Jakartakita.com
Berita Jakarta, Info Jakarta Terkini, Berita Nasional, Bisnis Jakarta

Gerhana Matahari Total Ternyata Membuat Lumba-Lumba Jadi Lebih Tenang

466
foto: Jakartakita.com/Agivonia VIdyandini
foto: Jakartakita.com/Agivonia VIdyandini

Jakartakita.com – Ocean Dream Samudra (ODS) Ancol  dan Peneliti Biodiversitas dan Konservasi Pusat Penelitian Oseanografi LIPI mengajak siswa-siswi SMP Sekolah Rakyat Ancol dan Komunitas Teens Go Green untuk melakukan pengamatan aktivitas hewan mamalia laut lumba-lumba saat terjadinya Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016, di Ocean Dream Samudra Ancol, Jakarta, Rabu (9/3/2016).

Setelah dalam waktu setengah jam para pengunjung mengamati aktivitas hewan mamalia tersebut, Hagi Yulia Sugeha, Perwakilan Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, mengatakan perilaku lumba-lumba melakukan sembunyi di bawah permukaan air saat Gerhana Matahari Total (GMT) yang terjadi pada pada pukul sekitar pukul 07.25 pagi tadi. Hewan ini menurutnya lebih banyak berdiam diri saat pengamatan berlangsung selama 10-15 menit.

“Yang paling dominan dia berdiam diri, nyaris tidak melakukan aktivitas berenang yang melompat-lompat dan bergulung-bergulung. Bersembunyi di permukaan air. Itu salah satu penanda dia merespon, ada sesuatu yang beda. Pada kondisi normal di laut, seluruh biota laut, tidak hanya lumba-lumba, turun 20 hingga 50 meter,”” kata Yuli

Padahal, biasanya mamalia laut ini saat kerap melompat sampai 2 meter dan bernafas menyemburkan udara di atas permukaan air. Akan tetapi saat GMT berlangsung tidak ada yang melompat, hanya ada yang menimbulkan kepala sedikit di permukaan air untuk bernapas dengan tenang dan tidak menggulingkan badan. Kemudian lumba-lumba juga telentang untuk beristirahat, sebab ia merasakan saat itu malam hari.

Artikel Terkait
1 daripada 10
foto: Jakartakita.com/Agivonia Vidyandini
foto: Jakartakita.com/Agivonia Vidyandini

Saat GMT terjadi, dua lumba-lumba berdiam di bawah permukaan air secara berdampingan. Kemudian ada yang berenang dengan tubuhnya yang terlentang, itu artinya sedang beristirahat. Lalu lumba-lumba yang terakhir berenang dengan tenang sambil memunculkan hidungnya ke permukaan air. Sehingga, hewan yang sangat ramah dengan manusia ini merespon efek GMT dengan berpencar.

Yuli juga  mengatakan idealnya penelitian terhadap hewan mamalia ini dilakukan di daerah alam terbuka, lautan luas dengan menggunakan kapal. Sejauh ini menurutnya nyaris tidak pernah ada pengamatan seperti itu. Kemungkinan hanya terjadi di luar negeri, seperti di Amerika dan Eropa.

“Secara ilmiah penelitian ini belum memenuhi standar sepenuhnya, karena banyak orang. Tapi karena ini ada unsur edukasi, saya kira ini sudah lebih dari cukup,” ucaprnya.

Pada prinsipnya mamalia laut hidup di alam terbuka, seperti lumba-lumba bermigrasi jarak jauh. Hewan ini datang dari Lautan Pasifik memasuki perairan Indonesia maupun Samudra Hindia. (Agivonia Vidyandini)


Pasang Iklan Gratis @ jakartakita.com - klik iklan.jakartakita.com

Interested in writing for Jakartakita.com? We are looking for information and opinions from experts in a variety of fields or others with appropriate writing skills.
The content must be original on the following topics: lifestyle (beauty, fashion, food), entertainment, science & technology, health, parenting, social media, and sports.
Send your piece to redaksi@jakartakita.com

Open chat
1
Hello can we help you?