Sendratari Ramayana digelar di Balkondes Tuksongo Borobudur untuk Pertama kalinya oleh Mahajava Aksata Management.

Jakartakita.com – Pagelaran seni tari Sendratari Ramayana yang di selenggarakan oleh Yayasan Putro Ngudi Utomo Martowiyono sukses mencuri perhatian para wisatawan asing dan lokal.

Seni tari Sendratari Ramayana yang menceritakan akan bagaimana manusia hidup di bumi ini mengibaratkan manusia harus hidup dari sebuah buku, Candi Borobudur merupakan berwujudan buku yng harus di pelajari oleh manusia itu sendiri.

Elisabeth Nurhayati selaku Pendiri Yayasan yang membuat narasi sendratari dan kareografi pada bagian Shinta Obong dalam bentuk formasi Catra Borobudur.

Elisabeth Nurhayati mengatakan ” yang membedakan sendratari Ramayana Borobudur ini dengan sendratari Ramayana lainnya adalah pesan tentang Catra Borobudur. Bahwa Catra Borobudur sampai sekarang belum di pasang atau belum dikembalikan di tempat paling tinggi Candi. Dengan di gelarnya Sendratari ini, adalah upaya agar “spirit” Catra dapat kembali dengan harapan kembalinya Catra yang asli dan dipasang pada tempatnya,” ujar Bu Lisa dalam siaran pers di Yogyakarta, Jum’at (9/6).

Foto: Istimewa

Pelatihan budi pekerti, karawitan, tari, batik, matematika secara gratis dan juga pelatihan membangun ekosistem industri pariwisata yang dapat meningkatkan sektor perekonomian di tingkat menengah bawah.

Ada pesan memuat kombinasi sisi pertujukan, seni, dan spiritual yang juga harus tersampaikan”, tambah Ibu Lisa.

Pagelaran seni tari Sendratari Ramayana yang berlangsung pada 2 Juni 2023 lalu tersebut tak terlepas dari peran dan respon positif dari warga setempat.

Hal ini terbukti bahwa persiapan dalam 3 bulan sebelum hari H, ada sedikitnya melibatkan 100 orang yang berlatih, mulai dari penari, musisi dan kru lapangan.

Dari jumlah tersebut, 90 persennya adalah warga lokal setempat.

Foto: Istimewa

Wilayah Borobudur ada 20 desa salah satunya adalah yang ada di sekitar Balkondes Tuksongo.

Hasil Profit Pertunjukan Sendratari tidak terlepas dari Ekonomi dan budaya masyarakat sekitar, oleh karena itu kegiatan tersebut akan digelar secara kontinity dan terencana lalu diberikan secara sosial demi memajukan perkembangan ekonomi lokal masyarakat sekitar Borobudur.

Areal Candi Borobudur sendiri mempunyai aturan agar kegiatan wisata hanya dilakukan dari pagi sampai sore.

Akan tetapi Pagelaran Sendratari Ramayana ini juga sangat membantu pelaku usaha pariwisata, aktivitas malamnya juga akan diramaikan dengan kegiatan seperti ini.

Yayasan Putro Ngudi Utomo Martowiyono juga memberikan pelatihan kepada masyrakat sekitar Borobudur untuk bisa berperan sebagai pelaku usaha.

Pelatihan dan pendidikan ini bisa dalam bentuk seni dan budaya, management resto dan café agar potensi masyarakat bisa terus berkembang. (Foto: istimewa, Teks: Edi Triyono)

Comments (0)
Add Comment