Konflik di Film Keluarga Suami Adalah Hama Siap Mengaduk-Aduk Emosi Penonton Mulai 21 Mei 2026
Jakartakita.com – Film Keluarga Suami Adalah Hama mewarnai perfilman Indonesia. garapan Umbara Brothers Film dan VMS Studio siap di bioskop Indonesia pada 21 Mei 2026.
Film yang diproduseri oleh Shalu T.M., Indah Destriana dan Anggy Umbara ini dibintangi Omar Daniel, Raihaanun, Meriam Bellina, Sitha Marino, Jeremie Moeremans dan Fairuz A Rafiq.

Inti ceritanya, Intan (Raihaanun) terpaksa tinggal bersama keluarga suaminya, Damar (Omar Daniel). Ia harus beradaptasi dengan keadaan ekonomi rumah yang sedang terpuruk setelah sang ayah meninggal dunia.
Tuntutan-tuntutan dari keluarga Damar semakin mempengaruhi hubungan rumah tangga Intan dan Damar, membuat mimpi-mimpi akan indahnya pernikahan harus tergadaikan. Intan perlahan merasa diperlakukan sebagai pembantu, dan bukannya menantu.
Keluarga suami yang diharapkan menjadi keluarga baru, semakin terasa seperti hama yang menggerogoti dirinya. Sebagai anak tertua dan tumpuan keluarganya, Damar dihadapkan dua pilihan: memenuhi kebutuhan ibu dan adik-adiknya atau mewujudkan mimpi keluarga kecilnya bersama Intan.
Damar berusaha keras memenuhi kedua hal itu yang ternyata justru membuat masalah kian bertambah. Pada titik nadir terendahnya, Intan hanya bisa meminta Damar untuk memilih, rumah mana yang menjadi tujuannya pulang.

Saat press screening di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, pada 14 Mei 2026, sutradara Anggy Umbara mengatakan tema film Keluarga Suami Adalah Hama sangat relate dengan sebagian besar masyarakat Indonesia.
Diadaptasi dari film pendek berjudul sama karya Aditya Santana , Anggy mengaku tertarik menggarap film ini karena merasa seperti bercermin.
“Film ini relate banget sama banyak orang, termasuk saya, apa yang dialami Intan dan Damar pernah saya dan istri saya alami cuma bedanya saya bukan anak sulung seperti Damar. Bukan berarti film ini buat menakut-nakuti mereka yang mau menikah, tapi ini sebagai cerminan aja, diambil hikmahnya karena semua rumah tangga pasti punya masalah meski sekecil apa pun.,” ungkap Anggy.
“Tapi kalau kita menjalani segala masalah dengan sabar, ikhlas dan selalu berkomunikasi dengan baik, hasilnya menurut saya bakalan indah dan worth it. Kita berusaha mengedukasi bahwa komunikasi itu penting banget untuk dijaga. Terus kita harus mengetahui batasan-batasannya itu apa saja dalam keluarga,” ucap Anggy,” sambungnya.

Sementara itu Omar Daniel mengungkapkan bahwa dia pernah menjadi tulang punggung keluarga, dan merasa bangga mendapat kesempatan untuk menjalankan peran tersebut.
“Saya pernah menjadi seorang tulang punggung keluarga, istilahnya generasi sandwich, dan itu adalah sebuah kebanggaan bagi saya,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.
“Itu sebuah gift, yang menurut saya tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan itu. Kita bisa bilang ke orangtua kita ‘oke stop, istirahat, biar giliran saya yang menggantikan kalian’. Itu kesempatan yang mesti dimanfaatkan sebaik mungkin dan berkah yang patut disyukuri,” tambahnya.
Sedangkan Raihaanun juga senada dengan Anggy Umbara mengenai pentingnya mengomunikasikan kebutuhan dengan baik dalam keluarga. Komunikasi merupakan kunci untuk menjaga hubungan keluarga agar tetap sehat dan harmonis.
Mengenai akting para pemainnya termasuk dirinya yang terasa sangat natural dan menjiwai hingga membuat penonton gemas sekaligus emosi, Raihaanun mengungkapkan bahwa suasana rumah dalam film tersebut sudah terasa menyesakkan sejak pertama kali dimasuki.
Hal justru membantunya mendalami karakter Intan yang merasa tertekan dengan tingkah laku ibu mertuanya dan dua adik iparnya.
“Buat mendalami peran, kita kumpul sekitar 10 hari khusus di dalam rumah itu. Rasanya suffocating banget memang. Dan environment-nya itu memang sudah membuat kita yang masuk ke set itu sudah kayak terasa sesak di dada, dan itu mungkin yang bikin hasilnya bisa bikin mengaduk-aduk emosi penonton,” tuturnya. (Henry)
