Jakartakita.com
Berita Jakarta, Info Jakarta Terkini, Berita Nasional, Bisnis Jakarta

Fenomena Selfie

708
foto: istimewa
foto: istimewa

Siapa yang tidak pernah menjepret foto selfie? Dari semua kalangan lintas usia, foto narsis diri itu kini sedang tren dan jadi fenomena baru di jagat media sosial. Ya, foto selfie memang lahir dan besar, seiring dengan perkembangan media sosial.

Selfie adalah sebuah fenomena, di mana seseorang memotret diri sendiri, dengan menampilkan wajah maupun seluruh tubuh. Foto selfie biasanya dilakukan dengan menggunakan smartphone atau tablet, yang kemudian di posting ke media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan jejaring sosial lainnya. Tentu saja, dari sekian banyak foto selfie, hanya foto-foto terkeren saja yang diposting. Begitu populernya selfie, hingga Oxford menobatkan kata ini sebagai Word of The Year pada tahun 2013.

            Foto selfie memuat adegan sang fotografer yang sedang memegang kamera dengan satu tangan. Foto selfie tidak hanya didominasi oleh kaum hawa, namun juga kaum adam. Gayanya pun beranekaragam. Namun, gaya mirip bebek (duck face) dan mirip burung pipit (sparrow face) menjadi gaya andalan para pencinta selfie.

Pada gaya duck face, pengguna cukup memanyunkan bibir secara sensual dengan mata yang disipit-sipitkan. Apakah gaya tersebut bisa dikategorikan sebagai pose alay? Tergantung bagaimana Anda menyikapinya. Jika di Indonesia, mungkin bisa dibilang demikian. Namun nyatanya di luar sana ekspresi tersebut cukup tren.

Sedang pada gaya sparrow face, pengguna menekuk wajah sedemikian rupa, dengan membelalakkan mata serta bibir yang seolah-olah akan sedang meniupkan sesuatu. Persis dengan bentuk mulut burung pipit. Pose ini mulanya tren di Jepang.

Fenomena foto selfie dianggap sebagai simbol narsisme di era keemasan media sosial. Bahkan para pesohor dunia, seperti Barack Obama pun pernah melakukan foto selfie yang beredar di media sosial.

Konon, foto selfie sudah ada jauh sebelum media sosial lahir. Pada tahun 1935, seniman Belanda M.C Escher sempat membuat potret dirinya yang diberi judul ‘Tangan dengan bola refleksi’. Karya ini sangat serupa dengan foto selfie, memuat ciri-ciri yang sama dengan foto ‘selfie’ masa kini. Bahkan, menurut berbagai sumber sejarah, foto mirip selfie sudah ada sejak abad  ke-12. Mungkin, saat itu foto selfie lebih mirip lukisan diri, bukan foto yang beredar seperti zaman sekarang ini.

Kini, saat media sosial menjadi booming, semakin banyak orang yang terobsesi untuk berlomba-lomba membuat foto selfie terbaik. Cobalah tengok, akun media sosial Anda. Pastilah timeline Anda dipenuhi oleh foto-foto selfie para penghuni media sosial. Bahkan, ada teman di jaringan saya yang tidak bosan-bosannya memposting foto selfie sepanjang hari, dari bangun tidur hingga tidur lagi.

Saya bukan seseorang yang anti selfie. Sesekali saya juga memposting foto selfie terbaik di akun media sosial saya. Walau saya penyuka gaya selfie teman-teman saya, namun sama seperti kebanyakan pengguna media sosial, pasti akan muak juga kalau timeline kita dipenuhi oleh foto selfie orang yang itu-itu saja.

Tahukah Anda, kalau ternyata seseorang yang sedemikian sering memposting foto selfie ternyata memiliki gangguan mental?

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Time, orang yang terobsesi dengan selfie secara psikologis diklaim mengalami gangguan mental. Sebab, hobi memotret diri sendiri merupakan refleksi sikap yang merasa diri cantik dan sempurna dibandingkan orang lain. Selain itu, selfie juga merupakan bukti rasa percaya diri yang rendah.

foto: istimewa
foto: istimewa

Pada sejumlah kasus, orang-orang sampai terobsesi mempersembahkan foto selfie terbaik untuk follower-nya di media sosial dengan berbagai cara. Walaupun akhirnya foto selfie mereka berujung maut.

Salah satu foto selfie yang menghebohkan di tahun 2014 adalah milik Xenia Ignatyeva. Remaja cantik ini harus rela membayar aksi selfie nekatnya dengan kematian akibat melakukan aksi selfie di ketinggian.

Gadis yang baru saja menginjak usia 18 tahun ini adalah seorang fotografer amatir. Dia baru memiliki kamera yang telah terbeli saat berusia 17 tahun. Kamera itu sangat istimewa bagi Xenia karena dia dapatkan setelah bekerja part time. Sehingga tak heran jika dia begitu ingin mengabadikan diri dengan kamera itu di tempat-tempat yang istimewa.

