Take a fresh look at your lifestyle.

Etnografi Visual Atmakanta Sajikan Video Realitas Sosial Budaya yang Kompleks di Indonesia

Jakartakita.com – Keresahan tentang masa depan di antara meninggalkan masa lalu dan menjalani masa kini tersebut tertuang dalam Season 1 FIELD INSIGHTS, serial foto dan video yang diproduksi oleh agensi etnografi visual Atmakanta.

Serial tersebut menggunakan metode etnografi visual, yakni teknik penelitian sosial yang menggunakan video dan fotografi untuk merekam, menganalisis, dan menyajikan temuan lapangan.

FIELD INSIGHTS. Foto: Atmakanta

Berdiri pada 2021, Atmakanta merupakan agensi etnografi visual yang berfokus pada riset lapangan berbasis video dan fotografi. Temuan riset videonya digunakan oleh sejumlah jenama global untuk memahami dinamika sosial dan budaya di Indonesia.

Season 1 FIELD INSIGHTS menceritakan tentang situasi di Kelurahan Tipo, Palu, Sulawesi Tengah. Irzan (31) dan ayahnya menjalani kehidupan sehari-hari di kota yang terus dibayangi ingatan bencana. Dalam kehidupan yang selalu dibayangi marabahaya seperti gempa bumi dan tsunami, masa depan terasa berada di ambang penundaan.

Di Rancabeureum, pinggir Bandung, Jawa Barat, beberapa anak muda memilih tetap bertani di tengah arus urbanisasi dan menuanya sektor pertanian. Dengan upah sekitar Rp60.000 per hari, mereka bekerja sebagai buruh tani di sawah-sawah para pemilik tanah.

FIELD INSIGHTS. Foto: Atmakanta

Di sebuah keluarga kecil di Jakarta, duka kematian bertemu dengan kehidupan yang terus berjalan. Di tengah kehilangan, waktu terus bergerak ke depan bagi mereka, yang baru kehilangan sosok tercinta.

“FIELD INSIGHTS memakai etnografi visual karena metode ini sangat cocok dengan tujuan serialnya, yaitu menyajikan realitas sosial dan budaya yang kompleks di Indonesia,” terang Moses Parlindungan Ompusunggu, Direktur Eksekutif Atmakanta dan Penggagas FIELD INSIGHTS, dalam diskusi daring peluncuran serial tersebut secara daring pada Sabtu, 14 Maret 2026.

Menurut Moses, pendekatan etnografi visual memungkinkan riset lapangan untuk menangkap pengalaman manusia secara lebih dekat dan kontekstual. Dengan menggabungkan metode etnografi dan medium visual seperti film dan fotografi, FIELD INSIGHTS berupaya memahami hubungan manusia dengan lingkungannya, nilai-nilai sosial budaya yang hidup di masyarakat, dan makna yang melekat pada kehidupan sehari-hari.

“Melalui etnografi visual, kita bisa mendalami bagaimana isu-isu besar, seperti politik, ekonomi, hingga perubahan iklim, dirasakan dalam keseharian,” kata Moses.

FIELD INSIGHTS. Foto: Jakartakita.com/Henry

Season 1 FIELD INSIGHTS yang terdiri dari tiga episode tersebut telah tayang di akun Instagram @atmakanta. Dua episode pertama, Lari ke Timur dan Generasi Penentu, berbentuk video 3 menit. Sementara Mengiringi Kematian yang merupakan episode terakhir diproduksi dalam bentuk esai foto.

Postponing the Future, judul Season 1, menjadi tema besar yang menyatukan ketiganya. “Judul Season 1 ini merujuk ke masalah sehari-hari manusia: bagaimana caranya memikirkan masa depan, kalau masih susah move on dari masa lalu dan struggle dengan masa kini,” ungkap Moses.

Lari ke Timur karya Nur Amri Firmansyah mengupas soal keseharian tinggal di wilayah yang rawan bencana. Kemudian episode dua, Generasi Penentu, karya Kartika Ayu Larasati, mencoba melihat bagaimana pertanian dijalani oleh anak-anak muda di tengah arus industrialisasi dan menuanya sektor tani.

Sementara Mengiringi Kematian karya Abyan Madani menelisik pengalaman kehilangan serta cara manusia memaknai batas antara kehidupan dan kematian.

Para kreator di balik tiga episode pertama FIELD INSIGHTS adalah anak-anak Gen Z yang memadukan talenta penceritaan visual dan kepekaan khas peneliti sosial. Amri (Universitas Tadulako) dan Kartika (Universitas Udayana) saat ini mahasiswa Antropologi tingkat akhir, sedangkan Abyan baru lulus dari Antropologi Universitas Indonesia.

Ketiga kreator tersebut adalah peserta program Internship in Visual Anthropology (IVA) Atmakanta, dan karya-karya ini merupakan keluaran dari proyek kerja lapangan mereka di program tersebut. Sebagai magang, ketiga kreator berfokus mempelajari etnografi visual dan menyajikannya dalam format yang diakrabi anak muda.

“Saya memandang FIELD INSIGHTS itu tidak boleh hanya berhenti sebagai sebuah program musiman, sekadar kompetisi video atau pameran bagi mahasiswa. Harapan saya program ini bertransformasi menjadi standar baru hilirisasi riset Antropologi di Indonesia,” ujar Rina Hermawati, ketua umum Asosiasi Departemen/Jurusan Antropologi Seluruh Indonesia (ADJASI), yang menjadi pembicara kunci di peluncuran FIELD INSIGHTS.

“FIELD INSIGHTS ini sangat penting karena kita bisa memahami konteks dari masyarakat, bukan sekadar kata-kata tapi juga bagaimana kita menyajikannya dalam data visual. Jadi kita
bisa memahami sekaligus mendokumentasikan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat,” tutur Aulia Hadi, Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya – Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRMB BRIN), yang juga hadir sebagai pembicara kunci.

Melalui FIELD INSIGHTS, Atmakanta berharap bisa mendorong lahirnya generasi baru etnografer visual yang tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga berperan sebagai intelektual publik yang membantu masyarakat memahami dinamika sosial yang terus berubah. (Henry)


Tinggalkan komen