Jakartakita.com – Rasio kewirausahaan Indonesia masih berada di angka 3,29% dari total tenaga kerja atau sekitar 4,9 juta wirausaha, lebih rendah dibandingkan Singapura (8,76%), Malaysia (4,74%), dan Thailand (4,26%). Kondisi ini dinilai menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mencetak lebih banyak pengusaha baru yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Isu tersebut menjadi perhatian dalam National Founders Connect 2026 yang digelar Mata Garuda LPDP, organisasi resmi alumni penerima beasiswa LPDP. Forum ini mempertemukan para founder startup, investor, inovator, pelaku bisnis, dan alumni LPDP guna membahas pengembangan ekosistem kewirausahaan di Indonesia.
Dalam sesi Beyond Profit: Building Impact-Driven Businesses Across B2C & B2B Markets, Founder dan CEO Privy, Marshall Pribadi, menekankan bahwa bisnis yang mampu bertahan adalah bisnis yang lahir dari penyelesaian masalah nyata di masyarakat.
“Bisnis yang bertahan lama bukan dibangun karena melihat peluang sesaat, tetapi karena mampu menyelesaikan masalah yang benar-benar dirasakan masyarakat. Ketika solusi yang diberikan relevan, kepercayaan akan tumbuh dan bisnis memiliki fondasi kuat untuk berkembang,” ujar Marshall.
Privy sendiri berkembang sebagai penyedia layanan identitas dan tanda tangan digital yang kini telah dipercaya oleh 71 juta pengguna terverifikasi dan lebih dari 200.000 institusi serta perusahaan di Indonesia.
Sepanjang perjalanannya, Privy telah memfasilitasi lebih dari 156 juta dokumen yang ditandatangani secara elektronik, mendeteksi dan mencegah lebih dari 122 juta upaya kecurangan digital, serta memverifikasi sekitar 138 juta dokumen melalui layanan verifikasi digital.
Marshall juga mengingatkan para calon pendiri startup agar tidak terlalu fokus mencari pendanaan sejak awal.
“Yang paling penting adalah memahami masalah yang ingin diselesaikan dan memiliki komitmen membangun solusinya. Jika fondasi bisnis sudah kuat, investor biasanya akan datang sebagai mitra untuk mempercepat pertumbuhan,” jelasnya.
Pandangan tersebut didukung Managing Partner BNI Ventures, Eddi Danusaputro, yang menilai investor kini lebih selektif dan mengutamakan startup yang mampu menciptakan nilai nyata bagi pasar dengan arah pertumbuhan yang jelas.
Sebagai bagian dari penguatan ekosistem digital, Privy juga terus memperluas inovasi, mulai dari kemitraan dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sebagai mitra resmi Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE), pengembangan fitur Digital Identity, hingga rencana ekspansi Privy Personal Plan ke pasar global.
Menutup pemaparannya, Marshall mengajak para alumni LPDP untuk memanfaatkan ilmu dan jejaring yang dimiliki guna membangun bisnis yang berangkat dari kebutuhan masyarakat.
“Indonesia memiliki talenta luar biasa. Tantangannya adalah menciptakan lebih banyak ruang kolaborasi agar lahir inovasi yang mampu memberikan dampak besar bagi masyarakat sekaligus meningkatkan rasio kewirausahaan nasional,” pungkasnya. (Risma)
Foto: Privy