Jakartakita.com – PIM Pictures memperkenalkan film terbaru mereka Antara Mama Cinta dan Surga kepada publik dan media dalam rangkaian Press Screening dan Press Conference di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan. Film yang berkolaborasi dengan dengan HKBP dan BPODT ini menghadirkan drama keluarga yang mengangkat konflik klasik namun relevan lintas generasi: pilihan antara cinta, restu orangtua, dan masa depan.
Film yang akan tayang di bioskop mulai 19 Februari 2026 ini disutradarai oleh Agustinus Sitorus. Selain menyuguhkan kisah personal seorang anak yang terhimpit ekspektasi keluarga, film ini juga menghadirkan refleksi mendalam tentang komunikasi, pengorbanan, dan makna restu dalam keluarga Batak.
Film ini bercerita tentang Bernard (Aldy Maldini Siregar), anak bungsu Batak yang diinginkan menjadi seorang Pegawai Negri Sipil (PNS) sesuai tradisi keluarga. Namun, bertemu dengan Nommensen dalam beberapa mimpi spiritual membuatnya merasa terpanggil menjadi pendeta.
Keputusannya memicu konflik dengan sang Mamak (Dharty Manullang) dan mengguncang hubungannya dengan Anindita (Anneth Delliecia), di tengah benturan iman, cinta, dan nilai keluarga.
Bernard harus menghadapi tekanan besar dari sang ibu yang menginginkan ia menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan menikahi perempuan dengan pilihan keluarga. Di sisi lain, ia memiliki cinta dan impian yang berbeda di perantauan.
“Saya memilih konflik ini karena keluarga, cinta, dan keyakinan adalah tiga hal yang paling sering bertentangan dalam kehidupan nyata, namun jarang dibicarakan secara jujur.” terang Agustinus dalam konferensi pers di Epicentrum XXI, Senin, 16 Februari 2026.
Agustinus bahkan mengaku saat kecil pernah dihadapkan oleh orangtuanya untuk menjadi pendeta tapi akhirnya lebih memilih berkiprah di dunia film. Selain itu, berbeda dengan film sebelumnya, Wasiat Warisan (2025) yang sama-sama berlatar budaya Batak, cerita di film Antara Cinta, Mama, dan Surga terasa lebih dalam menampilkan budaya Batak.
Konflik antara tradisi keluarga Batak, panggilan iman, dan pilihan hidup generasi muda digambarkan melalui konflik batin anak bungsu yang terhimpit antara keyakinan, cinta, dan harapan keluarga.
Tekanan yang silih berganti, mulai dari dalam dirinya maupun dari lingkungan terdekat. Di tengah cinta yang tulus dan nilai-nilai keluarga yang dijunjung tinggi, perlahan menyadari bahwa setiap pilihan selalu punya konsekuensi.
Aldy Maldini, yang memerankan Bernard, mengaku karakter ini menjadi salah satu tantangan terbesarnya sepanjang karier.
“Ini pertama kali aku memerankan karakter yang benar-benar terhimpit. Biasanya karakterku dekat dengan diriku sendiri, yang seru dan suka bercanda,” kata mantan personel Coboy Junior dan CJR ini.
“Karakter Bernard ini beda karena berada di fase yang sulit—dia harus memilih antara keinginannya sendiri dan harapan orangtuanya. Itu yang bikin peran ini jadi yang paling susah buat aku,” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa proses pendalaman karakter dilakukan melalui diskusi intens bersama sutradara dan lawan main Anneth Delliecia untuk memahami konflik batin Bernard yang tidak selalu meledak secara verbal, tetapi lebih banyak dipendam.
Dengan latar budaya yang kuat, film ini menyoroti tekanan sosial, makna pengorbanan orangtua, serta keberanian menentukan masa depan sendiri sebagai refleksi tentang identitas dan kehidupan.
Bagi Anneth, film ini menjadi pengalaman layar lebar pertamanya. Ia memerankan Anindita, sosok perempuan yang berada di tengah pusaran konflik Bernard.
Anneth mengaku proses syuting menjadi pengalaman berharga, terutama karena film ini juga mengambil lokasi di Sumatera Utara terutama di kawasan Danau Toba.
“Ini film layar lebar pertama aku, dan rasanya spesial banget. Syuting di Toba itu pengalaman yang nggak terlupakan. Selain ceritanya kuat, suasananya juga terasa sangat emosional dan dekat,” ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa bekerja kembali bersama Agustinus Sitorus menjadi pengalaman yang menyenangkan dan membantunya lebih percaya diri dalam mengeksplorasi karakter. Salah satu karakter paling kuat dalam film ini adalah sosok Mamak yang diperankan oleh aktris senior Dharty Manullang.
Di permukaan, karakter ini tampak dominan dan memaksakan kehendak. Namun di balik itu, tersimpan ketakutan dan kasih sayang yang besar terhadap anaknya.
“Kadang kita sebagai ibu merasa paling benar. Kita pikir pilihan kita pasti yang terbaik. Padahal anaklah yang menjalani hidupnya. Dari film ini saya belajar, jangan sampai karena kita terlalu dominan, komunikasi dengan anak justru hilang,” tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa karakter Mamak tidak dimaksudkan sebagai antagonis, melainkan representasi banyak orangtua yang ingin anaknya sukses dengan cara yang mereka pahami.
Salah satu kekuatan film ini adalah absennya antagonis mutlak.
Setiap karakter bertindak atas dasar cinta dan keyakinan masing-masing. Konflik tidak dibangun dari kebencian, melainkan dari perbedaan cara memaknai masa depan dan kebahagiaan.
Novia Tumeang yang memerankan karakter “pilihan kedua” dalam hubungan cinta Bernard mengaku tertantang karena harus menghidupkan emosi yang belum pernah ia alami secara pribadi. Sementara Jenda Munthe menekankan pentingnya totalitas dalam setiap peran, besar maupun kecil.
Interaksi hangat antar pemain selama press conference juga menunjukkan kekompakan tim produksi yang solid dan suportif, mencerminkan energi positif yang turut terasa dalam filmnya.
Dibintangi juga oleh Kang Joe P Project, Cok Simbara, Dorman Manik, Dominique Sanda, Tabitha Napitupulu, Novia Situmeang, Rany Simbolon, Fadlan Holao, Jenda Munthe, Mark Natama, film drama keluarga ini mengangkat realitas budaya dan konflik batin.
Meski fokus utamanya menampilkan budaya Batak tapi tema ceritanya sangat universal dan relate dengan kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya. Konflik di dalam keluarga seperti hubungan antara orangtua dengan anak, sesama saudara kandung maupun antar teman dan pasangan yang ditampilkan rasanya juga banyak dialami orang Indonesia.
Untuk mengetahui pilihan hidup Bernard, apakah ia akan memenuhi panggilan hatinya atau harapan keluarganya? Saksikan Film Antara Cinta, Mama, dan Surga di bioskop mulai 19 Februari 2026. (Henry)