Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Belajar Toleran Dari Pagelaran ‘Legenda Danau Ranu Grati dan Sholeh Semendi’

Pagelaran Dibawakan Para Seniman Muda Sebagai Duta Seni Daerah Pasuruan, Jawa Timur

168
foto : istimewa

Jakartakita.com – Agama kerap menjadi sumber inspirasi bagi para seniman. Menjadi pembangkit daya cipta untuk mewujudkan segala sesuatu yang bernilai seni.

Sejak masa kepercayaan primitif, hingga keyakinan masa millenials, agama telah menginspirasi karya kesenian dalam corak yang khas dan menakjubkan.

Karya dengan stimulus agama inilah yang ditampilkan oleh tim kesenian daerah dari Pasuruan Jawa Timur.

Mereka mementaskan seni drama tari bertajuk, ‘Legenda Danau Ranu Grati dan Sholeh Semendi’, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Minggu (15/04/2018) malam.

Pagelaran yang dibawakan para seniman muda sebagai duta seni daerah Pasuruan ini cukup memikat. Fragmen dengan pendekatan seni tari ini berjalan dinamis, dengan berbagai gerak tubuh indah dan lincah, membawa imajinasi penonton memaknai cerita.

Tata kostum yang penuh warna sekaligus mencirikan karakteristik kultur masyarakat Pasuruan dengan kekayaan alam yang bertopografi daratan yang datar, gunung, dan lautan.

“Mbah Sholeh Semendi, diceritakan adalah putra dari Sultan Maulana Hasanudin, seorang ulama pejuang yang gigih dari Banten. Ketika Banten bergejolak, Mbah Sholeh keluar dari Banten dan memilih syiar Islam di Pasuruan. Jasanya cukup besar dalam penyebaran Islam di Pasuruan. Nama Semendi sendiri tercipta karena Mbah Sholeh memang biasa bersemedi (meditasi-tapa). Beliau adalah pendiri Pondok Pesantren Sidogiri. Ini salah satu warisan budaya yang terus berkembang. Sampai sekarang nama Mbah Sholeh masih banyak dikenang warga Pasuruan,” ungkap Drs Agung Mariyono, M.Si, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, dalam siaran pers yang diterima Jakartakita.com, Senin (16/4/2018).

foto : istimewa

Lebih lanjut diungkapkan, Pondok Pesantren Sidogiri dan Mbah Sholeh Semendi adalah artefak peradaban Indonesia, sebuah interelasi yang dibangun sebagai institusi pendidikan keagamaan bercorak tradisional, unik, dan indigenous; Islam khas Nusantara.

“Mbah Sholeh Semendi adalah simbol sifat kharismatik dan suasana kehidupan keagamaan harmoni, selaras, seimbang, yang abad ini makin sulit ditemukan karena terimbas pragmatisme kepentingan sesaat. Lakon ini sebenarnya dapat dimaknai lebih mendalam, dari sekedar cerita-cerita legenda yang bersifat mitos,” sambung Agung Mariyono.

Ditambahkan, pemilihan tema dan aktualisasi cerita menjadi penting agar pertunjukan ini lebih berdaya guna sebagai ajang apresiasi seni dan budaya.

“Lakon ‘Mbah Sholeh Semendi,’ sungguh menarik ditampilkan sebagai isu sosial budaya, di tengah model dakwah abad ini yang penuh amuk, kerap menampilkan wajah Islam yang sarkastis,” tuturnya lagi.

“Dari pergelaran ini, mari belajar toleran dengan Mbah Sholeh Semendi, penyebar ajaran Islam pertama di Pasuruan, Jawa Timur. Tokoh ulama, yang mengajarkan nilai-nilai Islam dengan mengedepankan hakekat cinta, dan memanfaatkan budaya sebagai sarananya,” jelasnya.

Adapun pagelaran ini melibatkan lebih dari seratus seniman asal Kabupaten Pasuruan, terdiri dari para aktor, aktris, penari, pengrawit, sinden, dan kompetensi seni lainnya.

Penulisan dan penyutradaraan lakon ‘Mbah Sholeh Semendi’ dipercayakan kepada Yuli Asmaning Rita. Penata Tari, Sugeng Hariyatin, Penata Musik, Mochammad Maskur, S.Sn, Panata Artistik dan Setting Panggung, Hakim dan Anharul Huda, serta Kostum dan Make up, dipercayakan kepada Dwi Wahyuningsih, S.Pd.

Acara diselenggarakan oleh Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur, di Jakarta. Sub Bidang Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur, sebagai Pelaksana Produksi, serta Kepala Bidang Seni Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan Jawa Timur, sebagai Pimpinan Produksi.

foto : istimewa

Pertunjukan ini juga di hadiri oleh Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Timur, Samad Widodo, SS, MM.

Hadir secara rutin para Juri Pengamat, Suryandoro, S.Sn (Praktisi dan Pengamat Seni Tradisi), Dra. Nursilah, M. Si. (Dosen Seni Tari Universitas Negeri Jakarta), Munarno, SE (Praktisi, Analis Kesenian dan Budaya Daerah Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur), di Jakarta, dan Eddie Karsito (Wartawan, Penggiat Seni & Budaya).

Minggu (22 April 2018) mendatang, Sub Bidang Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur, kembali penampilkan duta kesenian daerah, dari Kabupaten Bondowoso.

Selain itu, ada pergelaran paket khusus Tari Jawa Timuran “Sang Guru” dalam rangka memperingati “Hari Tari Dunia “(28 April 2018), serta penampilan duta seni dari Kabupaten Tuban (29 April 2018) mendatang.  (Edi Triyono)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

IndonesianEnglishDutchChinese (Simplified)Malay
%d bloggers like this: