Jakartakita.com – Dentang azan Jumat yang setiap pekan menggema dari ribuan masjid di Jakarta menyimpan sejarah panjang yang dimulai hampir lima abad lalu. Jauh sebelum ibu kota dipenuhi gedung pencakar langit, shalat Jumat telah menjadi bagian penting dalam perjalanan penyebaran Islam di kawasan yang dulu dikenal sebagai Sunda Kelapa, Jayakarta, hingga Batavia.
Pelaksanaan shalat Jumat di Jakarta diperkirakan mulai berkembang setelah Fatahillah menaklukkan Sunda Kelapa pada 1527 dan menamainya Jayakarta. Sejak saat itu, masjid-masjid di kawasan pesisir menjadi pusat ibadah sekaligus penyebaran ajaran Islam bagi masyarakat dan para pasukan Muslim.
Salah satu jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan di Masjid Al Alam Marunda, Jakarta Utara. Masjid yang diyakini telah berdiri sejak abad ke-16 hingga ke-17 itu menjadi salah satu masjid tertua di Jakarta dan dikenal memiliki keterkaitan dengan tokoh legendaris Betawi, Si Pitung. Hingga kini, masjid tersebut masih aktif digunakan untuk pelaksanaan shalat Jumat dan menjadi tujuan wisata religi.
Situasi berubah ketika VOC merebut Jayakarta pada 1619 dan mengubah namanya menjadi Batavia. Di bawah pemerintahan kolonial Belanda, aktivitas umat Islam, termasuk pelaksanaan shalat Jumat, berada dalam pengawasan ketat. Meski demikian, masyarakat Muslim tetap mempertahankan tradisi ibadah berjamaah sebagai bentuk keteguhan menjaga identitas dan syiar Islam.
Memasuki abad ke-17, perkembangan shalat Jumat tidak lagi hanya berpusat di kawasan pesisir. Di wilayah pedalaman, sejumlah masjid mulai dibangun sebagai pusat kehidupan masyarakat Betawi. Salah satunya adalah Masjid Jami Assalafiyah di Jatinegara Kaum yang berdiri sekitar tahun 1620. Masjid ini menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk beribadah, belajar agama, sekaligus mempererat hubungan sosial.
Tradisi tersebut terus berkembang hingga abad ke-19. Kehadiran Masjid Jami Al-Barkah di kawasan selatan Jakarta pada 1818, yang didirikan oleh ulama Betawi Guru Sinin, memperlihatkan bagaimana masjid berfungsi bukan hanya sebagai tempat shalat Jumat, tetapi juga sebagai pusat pendidikan Islam dan dakwah. Dari masjid-masjid inilah lahir tradisi keilmuan ulama Betawi yang berpengaruh terhadap perkembangan Islam di Jakarta.
Bagi masyarakat Betawi, shalat Jumat memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar ibadah mingguan. Hari Jumat menjadi momentum berkumpul, bersilaturahmi, bertukar kabar, hingga memperkuat solidaritas antarwarga. Masjid menjadi ruang sosial yang menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Kini, Jakarta memiliki ribuan masjid yang setiap pekan dipenuhi jamaah untuk menunaikan shalat Jumat. Meski wajah kota telah berubah menjadi metropolitan modern, tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun itu tetap terjaga. Masjid-masjid bersejarah seperti Al Alam Marunda, Jami Assalafiyah, dan Jami Al-Barkah menjadi pengingat bahwa perkembangan Jakarta tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang syiar Islam dan tradisi shalat Jumat yang diwariskan lintas generasi. (Risma)