Jakartakita.com
Berita Jakarta, Info Jakarta Terkini, Berita Nasional, Bisnis Jakarta

Beginilah Cara Mengantisipasi Serangan Maut Hipertensi

0 721

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tiket Pesawat Murah Airy

foto: istimewa
foto: istimewa

Jakartakita.com – Depresi, stres, merupakan salah satu faktor yang mempercepat serangan maut hipertensi ataupun stroke. Penelitian terakhir menyebutkan bahwa stres dan depresi dapat meningkatkan risiko stroke hingga 114 persen. Hal ini bisa terjadi tiba – tiba, tanpa gejala sama sekali.

Dilansir dari Time (16/5/2015), apabila depresi yang dimiliki seseorang sudah cukup kuat mencengkeram pikiran, maka efeknya akan nyata dalam kesehatan fisik orang tersebut.

Tak hanya berimbas pada stroke, depresi pun ternyata dapat meningkatkan risiko penyakit diabetes tipe 2, bahkan juga dapat menyebabkan kematian yang diakibatkan penyakit jantung dan penyempitan pembuluh darah, ini didapat Jakartakita.com dari Journal of the American Heart Association.

Pria atau wanita yang berusia 50 tahun, dan memiliki gejala depresi yang terus menerus, akan tetap menanggung risiko terserang stroke nantinya, ini akan terjadi walaupun mereka menyatakan depresi mereka sudah membaik.

Artikel Terkait
1 daripada 4

Menurut analisa para peneliti, lebih dari 16 ribu orang berusia 50 tahun dan lebih sudah terdampak akan terkena serangan stroke. Data ini, diambil dari mereka yang diteliti tiap dua tahun selama periode 1998-2010. Orang yang diteliti dan memiliki riwayat stroke, faktor risiko stroke dan gejala depresi.

Ditambahkan pula, bahwa orang-orang yang gejala depresinya sudah mereda pun ternyata tetap berisiko tinggi terkena stroke dibanding mereka yang tanpa gejala depresi.

“Kami tak tahu jika kami meneliti individu yang bebas dari gejala depresi dalam waktu lama apakah risiko strokenya juga lebih rendah,” ujar penulis hasil penelitian Paola Gilsanz, dari Harvard T.H. Chan School of Public Health. “Untuk mengetahui hal tersebut lebih lanjut, kami membutuhkan penelitian yang lebih besar.” lanjutnya.

Namun meski data menyebutkan bahwa mengobati gejala depresi tidak secara langsung mengurangi risiko stroke, para peneliti tetap menekankan pentingnya penanganan secara dini.

“Kami juga merekomendasikan bagi orang yang mengalami depresi, agar juga fokus pada perawatan kesehatan secara menyeluruh. Termasuk pencegahan stroke, sebagaimana orang yang sehat lainnya,” kata Gilsanz.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan komen

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More