Jakartakita.com – Kasus keracunan yang menimpa anak-anak sekolah akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) memuncullkan sorotan pada peran Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG).
SPPG adalah ujung tombak dalam pelaksanaan program pemenuhan gizi masyarakat, sehingga perlu dibekali dengan kompetensi yang mumpuni agar bisa memberikan pelayanan di dapur dan distribusi pangan yang sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) nasional.
Badan Gizi Nasional (BGN) terus berupaya memperbaiki layanan MBG secara komprehensif di semua wilayah. Salah satunya, Direktorat Penyedia dan Penyaluran Wilayah II BGN yang melaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) guna meningkatkan keterampilan dan kompetensi serta membekali para penjamah makanan di setiap SPPG dengan sertifikat kompetensi yang diterbitkan BGN.
“Kegiatan ini merupakan implementasi dan amanat dari rencana kerja BGN tahun 2025 sekaligus menjadi upaya serius BGN untuk meningkatkan kompetensi SPPG di wilayah Jakarta Selatan. Diharapkan dengan peningkatan kualitas MBG, untuk ke depannya, di Jakarta Selatan dan seluruh Indonesia akan zero case. Jadi, tak ada lagi istilah keracunan makanan, dan tak ada lagi anak-anak Indonesia yang sakit,” terang Rakha Maulana Abdilah, S.Sos, Sekretaris Korwil Jakarta Selatan/Kepala SPPG dalam Pembukaan Bimtek di Hotel Grand Sahid Jakarta, 18 Oktober 2025, dilansir dari siaran pers BGN, Sabtu, 18 Oktober 2025.
Peningkatan kemampuan dan keterampilan penjamah makanan dalam layanan MBG menjadi prasyarat penting untuk meningkatkan kualitas penyediaan MBG, mulai dari aspek pengadaan bahan pangan yang berkualitas, penyiapan bahan pangan yang baik, proses memasak, proses pemorsian serta pendistribusian MBG kepada penerima manfaat.
Dalam prosesnya, semua alur dan tahapan tersebut dilakukan dengan memenuhi syarat laik higiene sanitasi sehingga keamanan pangan terjaga hingga diterima penerima manfaat. Kegiatan Bimtek ini menjadi penting untuk meningkatkan kompetensi penjamah pangan agar dapat meningkatkan kualitasnya dalam layanan MBG sehingga kasus-kasus kerusakan makanan dapat ditekan.
Bimtek Penjamah Pangan yang digelar di kota Jakarta Selatan pada 18-19 Oktober 2025 tersebut diikuti oleh 1.400 peserta, terdiri dari kepala SPPG, ahli gizi, akuntan, dan relawan SPPG. Kegiatan Bimtek ini turut menghadirkan pemateri yang mewakili sejumlah instansi terkait, yaitu BPOM, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan, dan PERSAGI.
“Keamanan pangan dimulai dari tangan-tangan penjamah pangan yang kompeten. Melalui langkah strategis ini, BGN memperkuat kompetensi tenaga pelaksana SPPG serta memastikan seluruh unsur pelaksana SPPG memahami prinsip higienitas, sanitasi, serta pengendalian risiko pangan di setiap tahap pelayanan, sehingga proses penyediaan pangan berjalan aman, higienis, dan sesuai standar nasional,” tutur Dr Nurjaeni Ph.D selaku Direktur Penyedia dan Penyaluran Wilayah II BGN.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Bimtek Penjamah Pangan yang dilakukan oleh Direktorat Penyedia dan Penyaluran Wilayah II BGN secara serentak di 6 Provinsi di bawah koordinasi Wilayah II BGN yaitu DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, dan Jawa Timur dengan menghadirkan 30.800 peserta dari 616 SPPG.
Pelaksanaan Bimtek ini merupakan komitmen nyata BGN dalam memperkuat sistem keamanan pangan dari tingkat lokal hingga nasional. Selain memfasilitasi sertifikat kompetensi bagi penjamah makanan, BGN menggandeng 5.000 chef profesional dari Indonesian Chef Association (ICA) yang akan ditempatkan di 5.000 SPPG yang baru beroperasional di seluruh Indonesia.
Untuk meningkatkan standar kualitas dan keamanan pangan dalam layanan MBG diwujudkan pula dengan jaminan rapid test food secara berkala oleh Balai POM, pendaftaran Sertifikat Laik Higine Sanitasi (SLHS) yang diwajibkan bagi SPPG, pembelajaran melalui Learning Management System (LMS) dari Plataran Sehat Kementerian Kesehatan, keterlibatan tenaga ahli gizi guna memastikan keseimbangan nutrisi menu harian, keberadaan sertifikasi halal bagi setiap penyedia makanan di SPPG, serta penerapan SOP yang patut dipatuhi seluruh pelaksana SPPG.
Kombinasi teori dan praktik yang difasilitasi BGN melalui Bimtek tersebut diharapkan mampu menjadi bekal bagi para penjamah pangan agar mampu menciptakan budaya kerja higienis dan aman, serta mendorong penurunan risiko Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan di masyarakat. (Henry)