Hingga akhirnya Xenia memberanikan diri untuk berfoto secara dramatis dan penuh resiko, yakni di atas ketinggian. Xenia memilih konstruksi jembatan Krasnogvardeysky. Naik ke atas konstruksi itu, Xenia berhasil mendapatkan foto-foto spektakuler yang dia mau. Namun nahas ketika Xenia tiba-tiba kehilangan keseimbangannya dan terjatuh di sisi jembatan.

Xenia mencoba bertahan dengan meraih sebuah kabel. Namun kabel yang diraih Xenia itu adalah kabel tegangan tinggi yang langsung menyengat tubuhnya hingga tewas. Mayat Xenia akhirnya terjatuh ke beton di bawahnya dengan kondisi tidak bernyawa, seperti dilansir Mirror. Apa yang dialami oleh Xenia ini memang begitu menyedihkan, karena demi sebuah foto, dia kehilangan nyawa.

foto: istimewa
foto: istimewa

Lain Xenia, lain lagi dengan Eri Yunanto (21),  mahasiswa Atmajaya jurusan Teknik Mesin yang terjatuh di kawah Gunung Merapi. Ternyata sebelum terjatuh ke kawah, Eri sempat berfoto selfie di puncak Gunung Merapi. Puas berfoto-foto di tempat yang ‘mengerikan’. Eri dan seorang temannya, Dicky pun turun. Saat hendak turun dari puncak Garuda itulah Eri tak menyadari bila posisinya terlalu pinggir sekali.

Hingga akhirnya, dalam  hitungan detik, Eri terjatuh ke dalam kawah. Melihat rekannya jatuh, Dicky panik. Kemudian Dicky pun langsung turun ke pos dimana rekan-rekannya yang lain menunggu, untuk bersama-sama melaporkan jatuhnya Eri ke dalam kawah.

Kalau Xenia dan Eri, terobsesi membuat foto selfie keren di tempat-tempat ekstrem, maka lain lagi yang dilakukan oleh Triana Lavey 38 tahun. Wanita Los Angeles, AS ini rela merogoh kocek hingga USD 15.000 atau setara dengan RP 174.000.000 untuk berbagai implan operasi plastik pada wajahnya agar mendapatkan hasil selfie idamannya.

Memang keinginan tampil sempurna saat selfie seperti menjadi keharusan. Dapat dilihat dengan menjamurnya berbagai aplikasi untuk mengedit foto agar terlihat indah. Camera 360 salah satunya dan yang paling banyak digandrungi pecinta selfie saat ini. Hayo siapa di antara Anda yang merupakan pengguna aplikasi tersebut demi foto selfie idaman?

Mungkin hasil selfie editan, membuat penampilan Anda tampak lebih cantik dan menarik. Namun, bagaimana dengan realitanya? Apakah Anda secantik seperti di foto?

Inilah yang akhirnya menimbulkan pertanyaan dari lingkungan sekitar mengenai diri Anda. Tak jarang, dalam sejumlah kasus, beberapa orang malah berakhir menjadi bahan olok-olok di media sosial.

Banyak pelaku selfie adalah mereka yang kebetulan memiliki wajah cantik dan ganteng. Ketika mereka penggila selfie yang cantik dan ganteng, begitu sering memposting fotonya di media sosial. Hal ini tentu saja memancing rasa iri bagi mereka yang kebetulan tidak dianugerahi wajah yang indah.

Selain masyarakat pada umumnya, sejumlah selebriti dunia juga kegandrungan dengan selfie. Nah, melihat para selebriti rupawan tersebut berpose begitu menawan, tak pelak menciptakan standardisasi kecantikan di luar jangkauan. Akhirnya, tren ini pun menciptakan krisis identitas pada sebagian wanita, terutama yang berusia muda. Alhasil, tak sedikit dari mereka yang melakukan langkah ekstrem, seperti diet berlebihan dan operasi plastik, seperti yang dilakukan oleh Triana Lavey di cerita atas.

Bahkan Asosiasi Psikiater Amerika sempat mengeluarkan pernyataan jika keinginan yang kuat untuk tampil sempurna dalam selfie dan para selfitis (keranjingan selfie) adalah bagian dari gangguan kejiwaan.

Salah satu selebritis yang merupakan ratu selfie adalah Kim Kardashian. Jika sempat menyaksikan dua episode terakhir “Keeping Up with Kardashian” belum lama ini, hampir seluruh episode itu penuh dengan aksi Kim ber-selfie ria.

Episode tersebut menampilkan aktivitas keluarga besar Kardashian menghabiskan liburan di Phuket, Thailand. Sementara anggota keluarganya asyik bersenang-senang bersama, ibu satu putri itu memilih memisahkan diri. Ia malah sibuk berfoto selfie. Bahkan sang adik, Khloe, terlihat muak melihat hobi sang kakak.

