Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Ekosistem Internet of Things Butuh Penataan Standarisasi Yang Tepat

149
foto : ilustrasi IoT (Ist)

Jakartakita.com – Era komunikasi data berbasis seluler membawa konsekuensi baru bertumbuhnya inovasi ikutan.

Salah satu yang akan menonjol ke depan adalah penerapan IoT (internet of things) yang memungkinkan beragam benda dapat ‘berkomunikasi’ antar mereka termasuk dapat diakses melalui perangkat smartphone.

Mulai dari pengontrolan berbagai peranti seperti penanda ketinggian air sungai, lalu lintas, hingga kendaraan dapat dilakukan melalui IoT.

Juga peranti sandangan (wearable devices) yang berbasis IoT seperti baju, jam tangan, alat kesehatan hingga telemetri dapat menggunakan keberadaan IoT.

Tetapi masalahnya, ekosistem IoT harus disikapi dengan cermat.

Pasalnya, saat ini, ada perangkat IoT yang mengarah menggunakan frekuensi unlicenced  919 – 923 Mhz, berdekatan dengan frekuensi operator. Dampaknya tentu dapat diperkirakan, seperti interferensi dengan jaringan yang sudah ada.

Belum lagi soal jaminan layanan atau SLA (service level agreement) dan perlindungan data keamanan konsumen. Ini tentu memberi dampak yang tidak diinginkan ke depan.

“Kita harus adaptif terhadap perkembangan teknologi termasuk IoT dari sisi regulasi sehingga masyarakat nantinya tidak dirugikan,” ucap Rudiantara, Menkominfo, saat menjadi keynote  speaker seminar yang diadakan oleh  ITF (Indonesia Technology Forum) di Balai Kartini, Jakarta, belum lama ini.

Lebih lanjut, Rudiantara mengatakan, bahwa pada dasarnya pihak pemerintah tidak akan memberlakukan kebijakan yang terlalu ketat terhadap hal-hal yang sangat dinamis.

“Namun, saya berharap semua ekosistem perlu berkumpul dan bicara bersama untuk merumuskan aturan dan regulasi yang kiranya perlu diterapkan dan hal mana pula yang tidak perlu diterapkan,” ungkap Chief RA, sapaan akrabnya.

Bagaimanapun, lanjut Chief RA, IoT akan berdampak terhadap proses pertumbuhan ekonomi dan kehidupan masyarakat.

Asal tahu saja, berbagai lembaga riset memaparkan data bahwa IoT tumbuh sejak 2014-2020, dan angkanya luar biasa besar. Menurut Gartner, sekitar 300 milyar dollar, sedangkan menurut data IDC mencapai Rp1.7 triliun.

Berdasarkan lembaga riset tersebut juga diungkapkan, bisnis IoT yang terbesar didapat dari bisnis device dan aplikasi. Kedua, didapat dari konektiviti dan platform dan terakhir dari system integrasi.

“Player inilah yang perlu duduk bersama merumuskan arah atau masterplan IoT di Indonesia. Karena pasar IoT di Indonesia diproyeksikan tertinggi di Asia tenggara sekitar 4000 juta dollar di tahun 2020,” ungkap Rudiantara.

Selain menghadirkan Rudiantara, seminar ini juga mendatangkan pembicara dari pihak Dirjen SDPPI, Ismail dan pihak operator selular, Indosat Ooredoo yang diwakili oleh Budiharto, Group Head Business Product Indosat Ooredoo.

“Sejumlah riset menunjukkan IoT memang akan menjadi salah satu layanan yang akan tumbuh secara eksponensial seiring semakin merebaknya machine to machine communication dan artificial intelligence atau kecerdasan buatan serta aplikasi. Peran perusahaan telekomunikasi sangat penting sebagai enabler Utama dalam ekosistem IoT,” kata Budiharto.

Sementara dari sisi regulasi, menurut Agung Harsoyo, komisioner BRTI sekaligus staf pengajar STEI  ITB  Bandung menjelaskan, bahwa pihaknya terus memantau perkembangan IoT saat ini dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi termasuk dampaknya bagi masyarakat luas.

“Kami melakukan antisipasi ke depan sebagai jawaban atas berkembangnya ekosistem IoT di masa depan,” kata Agung.

Terlebih, lanjut dia, perkembangan IoT sulit dibendung sehingga memang diperlukan perangkat regulasi yang mampu menjawab berbagai tantangan yang ditimbulkan oleh IoT.

Sementara itu,  Desmond Previn, dari perusahaan IoT Smart Home Indonesia yang sukses memasarkan produknya ke pasar Eropa dan Tiongkok mengungkapkan, IoT punya prospek cerah bagi Indonesia karena banyak hal bisa dikreasikan dengan IoT.

“Kreativitas dan keunggulan sumber daya manusia Indonesia di bidang pemrograman menyakinkan saya untuk menggeluti bisnis ini,” jelasnya.

foto : jakartakita.com/edi triyono

Dari sisi industri, ruang lingkup yang luas serta pasarnya yang luar biasa besar membuat perusahaan sebesar GE (General Electric) pun melirik IoT sebagai  salah satu solusi.

“Ekosistem IoT harus dibangun secara sinergi diantara pemangku kepentingan termasuk kalangan industri,” kata Muliandy Nasution, Market Development GE Indonesia.

Perusahaan besar bidang telekomunikasi dan elektronika ini memang banyak melirik IoT sebagai peluang besar bisnis di masa mendatang.

Sementara itu, dari sisi teknis, sebagai sebuah perangkat dengan standar tersendiri memang  harus diperhatikan bahwa IoT juga menyimpan bom waktu yang harus  diantisipasi  sejak awal.

“Kemungkinan – kemungkinan tersedotnya data pribadi dan sebagainya tetap dimungkinkan dari penerapan IoT,” kata Gunawan Wibisono, pengajar Fakultas Teknik Jurusan Elektro Universitas Indonesia.

Dengan kondisi  tersebut, Indonesia Technology Forum (ITF) mendorong  adanya regulasi dan penataan ekosistem IoT yang sehat dan mampu  membawa manfaat tidak hanya bagi masyarakat tetapi juga bagi pemangku  kepentingan di sektor telekomunikasi dan informatika serta memajukan  keunggulan ekonomi Indonesia. (Edi Triyono)
 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: