Jakartakita.com – Galeri Indonesia Kaya (GIK) menghadirkan pertunjukan seni melalui pementasan pertunjukan satu orang (one man show) bertajuk Dapur Sumur Tutur, sebuah karya yang menyoroti dinamika perempuan lintas generasi di tengah perubahan nilai dan tradisi.
Karya yang diproduseri oleh Nosa Nurmanda dan disutradarai oleh Ben Bening ini dipentaskan oleh Putri Ayudya, seorang aktor yang telah dua kali dinominasikan sebagai Pemeran Wanita Terbaik FFI dan meraih Piala Maya.
Selama kurang lebih satu jam di GIK, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Sabtu, 25 April 2026, penikmat seni diajak menyelami kisah tiga generasi perempuan Jawa dalam satu keluarga yang hadir dalam momen sakral peringatan seribu hari wafatnya Eyang Kakung.
Melalui sudut pandang YangTi, Ibuk, dan Mbak, pertunjukan ini menghadirkan dialog batin tentang tradisi, relasi keluarga, serta pengalaman yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dengan pendekatan pertunjukan satu orang yang bersifat imersif, karya ini menghadirkan pengalaman yang intim dan reflektif bagi penonton. Pertunjukan semakin terasa menarik bahkan menggelitik karena beberapa kali terjadi dialog interaktif Putri Ayudya dengan penonton, bahkan beberapa penonton sempat mengobrol langsung dengan Putri selama pertunjukan berlangsung.
“Pementasan Dapur Sumur Tutur hari ini sejalan dengan komitmen Galeri Indonesia Kaya untuk menghadirkan karya seni pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengangkat isu-isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat,” terang Renitasari Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya.
“Melalui cerita yang personal dan pendekatan artistik yang kuat, kami berharap pertunjukan ini dapat membuka ruang refleksi bagi penikmat seni tentang dinamika keluarga, peran perempuan, serta perubahan nilai budaya yang terus berlangsung,” sambungnya.
Pertunjukan Dapur Sumur Tutur berangkat dari kegelisahan generasi milenial perempuan Jawa terhadap tradisi yang seringkali diwariskan tanpa pemaknaan ulang.
Dalam banyak kisah, nilai-nilai tersebut diteruskan tanpa memahami akar dan konteksnya, sehingga sulit diadaptasi dengan perubahan zaman dan berpotensi menimbulkan generational trauma.
Pergeseran ranah perempuan dari konco wingking menjadi mitra sejajar dalam kehidupan modern turut menjadi benang merah dalam pertunjukan ini. Selain itu, isu sandwich generation dan ageism diangkat sebagai refleksi kondisi sosial saat ini, ketika jumlah populasi lansia terus meningkat, sementara jumlah usia produktif semakin terbatas.
Situasi ini membuat generasi muda harus memikul beban ekonomi sekaligus perawatan keluarga yang lebih besar, di tengah keterbatasan akses pekerjaan dan kemandirian bagi kelompok usia lanjut.
Dalam konteks ini, perempuan kerap berada di garis depan, tidak terlepas dari nilai dan tradisi yang menempatkan mereka sebagai pengurus utama orang tua di masa tua.
Realitas ini mencerminkan kuatnya ekspektasi gender yang menempatkan perempuan sebagai caretaker utama dalam keluarga. Selaku aktor tunggal di pertunjukan ini, Putri Ayudya menuturkan bahwa karya ini lahir dari pengalaman personal dan hasil riset bersama tim kreatif.
“Kisah ini berangkat dari kegelisahan sebagai perempuan Jawa generasi milenial. Sebagian materi berasal dari pengalaman pribadi kami dan sebagian lainnya dari riset tentang perempuan Jawa, generational trauma, serta proses reparenting,” jelas Putri.
“Judul Dapur Sumur Tutur sendiri menggambarkan perubahan peran perempuan, dari yang semula terbatas di ranah domestik menjadi ruang bertutur dan menyuarakan pengalaman,” lanjutnya.
Sementara itu, Nosa Nurmanda sebagai Produser menjelaskan, pemilihan tiga generasi perempuan dan latar peringatan seribu hari kematian memiliki makna simbolis. Momen ini adalah ruang refleksi keluarga, ketika duka sudah mengendap dan bisa dimaknai ulang.
“Di situlah kita melihat bagaimana nilai, luka, dan cara pandang diwariskan antar generasi, terkadang tanpa disadari. Harapannya, melalui pertunjukan ini penonton dapat lebih memahami bahwa tradisi dapat terus hidup dan relevan jika disikapi secara bijaksana,” tutur Nosa.
Ben Bening selaku Sutradara menambahkan bahwa hari ini kita sering merasa perempuan sudah lebih bebas dibandingkan sebelumnya. Namun, pertanyaannya adalah apakah kebebasan itu benar-benar utuh?
“Apakah perempuan sudah benar-benar bebas dalam menentukan mimpi, pilihan hidup, dan ruang yang ingin ia tempati, baik di pekerjaan, keluarga, maupun dalam tradisi? Pertunjukan ini berangkat dari pertanyaan tersebut, yang bagi kami akan selalu relevan, sudahkah perempuan benar-benar bebas?” ujar Ben.
Pertunjukan yang ditulis oleh ketiga kreator ini tidak hanya bertumpu pada kekuatan akting, tetapi juga didukung oleh elemen artistik seperti lagu latar dan efek suara yang dikomposisikan oleh Taufan Iskandar, tata cahaya, serta elemen visual yang ditampilkan melalui layar, yang dikembangkan dengan menggabungkan perspektif personal dan hasil riset masing-masing kreator.
Keseluruhan elemen ini dirancang untuk memperkuat atmosfer pementasan dan membantu penonton menyelami emosi serta dinamika antar generasi yang dihadirkan dalam karya ini.
Pertunjukan Dapur Sumur Tutur menjadi penutup rangkaian pertunjukan seni akhir pekan di Galeri Indonesia Kaya sepanjang bulan April. Sebelumnya, GIK telah menghadirkan pertunjukan Bukan Kartini oleh Wulangreh Omah Budaya, Makkunrai Nusanusa oleh Kinarya GSP, serta Close Friends oleh Shafiq Husein dan Ufa Sofura.
Kedepannya, Galeri Indonesia Kaya akan terus menghadirkan beragam pertunjukan seni setiap akhir pekan dengan informasi lebih lanjut yang dapat diakses melalui situs IndonesiaKaya.com. (Henry)