Jakartakita.com – Karya terbaru Joko Anwar selalu dinantikan para penggemar film Indonesia. Begitu pula dengan film terbarunya, Ghost in The Cell, Joko bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis naskah.
Film dengan latar utama sebuah penjara ini diproduksi oleh Come and See Pictures bersama RAPI Films, Legacy Pictures, dan Barunson E&A ini, juga dibintangi deretan aktor ternama seperti Abimana Aryasatya, Endy Arfian, Tora Sudiro, Aming, Lukman Sardi, Yoga Pratama, Rio Dewanto, Bront Palarae hingga Morgan Oey.
Meskipun premisnya terdengar mencekam, film ini tetap menyisipkan sisi humanis dan tawa melalui aksi para karakternya. Keunikan ini tercermin dari penggunaan tagline poster yang cukup menggelitik, yakni sebuah pesan penenang bagi penonton untuk tidak terlalu merasa khawatir.
Inti ceritanya adalah, di dalam penjara atau Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Labuhan Angsana, para napi hidup dengan masalah setiap hari: penindasan dari pejabat lapas, serta permusuhan dan kekerasan antar sesama tahanan. Suatu hari, seorang napi baru masuk dan satu per satu napi mati dengan cara yang sangat mengerikan.
Setelah mengetahui bahwa ada hantu yang membunuh orang dengan aura atau energi yang paling negatif, para napi berlomba-lomba berbuat kebaikan untuk membuat aura mereka tetap positif.
Tapi tentunya sangat sulit tetap positif di penjara yang penuh ketidakadilan. Hingga mereka sadar satu satu hal yang sepertinya tak mungkin tapi harus mereka lakukan untuk tetap hidup: bersatu untuk melawan penindas, bahkan hantu sekalipun!
Film Ghost in the Cell telah mendapat sambutan positif saat tayang perdana di Berlinale International Film Festival 2026 di Berlin, Jerman. Film in juga telah mendapat respons yang begitu tinggi di internasional dengan dibelinya hak penayangan film di 86 negara di berbagai benua.
Ghost in the Cell sebelumnya juga telah tayang lebih dulu di 16 kota di Indonesia dan seluruh tiketnya terjual habis (sold out). Joko Anwar yang kini kerap disapa Jokan ini dikenal sebagai sang maestro horor dengan jenius menggabungkan berbagai genre. Mulai dari komedi, genre yang pertama kali ia garap di film debutnya, hingga aksi dan horor.
Tema yang dibahas juga sangat beragam merefleksikan situasi Indonesia saat ini. Dari isu lingkungan, agama, dan politik. Kritikan pun disampaikan tanpa tedeng aling-aling seperti menyebut perbandingan sistem hukum Indonesia, bukan Konoha atau Wakanda, dengan Norwegia.
“Situasi Indonesia sudah terlalu absurd, jadi kalau mau membuat film tentang Indonesia juga harus bisa menangkap kesan ini. Misinya supaya penonton bisa tertawa, tapi lalu sadar bahwa kita sedang melihat diri kita sendiri,” ucap Joko usai press screening di XXI Epicentrum Kuningan, Jakarta, 9 April 2026.
Melalui Ghost in the Cell, Joko juga ingin mengajukan sebuah pernyataan yang tegas tentang masih adanya harapan di tengah sistem yang kacau dan busuk di negara ini.
“Saya memilih untuk percaya, harapan itu masih ada. Kalau tidak ada, tidak ada lagi kekuatan untuk bangun setiap pagi. Setidaknya, sekian persen, ya sekitar 10 persen masyarakat Indonesia masih ada yang jujur, dan masih ada yang mau menyuarakan. Saya percaya semangat itu tidak akan pernah mati, karena itu yang membuat kita masih mau bernapas dan bersuara,” tambah Jokan.
Salah satu isu yang dibahas di film ini adalah tentang sistem yang korup. Serta bagaimana seorang koruptor menjalani ‘hukuman’ namun masih mendapat privilese untuk bisa berbuat semau mereka.
Menurut Produser Tia Hasibuan, meski secara isu dan cerita Ghost in the Cell sangat Indonesia, tetapi di sisi lain juga sangat relevan dengan apa yang terjadi di seluruh dunia.
“Saat world premiere di Berlinale, banyak dari penonton merasakan keresahan yang sama yang ada di film ini, tentang sistem yang korup dan semangat harapan terhadap perubahan menjadi lebih baik. Meski peristiwanya di Indonesia, tetapi beragam aspek yang ada di film ini sangat universal, bahkan dari joke dan satir yang ada di film,” ungkap Tia Hasibuan.
Kualitas film ini terasa semakin bertambah karena Jokan melibatkan enam ilustrator Indonesia berskala internasional dan bahkan berkarya di sejumlah film Hollywood.
Para seniman bertugas membuat “instalasi kengerian”, konsep seni yang indah tapi mengerikan, yang menjadi salah satu elemen utama cerita film. Sedikit bocoran, karya mereka termasuk unik karena mendesain adegan beberapa karakter yang ditemukan tewas terbunuh di film ini.
Dengan segala persiapan teknis dan riset yang mendalam, Ghost in the Cell menjadi representasi kemajuan sinema nasional yang berani bereksplorasi. Kekuatan akting para pemainnya juga jadi keunggulan lainnya. Selain Abimana yang tampil kuat dan menonjol, akting Aming dan Magistus Miftah juga sangat berkesan dan bahkan bisa tertanam kuat penonton.
“Cukup menantang selama proses syuting ya, pertama kali cukup menantang karena kita harus mencampur banyak ekspresi, enggak bisa dilihat dari adegan laganya saja, karena adegan itu keseluruhan tuh kita ambil cukup panjang,” jelas Abimana.
Ia menambahkan, adegan perkelahian narapidana di penjara dalam film tersebut tercatat dalam 14 sampai 15 halaman skrip dan para pemeran harus menampilkan adegan itu dari awal sampai akhir tanpa jeda.
Film ini bukan sekadar hiburan horor biasa, melainkan sebuah refleksi sosial yang dibungkus dengan cara yang menyenangkan. Jadi jangan sampai tidak menonton Ghost in The Cell di bioskop mulai 16 April 2026, tapi ingat film ini untuk 17 tahun keatas alias bukan untuk mereka yang masih di bawah umur. (Henry)