Take a fresh look at your lifestyle.

Dari Krisis Sampah Menuju Energi Bersih, Bali Resmi Bangun Fasilitas Waste-to-Energy Pertama

Jakartakita.com – Pemerintah resmi memulai pembangunan fasilitas Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) pertama di Bali. Proyek yang diresmikan pada awal pekan ini menjadi tonggak baru pengelolaan sampah nasional sekaligus bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.


Selain Bali, proyek serupa juga akan dikembangkan di Kota Bekasi dan Kota Bogor di bawah koordinasi PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) yang dibentuk oleh Danantara Indonesia.


Bali menjadi lokasi pertama yang memulai pembangunan fisik dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun atau setara US$170,4 juta. Fasilitas yang dibangun di kawasan Pedungan, Denpasar Selatan, tersebut dirancang mampu mengolah 1.500 ton sampah per hari dan ditargetkan mulai beroperasi secara bertahap pada semester pertama 2028.


Chief Executive Officer PT Daya Energi Bersih Nusantara, Fadli Rahman, mengatakan proyek ini bukan sekadar membangun pembangkit listrik, tetapi menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi.


“Pembangunan fasilitas PSEL di Bali bukan sekadar membangun pembangkit listrik, melainkan sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi dari hulu hingga hilir. Kami ingin memastikan sampah residu dapat diolah secara bertanggung jawab sekaligus menghasilkan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” ujarnya.


Gunakan Teknologi Berstandar Global


PSEL Bali menggunakan teknologi Moving Grate Incinerator, yang telah diterapkan di sekitar 75–80 persen fasilitas Waste-to-Energy di dunia. Teknologi ini mengacu pada standar emisi Uni Eropa (EU Industrial Emissions Directive) sehingga dinilai lebih ramah lingkungan.


Sampah yang masuk akan dikeringkan selama 5–7 hari sebelum dibakar pada suhu di atas 850 derajat Celsius. Panas yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik yang akan disalurkan ke jaringan PLN.


Selain menghasilkan listrik, residu pembakaran juga dimanfaatkan kembali. Air hasil pengolahan lindi diproses menjadi air bersih, sedangkan bottom ash diolah menjadi batako dan material konstruksi. Dengan sistem tersebut, emisi per ton sampah dapat ditekan hingga sekitar 80 persen dibandingkan metode penimbunan di tempat pemrosesan akhir (TPA).


Dukung Energi Bersih dan Lapangan Kerja


Keberadaan PSEL Bali diproyeksikan mampu mengolah sekitar 44 persen dari total sampah di Bali. Selain mengurangi beban TPA, proyek ini juga diperkirakan menciptakan hingga 1.200 lapangan kerja hijau, dengan prioritas bagi tenaga kerja lokal.


Dari sisi energi, fasilitas ini ditargetkan mampu menghasilkan listrik yang setara dengan kebutuhan sekitar 100.000 rumah tangga setiap tahun. Listrik tersebut akan dibeli oleh PLN melalui Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) jangka panjang sesuai ketentuan Perpres Nomor 109 Tahun 2025.


Pembangunan fasilitas Waste-to-Energy Bali juga melibatkan mitra teknologi internasional yang dipilih melalui proses seleksi ketat untuk memastikan penerapan teknologi pengolahan sampah modern yang aman, efisien, dan berkelanjutan. (Risma)


Tinggalkan komen