Digitalisasi Dorong Penerapan Strategi Omnichannel Dalam Pemasaran Properti

foto : istimewa

Jakartakita.com – Berkembangnya digitalisasi dan penetrasi internet di Indonesia yang kini telah mencapai 202,6 juta pengguna pada 2021 – menurut data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), telah mendorong industri properti untuk beralih ke teknik pemasaran omnichannel yang mengedepankan kemudahan proses pencarian properti.  

Demikian terungkap dalam diskusi Bincang Properti: Strategi Omnichannel: Kunci Gaet Next-Gen Property Buyers pada tanggal 12 Oktober 2021 lalu.

Acara yang diselenggarakan secara online ini dihadiri CEO Lamudi.co.id, Mart Polman, dengan pembicara VP Corporate Sales Lamudi.co.id, Michael Ignetius Kauw, Wakil Ketua Umum Realestat Indonesia (REI), Theresia Rustandi dan General Manager Cimanggis Golf Estate by Artha Graha Network, Albert Sanjaya.

“Makin tereksposnya kaum milenial dan generasi Z terhadap perkembangan teknologi digital menjadi tantangan sendiri untuk para pengembang property. Adapun penerapan omnichannel marketing memastikan bahwa pengalaman pelanggan tetap konsisten di semua channels, dengan menyatukan semua titik penjualan dengan satu narasi yang selaras dengan identitas brand itu sendiri,” terang Michael Ignetius Kauw, seperti dilansir dalam keterangan pers, Rabu (13/10).

Menurut Michael, omnichannel marketing menitikberatkan kepada implementasi strategi pemasaran yang mengkombinasikan penjualan secara online dan in-store yang terhubung dengan satu branding narasi yang konsisten.

Dalam omnichannel marketing, strategi periklanan terintegrasi dan bertujuan pada pengalaman konsumen dibandingkan mengedepankan kuantitas.

Ditambahkan, berdasarkan Riset Tren Pasar Properti semester I-2021 yang dilakukan Lamudi.co.id, dalam lima tahun terakhir demografi pencari properti usia 25 sampai 45 meningkat dan dipimpin oleh mereka yang ada di umur 25 sampai 34 sebagai kelompok pencari properti yang terbanyak.

“Kaum milenial dan generation Z menginginkan kemudahan dalam setiap proses perjalanan properti dari pencarian hingga pembelian. Demografi ini menginginkan kemudahan informasi dan tentunya adanya kesinambungan narasi antara penjualan online dan offline,” lanjut Michael.

Di sisi lain, meningkatnya preferensi para pengembang properti terhadap metode pemasaran hybrid (offline dan online) menunjukan bahwa industri properti tanah air makin terbuka terhadap penggunaan teknologi untuk meningkatkan layanannya. 

foto : dok. Lamudi

Skema Roadmap Digital Indonesia 2021-2024 yang dikeluarkan oleh Kemenkominfo, telah mengkategorikan industri real estat sebagai sektor ekonomi prioritas, penerapan strategi omnichannel dalam pemasaran properti menunjukan bahwa teknologi tidak semata-mata menggantikan pelaku industri properti melainkan mendukung perkembangan sektor itu sendiri.

“Sebagai pelaku industri properti sudah semestinya kami beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Perlu ditekankan kepada seluruh developer Indonesia bahwa pemasaran online dan offline bukanlah sebuah opsi melainkan sebuah keharusan,” imbuh Theresia Rustandi selaku Wakil Ketua Umum Realestat Indonesia (REI).

Adapun Albert Sanjaya selaku General Manager Cimanggis Golf Estate by Artha Graha Network mengungkapkan, bahwa metode pemasaran online tidak akan menghapus pentingnya pemasaran yang selama ini dijalankan secara in-store.

“Adanya peningkatan preferensi pengembang terhadap metode pemasaran online tidak akan menggantikan penjualan in-store yang sudah dijalankan selama ini. Justru pemasaran online harus berjalan seiringan dari penjualan offline untuk meningkatkan kepuasan generasi milenial dan generasi Z ini. Itulah esensi dari strategi omnichannel marketing,” terang Albert Sanjaya.

industri propertylamudi.co.idomnichannel marketingpencarian propertyStrategi Omnichannelteknik pemasaran omnichannel
Comments (0)
Add Comment