Jakartakita.com – Paris Saint-Germain kembali mengangkat trofi Liga Champions setelah menundukkan Arsenal lewat drama adu penalti, meski penampilan mereka sepanjang 120 menit jauh dari kata sempurna.
PSG mempertahankan mahkota Liga Champions setelah mengalahkan Arsenal dengan skor 4-3 melalui adu penalti pada partai puncak yang digelar di Puskas Arena, Budapest. Kedua tim bermain imbang 1-1 selama 120 menit sebelum pemenang akhirnya ditentukan dari titik putih.
Di balik keberhasilan tersebut, João Neves menunjukkan kualitasnya sebagai motor permainan di lini tengah dengan tampilan impresif selama 120 menit. Gelandang muda Portugal itu menjadi sosok penting dalam menjaga keseimbangan permainan sekaligus memutus berbagai serangan Arsenal.
Awal Buruk PSG: Kesalahan Marquinhos Jadi Petaka
PSG mengawali pertandingan dengan buruk. Sapuan Marquinhos yang salah membuat Kai Havertz lolos dan mencetak gol cepat untuk membawa Arsenal unggul. Sejak menit-menit awal itu, tim asuhan Luis Enrique harus mengejar ketertinggalan.
Meski mendominasi penguasaan bola, PSG tak kunjung mampu menembus tembok pertahanan The Gunners yang terorganisir rapat. Fabian Ruiz sempat punya peluang dari sundulan, namun gagal mengarah ke sasaran. Arsenal bahkan nyaris menggandakan keunggulan sebelum turun minum seandainya Marquinhos tidak melakukan blok krusial terhadap peluang kedua Havertz.
Dembélé Selamatkan PSG di Babak Kedua
Momentum PSG baru datang pada babak kedua ketika Khvicha Kvaratskhelia dijatuhkan Cristhian Mosquera di dalam kotak penalti. Wasit menunjuk titik putih dan Ousmane Dembélé berhasil menjalankan tugasnya dengan sempurna, menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Kvaratskhelia sempat kembali mengancam lewat aksi individu, namun peluangnya digagalkan kombinasi Myles Lewis-Skelly dan tiang gawang. Bradley Barcola yang masuk dari bangku cadangan pun membuang dua peluang emas, sementara David Raya tampil heroik di bawah mistar Arsenal.
Hingga babak tambahan usai, tidak ada gol tambahan dari kedua belah pihak. Takdir juara pun diserahkan ke titik putih.
Willian Pacho: Bintang Tersembunyi Final
Berdasarkan penilaian pemain yang dirilis Goal, bek tengah Willian Pacho menjadi salah satu pemain terbaik PSG di partai final ini. Bek asal Ekuador tersebut meraih nilai tertinggi 8/10 berkat penampilan solid dan konsisten sepanjang 120 menit, mampu meredam ancaman Kai Havertz yang merepotkan PSG sejak awal laga.
Achraf Hakimi dan Vitinha masing-masing mendapat nilai 7. Hakimi tampil aktif membantu serangan sekaligus disiplin saat bertahan, sementara Vitinha menjadi pengendali tempo permainan PSG dari lini tengah.
Lini Depan PSG Tampil Mengecewakan
Ironisnya, justru para bintang penyerang PSG yang paling banyak mendapat sorotan negatif.
Beberapa bintang lini depan Les Parisiens gagal menunjukkan performa terbaik mereka. Ousmane Dembélé hanya mendapat nilai 5 — meski mencetak gol penalti penyama kedudukan, kontribusinya secara keseluruhan dinilai kurang mengesankan. Kvaratskhelia yang berhasil memenangkan penalti pun hanya meraih nilai 5 karena gagal tampil dominan seperti biasanya.
Désiré Doué dan Bradley Barcola bahkan hanya mendapat nilai 4, sama-sama gagal memanfaatkan peluang yang tersedia.
Rating Lengkap Pemain PSG
Penjaga Gawang & Bek: Matvey Safonov 5 | Achraf Hakimi 7 | Marquinhos 6 | Willian Pacho 8 | Nuno Mendes 5
Gelandang: João Neves 5 | Vitinha 7 | Fabián Ruiz 5
Penyerang: Désiré Doué 4 | Ousmane Dembélé 5 | Khvicha Kvaratskhelia 5
Pemain Pengganti: Bradley Barcola 4 | Gonçalo Ramos 5 | Warren Zaïre-Emery 6 | Lucas Beraldo 5 | Illia Zabarnyi 5
Pelatih: Luis Enrique 6
PSG Juara, Arsenal Kembali Gigit Jari
Meski mendominasi penguasaan bola hampir sepanjang laga, pasukan Luis Enrique kesulitan menciptakan peluang bersih dan sempat frustrasi menghadapi pertahanan disiplin The Gunners. Namun pada akhirnya, mental juara PSG yang bicara.
Meski gagal menjadi juara, Arsenal sebenarnya tampil sangat baik, terutama dalam bertahan. Tim asuhan Mikel Arteta mampu membuat PSG frustrasi dalam waktu yang cukup lama, meski terus ditekan sepanjang pertandingan.
Bagi Arsenal, kekalahan lewat adu penalti ini kembali memperpanjang penantian mereka meraih gelar Liga Champions pertama sepanjang sejarah klub.