Itulah Kim. Artis seksi itu, tampaknya tak bisa hidup tanpa foto. Saking gandrungnya dengan selfie, Kim sempat berpikir soal mempublikasikan buku selfie. Ide tersebut sempat ia utarakan saat makan malam bersama keluarganya di Thailand, dan, rencana Kim akhirnya akan segera terwujud.

Seperti dikabarkan eonline.com, istri Kanye West itu telah menandatangani kontrak dengan penerbit Rizzoli untuk mempublikasikan buku yang berisikan foto-foto selfie miliknya yang berjumlah 1.200 foto. Tak tanggung-tanggung, buku yang diberi judul “Selfies” itu memiliki tebal 352 halaman.  Anda bayangkan saja, ada berapa banyak foto selfie Kim di buku tersebut. “Selfies” akan memenuhi rak toko buku pada April 2015 mendatang. Harganya 19,95 dolar AS atau berkisar Rp 220.000.

Namun, rasanya jumlah foto selfie dalam buku “selfies” milik Kim Kardashian, belum seberapanya dengan jumlah foto selfie di akun Instagram Maotor yang mencapai 12.000 foto. Setiap minggunya, Mortao Maotor (bukan nama asli) mengunggah 200 foto diri. Namun, wanita asal Thailand tersebut menyangkal bahwa dirinya adalah wanita kurang kerjaan yang “gandrung” pamer foto di media sosial. Sebab, menurut dia, tidak semua foto dalam akun Instagram-nya berupa selfie. Selain foto diri, beberapa foto makanan dan foto kaki juga tampak sering meramaikan akun Maotor.

Lalu, siapakah sebenarnya Maotor? Ternyata, perempuan berusia 40-an yang dijuluki ratu selfie ini bukan selebriti, melainkan istri dari pemilik galeri seni, Room of Art, yang berlokasi di Bangkok, Thailand.

Penelitian yang dipublikasikan pada Psychology Today menunjukkan, orang yang gemar selfie umumnya haus perhatian dan menginginkan atensi lebih dari lingkungannya. Bahkan hasil penelitian di Inggris menunjukkan bahwa banyak pertemanan dan hubungan rusak karena salah satu pihak gemar selfie. Sebab, banyak orang mengaku muak melihat orang yang sering berpose selfie dan mengunggahnya ke media sosial.

Menjadi narsis dengan berfoto selfie bukanlah sebuah ‘dosa’. Hal itu sah-sah saja, asal tidak dilakukan berlebihan. Kasihanilah, follower Anda. Lama-lama mereka juga bisa muak kalau setiap hari disuguhi kumpulan foto diri Anda.

Sesekali memposting foto selfie, boleh dong. Lalu bagaimana agar foto selfie Anda menarik dan tidak membosankan bagi follower Anda?

Perlu Anda ketahui bahwa selfie terbaik adalah yang mengandung informasi baru dan menarik untuk orang lain, seperti; gaya rambut terbaru Anda, hobi unik, liburan Anda, atau peristiwa terkini lainnya. Jadi, hindarilah memotret diri sendiri dengan kesan bahwa Anda merasa cantik dan seksi. Sebab, hal yang demikian hanya akan membuat orang-orang muak.

Faktor pencahayaan adalah faktor nomor satu pendukung foto selfie yang baik. Pencahaan paling sempurna adalah cahaya alami dari sinar matahari. Saya sering melihat foto selfie dari amatiran, yang tampak blur karena pencahayaan kurang. Tentu saja itu membuat saya bingung, sebenarnya teman saya ingin memamerkan apanya?

Carilah lokasi atau latar selfie yang menarik. Anda bisa mengatur lokasi foto di depan interior resto yang artistik dan unik, di tengah pertunjukan konser, dan jika memungkinkan berposelah di suatu tempat yang monumental. Hasil selfie yang didukung dengan latar menarik akan memberikan nilai lebih dan tujuan untuk membuat teman-teman kagum pun lekas tercapai.

Daripada sibuk mempermak hasil jepretan Anda dengan aplikasi. Atau membuat gaya standar ala duck face, lebih baik Anda berusaha tampil cantik apa adanya agar tidak di bully.

Teknik pengambilan foto, juga mempengaruhi hasil akhir foto selfie. Pose selfie terbaik untuk setiap wajah adalah dengan memiringkan kepala dan membentuk sudut 3/4. Hal ini akan memberikan efek kurus dan simetris pada wajah. Penggunaan tongkat narsis (tongsis), juga dapat menolong agar pose selfie Anda sempurna.

Selamat ber-selfie ria!


Pasang Iklan Gratis @ jakartakita.com - klik iklan.jakartakita.com

Interested in writing for Jakartakita.com? We are looking for information and opinions from experts in a variety of fields or others with appropriate writing skills.
The content must be original on the following topics: lifestyle (beauty, fashion, food), entertainment, science & technology, health, parenting, social media, and sports.
Send your piece to redaksi@jakartakita.com

Open chat
1
Hello can we help you?