Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

FEWEAS, Aplikasi Peringatan Bencana Dini untuk Mitigasi Risiko Banjir Sungai Citarum Resmi Diluncurkan

374
foto : istimewa

Jakartakita.com – International Federation of Red Cross and Red Crescent Socities (IFRC), Palang Merah Indonesia (PMI) dan Zurich Insurance Indonesia (ZII), bekerja sama dengan tim riset Teknologi Bandung (ITB) meluncurkan sebuah aplikasi sistem peringatan dini untuk mengurangi risiko banjir Citarum, yang disebut Flood Early Warning and Early Action System (FEWEAS).

Bersama dengan Perum Jasa Tirta 2, BBWS, BPBD Jawa Barat, dan Pemprov Jawa Barat, keempat institusi tersebut nantinya akan bahu-membahu mengelola pemanfaatan FEWEAS untuk mitigasi risiko banjir bagi masyarakat yang berpemukiman di wilayah Daerah Aliran Sungai Citarum.

“Banjir tidak hanya menyebabkan masalah kesehatan ataupun kerusakan jalur transportasi dan infrastruktur lainnya, namun juga kesejahteraan hidup masyarakat banyak. Untuk itu, penanggulangan risiko-risiko kerugian akibat banjir tidak dapat dilihat secara sektoral, melainkan harus melibatkan sinergi dan kolaborasi strategis dari semua pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, swasta, NGO, juga kalangan akademisi. Dengan dukungan dan keterlibatan dari berbagai pihak  atas FEWEAS, kami berharap aplikasi ini hadir sebagai solusi inovatif yang dapat membantu mewujudkan ketahanan dan ketangguhan masyarakat terhadap bencana banjir,” Giorgio Ferrario, Head of Delegation for the IFRC Country Cluster Support Team in Indonesia dalam siaran pers yang diterima Jakartakita.com, Senin (11/12).

Soemarsono, Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Pusat menambahkan, sebagai sungai terpanjang di Jawa Barat, Sungai Citarum berperan strategis dalam mendukung berbagai aktivitas kehidupan masyarakat. Namun seiring perkembangan pemanfaatan lahan pertanian serta pembangunan di sekitar area Sungai Citarum, risiko-risiko kerugian banjir yang harus dihadapi masyarakat juga semakin meningkat, terutama di musim hujan.

“Sebagai bagian dari program Masyarakat Tangguh Banjir, FEWEAS Citarum sebagai generasi kedua setelah FEWEAS Bengawan Solo akan mendukung kesiagaan PMI bersama para partner kami dalam menghadapi bencana banjir,” jelasnya.

Lebih lanjut, Wirahadi Suryana, Corporate & Commercial Director PT Zurich Insurance Indonesia menjelaskan, banjir merupakan salah satu bencana alam yang paling berdampak pada kerugian ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai belahan dunia.

Di Indonesia sendiri, diperlukan penanganan tepat untuk memitigasi risiko banjir yang semakin mengkhawatirkan tiap tahunnya.

Zurich Insurance Indonesia sendiri, berkomitmen tinggi untuk berkontribusi dalam bentuk solusi-solusi inovatif yang bertujuan meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi banjir.

“Lewat program Community Flood Resilience (CFR) kami yang telah dimulai sejak 2013 lalu, kami berkolaborasi dengan berbagai pihak, baik pemerintah daerah, Palang Merah Indonesia, IFRC maupun lembaga ataupun institusi terkait, dalam program-program ketahanan banjir di berbagai wilayah Indonesia. Selain terlibat dalam FEWEAS, kami juga sebelumnya telah meluncurkan sebuah aplikasi untuk informasi dini akan insiden ataupun bencana yang terjadi di area Jabodetabek bernama Z-Alert,” ungkapnya.

“Sistem peringatan dini dapat mengurangi risiko kerugian akibat bencana secara signifikan. Dari penelitian kami, dengan penggunaan aplikasi peringatan bencana, risiko kerugian yang diakibatkan banjir berupa kerusakan kendaraan bermotor dapat direduksi hingga 50% dan kerusakan properti lebih dari 25%,” tambah Wirahadi.

Sementara itu, Dr. Armi Susandi, ketua peneliti ITB menjelaskan, FEWEAS Citarum dibangun dengan sistem tercanggih sehingga memberikan informasi prediksi cuaca ekstrim dan banjir secara tepat untuk 3 hari ke depan, khususnya untuk wilayah Daerah Aliran Sungai CItarum.

Peringatan banjir dihasilkan dari kombinasi antara prediksi cuaca dengan prediksi genangan resolusi dan ketepatan tinggi.

“Selain prediksi cuaca dan genangan, FEWEAS Citarum juga menyediakan prediksi curah hujan jangka panjang, hingga 5 tahun ke depan. Prediksi curah hujan dan kerentanan iklim tersebut dapat dimanfaatkan selain untuk prediksi banjir jangka panjang juga untuk antisipasi kekeringan,” ujarnya.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

IndonesianEnglishDutchChinese (Simplified)Malay
%d bloggers like this: