuatu yang baik dari mereka. Kita harus mengubah cara kita menghadapi orang-orang seperti ini. Kita bisa mulai membuka diri untuk mengerti apa yang ingin mereka ajarkan kepada kita dan tidak mengambil tindakan mereka secara personal.

Hal ini sangat penting kita pelajari sekarang, karena jika nanti memiliki perusahaan sendiri, kita sudah paham bagaimana cara berinteraksi dengan  pegawai, klien dan juga investor.

Dengan kemampuan ini, kita akan menjadi lebih tidak difensif dan bermusuhan. Butuh waktu untuk menguasai, namun manfaatnya sangat setimpal.

  1. Ingat motto ini “Kita Bisa Menangkap Lalat Lebih Banyak Dengan Madu”

Jika kita baik, penyayang dan sabar, jikat jika adil, menjadi pendengar yang baik dan kita tulus peduli dengan orang lain orang-orang akan senang berada di dekat kita. Bukan hanya itu, mereka tidak akan segan-segan berbagi tips sukses yang mereka miliki dan juga membantu kita.

Hal ini tidak sulit dilakukan, melakukan hal-hal kecil seperti menawarkan bantuan bagi teman yang sedang membutuhkan bantuan, mengucapkan “selamat pagi!”, menawarkan makan siang bersama dan menjadi pendengan yang baik ketika teman di kantor sedang bercerita. Ingat untuk terus berbuat baik ke semua orang.

  1. Redakan EGO Kita

Ini merupakan poin yang paling menarik di buku ini, berbicara mengenai EGO. Ego adalah bagian dalam diri kita yang menyombongkan,, melebih-lebihkan, mengkritik dan menghakimi orang lain dan juga diri kita. Ego sangat berfokus pada diri kita, seolah-olah harus berteriak “Hey, lihat diri saya!”. Karena ego sangat egois dan asik sendiri, hal ini mendorong kita untuk kehilangan ketertarikan dan kasih sayang terhadap orang lain.

Contohnya, ketika kita sedang mengerjakan proyek dalam sebuah tim, masing-masing anggota bertanggung jawab untuk performa satu negara. Ego akan mendorong kita untuk berkata “Hey coba lihat, performa di negara saya adalah yang terbaik!”. Ego juga akan membuat kita stress ketika performa kita tidak baik. Karena berdasarkan Ego, kita tidak akan mendapatkan perhatian dari orang lain.

Mulai sekarang, kapanpun kita sedang dalam mode “EGO”, coba rasakan betapa besar energi yang kita keluarkan. Kita akan merasa sangat lelah, karena ego menyedot sanagt banyak energi.

Banyak yang akan kita dapatkan ketika meredakan ego. Pertama, kita akan merasa beban hidup lebih ringan, karena seperti yang saya ucapkan diatas, ego membutuhkan energy yang sangat besar.

Kedua, kita akan lebih tertari dengan orang lain. Kita akan menjadi pendengar yang lebih baik, teman yang lebih baik dan lebih murah hati.

Masih ada 95 bagian lagi  yang Richard Carlson tulis dibukunya. Namun, dari 5 poin ini kita dapat belajar banyak hal mengenai kehidupan di tempat kerja. Semoga ini bisa menjadi resolusi kita di tempat kerja tahun 2017. (Andrew Prasatya/iPrice)

Comments

comments




0 thoughts on “5 Resolusi Kerja untuk Generasi Milenial di Tahun 2017”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tags

You may also like...

Cari



Follow Us

Lowongan Kerja Jakarta


Kolom Expert – Ekonomi

DR. Agus Tony Poputra
Pengamat Ekonomi - Universitas Sam Ratulangi Manado.

Kolom Expert – Properti

Jakarta News Wire