Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Hj. Sias Mawarni, Wanita Perkasa di Balik Kelezatan Es Krim Ragusa

327

Hj. Sias Mawarni dan Pegawai SetianyaJakartakita.com –  Siapa yang tak kenal dengan es krim legendaris Ragusa? Es krim Italia yang berada di Jalan Veteran No. 1 Jakarta Pusat ini tak hanya menyajikan aneka es krim khas Italia nan lezat, seperti; spaghetti eskrim, coup de maison, tutti frutti, cassata sicialiana, banana split dan es krim aneka rasa lainnya. Tetapi juga nilai historis yang menyertainya.

Sebegitu terkenalnya kedai es krim Ragusa. Namun, tak banyak yang tahu kalau kedai itu tak akan setenar sekarang tanpa keberadaan seorang wanita perkasa bernama Hj. Sias Mawarni.

Berdasarkan catatan dari berbagai sumber, kedai krim Ragusa didirikan oleh dua orang berkebangsaan Italia yang bernama Luigie Ragusa dan Vincenzo Ragusa. Mereka datang ke Batavia pada tahun 1930-an untuk belajar menjahit di daerah Jakarta Pusat. Setelah lulus, kedua bersaudara tersebut pergi ke Bandung dan bertemu dengan seorang wanita Eropa yang memiliki peternakan sapi dan memberikan banyak susu sapi kepada mereka. Susu sapi tersebut dimanfaatkan Luigie dan Vincenzo sebagai bahan untuk membuat es krim Italia yang ternyata banyak disukai. Dengan dibantu oleh tiga orang saudara laki-laki lainnya membangun toko es krim Ragusa pertama di Jalan Pos (sekarang Jalan Naripan), Bandung. Dalam menjalankan usahanya, Ragusa dibantu oleh Jo Giok Siaw (Yo Giok Siang), seorang teman di sekolah menjahit.

Luigie dan Vincenzo mulai menjual es krim mereka di Pasar Gambir sejak tahun 1932. Namun karena tempat tersebut hanya ramai setahun sekali, mereka membuka kafe di Citadelweg (sekarang Jalan Veteran I no. 10), Jakarta Pusat pada tahun 1947. Pada tahun 1945-1972, penjualan es krim ini sempat menurun karena banyaknya pelanggan warga negara asing yang pulang ke negaranya. 

Es Krim RagusaSalah seorang dari lima bersaudara Ragusa, yaitu Francesco Ragusa menikah dengan anak perempuan Yo Giok Siang yang bernama Liliana. Pada tahun 1970-an, Ragusa bersaudara dan Liliana pindah ke Grottaglie, Taranto , Italia dan menyerahkan usaha es krim mereka ke adik Liliana yang bernama Buntoro Kurniawan (Yo Boen Kong) dan istrinya Sias Mawarni (Lie Pik Yin). Dan hingga kini, es krim Ragusa masih dikelola oleh Hj. Sias Mawarni.

Tak hanya mengelola Ragusa, ternyata ibu tiga anak dan nenek enam cucu  yang jebolan satra Cina itu  juga menjadi dosen terbang bahasa Mandarin di berbagai universitas ternama di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, Sias juga sering mengirim sebagian muridnya yang berprestasi ke Cina dan Hongkong.

Di usianya yang hampir 73 tahun, hari-hari Sias padat dengan segudang aktivitas. Sebagai pendiri Yayasan Seni Indonesia Baru, ia dan sang kakak juga mengajar tari daerah bagi anak-anak. Sejak didirikan tahun 1999, sudah puluhan kali Sias memboyong para penari yang jadi duta bangsa ke pentas di luar negeri.

Berbekal kebaikan yang diajarkan keluarganya, Sias Mawarni tak pernah melihat etnis, ras, dan agama untuk menebar kebaikan. Sias selalu memperlakukan orang lain sebaik mungkin. Bahkan kepada orang yang nyata-nyata memusuhinya. Makanya tak heran kalau hampir semua karyawannya adalah karyawan lama yang telah lebih dari 20 tahun bekerja di kedai es krim Ragusa. Tak hanya memperlakukan karyawannya dengan baik. Sias juga sering mengajak karyawannya bergantian menemaninya jalan-jalan ke luar negeri.Sias pun menyisihkan sebagian dari keuntungannya untuk membiayai ratusan anak yang kurang mampu.

Pengunjung kedai es krim Ragusa yang ramai juga menjadi berkah bagi pedagang kaki lima di sekitarnya. Sias pun membiarkan pedagang asinan betawi, sate ayam dan otak-otak untuk ikutan mengais rezeki di halaman kedai es krimnya tanpa dipungut bayaran. Namun, sayangnya para pedagang kaki lima malah membanderol harga makanannya cukup mahal. Untuk seporsi otak-otak yang biasa di jual Rp 5 ribu dibanderol dengan harga Rp 25 ribu.

Suatu hari Sias berang dan mengancam akan mengusir mereka kalau tetap bandel membanderol harga gila. Lagipula para pembeli makanan mereka duduk di kedainya. Jadi seharusnya mereka tak perlu menjual harga mahal untuk menutupi harga sewa. Namun, ancaman Sias dianggap berbeda oleh pedagang kaki lima. Sias pun pernah diancam akan ditusuk oleh mereka. Namun, Sias yang dikenal baik dilindungi banyak orang.

Hingga detik ini para pedagang kaki lima masih ikut mengais rezeki di depan kedai. Namun, Sias tak ambil pusing. Toh, semua ada rezekinya masing-masing.

Sibuk berkecimpung di dunia bisnis tidak membuat Sias Mawarni Saputra mengabaikan keluarga. Baginya, keluarga adalah sesuatu yang paling berharga. Apalagi dukungan keluarga sangat mendukung perkembangan bisnis-bisnisnya. Di usia yang tidak muda lagi, Sias merasa harus menyiapkan generasi yang bisa meneruskan bisnisnya. Sang putri pertamanyalah, Yenny Rita, yang antusias meneruskan bisnis tersebut.

Di akhir perbincangan dengan Jakartakita.com, Hj. Sias Mawarni sempat berpesan kepada saya untuk selalu menyayangi orang tua, khususnya Ibu. Karena Ibu telah berjuang antara hidup dan mati demi untuk menghadirkan kita di dunia. Sang nenek perkasa ini juga berpesan untuk selalu berbuat baik kepada sesama tanpa membeda-bedakan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

IndonesianEnglishDutchChinese (Simplified)Malay
%d bloggers like this: