Romantisnya Gaya Pacaran Tempo Dulu

foto: jakartakita.com

Jakartakita.com – Bagi Anda yang menghabiskan masa muda pada zaman dahulu. Pasti tahu persis bagaimana susahnya berpacaran.

Orang ‘jadul’ sangat menjunjung tinggi norma. Bahkan zaman dahulu, bersalaman dengan kekasih dianggap tabu. Makanya tak heran kalau kasus remaja hamil di luar nikah tidak sebanyak sekarang.

Pada awal abad ke-19, pemuda Jakarta tidak punya banyak pilihan untuk pergi ‘hang out‘ dengan kekasih. Dahulu belum ada bioskop apalagi mal. Bahkan Ancol dahulu masih berupa rawa-rawa. Namun dahulu muda-mudi Jakarta mengenal Gedung Jodoh.

Disebut Gedung Jodoh, karena pada zaman dulu disinilah banyak pasangan kekasih memulai kisah percintaannya. Gedung yang sudah ada sejak tahun 1778 dan dikenal dengan nama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Himpunan Batavia Seni dan Ilmu Pengetahuan). Gedung Jodoh dibuka secara umum pada tahun 1868, yang mana berada di sisi jalan Koningsplein (Jl. Merdeka Barat no 12, Jakarta, Indonesia). Saat ini gedung tersebut lebih dikenal dengan Museum Gajah karena keberadaan patung gajah perunggu di muka gedung tersebut.

Di gedung inilah, dahulu setiap hari Minggu para pemuda Jakarta sering menyambangi tempat ini untuk mencari jodoh. Para remaja jaman dulu, berpenampilan semenarik mungkin untuk memikat lawan jenisnya. Tentunya, wanita akan berdandan ala noni Belanda dengan baju terusan dan rambut tergulung rol.

Sementara, jejakanya berdandan dengan rambut berminyak dan berjambul. Sementara, celananya menggunakan model cutbray dengan bagian paha mengetat dan bagian bawah melebar. Untuk atasan kemeja sedikit ketat dan kancing atas terbuka.

Pacaran tempo dulu tak perlu keluar banyak uang karena sedikit sekali kedai makanan yang bisa disambangi. Mungkin mereka cukup ngobrol ngalor-ngidul hingga kehausan baru mencari tukang es. Atau mengobrol sambil mengunyah kacang rebus berbungkus kertas koran.

Namun untuk lebih serius meminang pujaan hati, pemuda dulu perlu perjuangan keras. Pemuda harus berani main ke rumah si gadis pujaan, kalau dulu namanya ngelancong. Peraturan jaman dulu untuk ngelancong sangat ketat, tidak seperti sekarang.

Dulu, pemuda ngelancong (sekarang apel) ke rumah si gadis tidak akan bisa langsung menemui pujaan hatinya. Pria hanya boleh ditemani oleh calon mertuanya saat ngelancong.

Si gadis hanya boleh bertemu dengan calon suaminya dengan mengintip dari celah-celah jendela di sebelah dalam pintu rumah. Sementara si perjaka tetap tinggal di beranda luar sambil sebentar-sebentar mengintip ke arah jendela.

Karenanya ada jejaka yang nekat memilih duduk di bawah jendela. Sewaktu ayah si gadis lengah atau keluar rumah sebentar, sang jejaka memasukkan jari-jarinya ke cela-celah jendela.

Tentu saja disambut si gadis. Dan, keduanya merasa sukses bisa bersalaman dan remesan jari di malam itu. Ngelancong yang dilakukan tiap malam itu tidak boleh berlarut-larut.

Biasanya tidak lebih dua bulan. Kemudian ayah si gadis minta pada calon mantu supaya orangtuanya datang meminang putrinya.

Cara berkomunikasi pasangan kekasih zaman dahulu pun cukup rumit, karena dulu belum ada ponsel, internet. Maka surat pun menjadi satu-satunya alat komunikasi. Meskipun dekat, biasanya pasangan kekasih saling berkirim kabar lewat sepucuk surat yang dititipkan pada teman. Makanya tak heran orang tua kita punya setumpuk surat cinta kenangan masa lampau. Sedangkan pasangan kekasih zaman sekarang, seringkali tidak punya bukti otentik, romantisnya komunikasi antara mereka. Karena semua hanya lewat perantara pesan singkat atau email yang bisa terhapus kapan saja.

Jadi, romantis mana, pasangan jadul atau modern?

Gedung jodohMuseum GajahpacaranPemuda Jadul
Comments (0)
Add Comment