Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Grab Taxi Rugikan Pengemudi Taksi?

324
foto: istimewa
foto: istimewa

Jakartakita.com – Aplikasi pemesanan taksi secara online, GrabTaxi, hadir di Indonesia sejak 2014. Saat ini sudah lebih dari 2.000 pengemudi taksi bergabung dengan GrabTaxi. Mereka berasal dari beberapa operator taksi di wilayah Jabodetabek dan Kota Padang, Sumatera Barat. Dan jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan semakin banyaknya pelanggan Grab Taxi.

Kehadiran Grab Taxi di Indonesia mengubah paradigma orang mengenai cara memesan taksi. Kalau sebelumnya konsumen taksi harus menelpon untuk order dan menunggu lama sebelum armada taksi datang menjemput kalau tidak mau menyetop taksi di pinggir jalan. Maka kini, konsumen hanya cukup mengklik aplikasi Grab Taxi untuk memesan taksi, dan aplikasi ini pun mengurangi waktu tunggu konsumen. Karena aplikasi ini menggandeng para pengemudi taksi dari beragam operator taksi.

Mekanismenya, Grab Taxi akan menggaet para pengemudi untuk jadi mitranya. Para pengemudi diberikan smartphone gratis untuk menunjang aktifitasnya sebagai mitra Grab Taxi dan diberikan pelatihan gratis tentang cara mengoperasikannya. Secara bisnis, Grab Taxi hanya berhubungan dengan para pengemudi, tidak dengan operator.

Sebenarnya operator Taxi Bluebird sudah lama merilis sitem pesan taksi lewat aplikasi mobile. Namun, karena aplikasi ini hanya terbatas untuk armada taksi Bluebird, seringkali pada jam sibuk konsumen juga harus menunggu lama sebelum dijemput. Adanya Grab Taxi, memudahkan konsumen untuk mendapatkan taksi apa saja asal aman dalam sekejap.

Di sisi konsumen, tentu saja ini menguntungkan. Apalagi Grab Taxi menawarkan beragam promo untuk menggaet konsumen. Dari potongan ongkos taksi Rp 10.000 hingga gratis sama sekali. Zaman sekarang, siapa sih yang tidak mau naik taksi gratis? Apalagi GrabTaxi menjamin keamanan penumpang. Dengan adanya sistem GPS, jalur taksi bisa terus terpantau oleh Grab Taxi.

Animo konsumen taksi yang tinggi akan keberadaan Grab Taxi terlihat dari jumlah pengunduh aplikasi ini yang setiap bulannya meningkat hingga tiga digit. Wow! Namun, apakah hal serupa juga ada pada para pengemudi mitra Grab Taxi?

Di lapangan, jakartakita.com menemukan dua golongan supir taksi yang kebetulan mitra Grab Taxi. Golongan pertama yang merupakan new comer di Grab Taxi, layaknya tenaga marketing handal dengan semangatnya berpromosi kalau dengan adanya Grab Taxi, penumpangnya jadi banyak. Si pengemudi juga menceritakan jumlah nominal deposit yang didapatnya dari Grab Taxi. Tak lupa bercerita pengalaman konsumennya yang ‘terharu’ karena naik taksi gratis berkat Grab Taxi.

Tak sedikit pengemudi yang merasa kecewa sekaligus khawatir dengan keberadaan Grab Taxi. Salah satunya Pak Ngatno, seorang pengemudi taksi terkemuka yang pernah menjadi anggota Grab Taxi namun ’emoh’ untuk jadi anggota lagi. Ngatno mengaku beberapa hari ini sering ditelpon pihak Grab Taxi menanyakan alasan mengapa ia tak mau lagi jadi mitra. Pak Ngatno hanya beralasan pada mereka kalau sekarang saingannya banyak.

Padahal Pak Ngatno sebenarnya baru menyadari kalau selama ini dirinya ‘dikerjai’ Grab Taxi. Pak Ngatno pun bercerita panjang lebar.

Dimulai dari bekal smartphone dari Grab Taxi. Sebenarnya tidak gratis. Melainkan pengemudi harus mencicil. Bagaimana cara mencicil?

Dari promo-promo potongan harga atau promo gratis untuk konsumen, pengemudi mengumpulkan deposit yang tidak bisa diambil langsung saat itu juga namun diakumulasi. Deposit akan dipotong untuk cicilan smartphone sebesar harga yang ditentukan.

Misalkan penumpang pesan taksi dengan promo potongan harga Rp 15.000. Setelah sampai di tujuan ternyata argo yang tertera Rp 45.000. Maka konsumen taksi hanya perlu membayar ongkos Rp 30.000. Sedang Rp 15.000 akan diakumulasikan ke dalam deposit pengemudi yang hanya bisa dicairkan dalam periode tertentu. Itupun tidak bisa diuangkan semuanya karena ada minimum saldo.

Pak Ngatno mengajak saya berpikir, “Coba bayangkan kalau dalam sehari saya membawa penumpang yang seluruhnya mendapat promo dari Grab Taxi. Itu berarti akan mengurangi pendapatan saya dalam sehari dan sudah pasti akan mengurangi uang yang saya bawa pulang setelah dikurangi setoran”.

Pak Ngatno juga mengungkapkan kekhawatirannya. Bila Grab Taxi semakin besar dan semakin banyak pengguna Grab Taxi. Bukan tak mungkin Grab Taxi juga akan berinvestasi membuat armada taksi sendiri untuk memenuhi permintaan konsumen. Hal ini pasti didukung para pengguna Grab Taxi yang sudah ‘kadung’ cinta karena iming-iming potongan harga, gratis ongkos taksi, cepat dan aman. Semua yang serba memuaskan. Jika ini terjadi, tentu saja akan mematikan operator taksi yang sudah terlebih dahulu eksis. Wah alasan yang masuk akal ya.

Bagaimana menurut Anda?

1 Comment
  1. hewes says

    Benar jg cara pemikiran pak ngatno,skrg klo ada komplain dr customer,komplainnya kpd siapa,tdk ada tarif minimum,klo ada promo 15.000 trs argonya d bwh 15.000 pengemudi tmbh rugi

Leave A Reply

Your email address will not be published.

IndonesianEnglishDutchChinese (Simplified)Malay
%d bloggers like this: