Jakartakita.com – Chief Investment Office (CIO) DBS merilis rekomendasi investasi untuk kuartal III 2026 dengan menyoroti pentingnya diversifikasi portofolio di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Emas, saham Asia di luar Jepang, serta aset alternatif dinilai menjadi pilihan menarik seiring meningkatnya risiko inflasi, ketegangan geopolitik, dan perubahan kebijakan moneter.
Dalam laporan bertajuk “Optimizing Market Drivers”, DBS menilai konflik geopolitik di Timur Tengah, meningkatnya belanja pertahanan, investasi besar di sektor kecerdasan buatan (AI), serta defisit fiskal yang lebih tinggi berpotensi mendorong inflasi bertahan lebih lama dibandingkan perkiraan pasar.
DBS merekomendasikan investor mempertahankan posisi netral pada saham dan obligasi secara keseluruhan, namun meningkatkan alokasi pada saham Asia di luar Jepang, obligasi korporasi berkualitas, emas, serta aset alternatif seperti private assets dan hedge funds.
Untuk pasar saham, DBS melihat momentum pertumbuhan masih didorong sektor teknologi dan AI. Meski demikian, investor disarankan menerapkan strategi diversifikasi dengan mengombinasikan saham bertema AI dan sektor defensif yang lebih tahan terhadap kenaikan harga energi.
Di pasar obligasi, DBS memilih obligasi korporasi berkualitas investasi (investment grade) dengan durasi lima hingga tujuh tahun. Sementara untuk pasar berkembang, investor diminta lebih selektif dengan mempertimbangkan negara yang memiliki ketahanan energi, kredibilitas kebijakan, serta fundamental ekonomi yang kuat.
DBS juga tetap optimistis terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Meskipun dalam jangka pendek harga emas dapat tertekan akibat kenaikan suku bunga, logam mulia tersebut dinilai masih memiliki prospek positif dalam jangka panjang seiring tren dedolarisasi dan meningkatnya ketidakpastian global.
Di sisi makroekonomi, DBS memperkirakan ekonomi Amerika Serikat masih tetap tangguh, sementara Eropa menghadapi tekanan lebih besar akibat inflasi dan dampak konflik geopolitik. Sementara itu, kawasan Asia dinilai tetap memiliki prospek pertumbuhan yang solid, didukung sektor teknologi, elektronik berbasis AI, dan kebijakan ekonomi yang lebih stabil.
DBS menyimpulkan bahwa disiplin dalam memilih instrumen investasi, diversifikasi lintas aset, serta fokus pada kualitas tetap menjadi strategi utama bagi investor menghadapi dinamika pasar sepanjang paruh kedua 2026.
Foto: DBS