Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Asosiasi Keluhkan Harga Gas Industri Makin Mahal

1,157
foto : jakartakita.com/edi triyono

Jakartakita.com – Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mengeluhkan harga gas industri yang masih mahal. Rata-rata harga gas industri masih sekitar USD 9 per MMBTU.

Padahal, beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo sudah meminta agar harga gas industri turun sehingga beban produksi industri lebih ringan. Namun nyatanya sampai saat ini harga gas masih mahal.

Untuk diketahui, harga gas industri di Indonesia dibandingkan Malaysia terpaut cukup jauh.

Di Jawa Timur, harga gas industri saat ini sekitar USD 8,03 per MMBTU dan di Jawa Barat harga gas mencapai USD 9,15 per MMBTU, bahkan di Sumatra Utara harganya mencapai USD 9,8 per MMBTU.

Adapun di Malaysia, harga gas industri sebesar USD 6 per MMBTU. Sementara di Eropa mencapai USD 3 per MMBTU.

Dalam sebuah diskusi dengan awak media di Milan Gallery, Jakarta Pusat, Kamis (18/10/2018), Marketing Manager PT Saranagriya Lestari Keramik, Susan Anindita mengungkapkan bahwa, mahalnya harga gas ini sangat berpengaruh pada kinerja industri keramik. Selain karena faktor persaingan yang ketat dan serbuan produk impor, harga gas yang mahal membuat banyak industri keramik tutup usaha.

“Sudah seharusnya pemerintah merealisasikan harga gas yang murah agar industri dalam negeri, khususnya industri keramik yang tergabung dalam Asaki, tidak semakin banyak yang tutup usahanya. Bertahun – tahun seperti ini dan masih mahal juga, padahal Presiden bilang diturunkan tapi tetap tidak turun. Saya nggak tahu kenapa kok pemerintah sepertinya sulit menurunkan harga gas itu,” ucap Susan.

Selain harga mahal, lanjut dia, tarif listrik bagi industri juga tergolong mahal. Selain itu, adanya kerja sama yang tertuang di dalam ASEAN-China Free Trade Agreement, justru kian berpotensi menggerus produsen lokal.

Bayangkan saja, saat bea masuk impor keramik China masih 20 persen saja, pertumbuhan impornya mencapai 22 persen setiap tahun.

“Kami berharap ada keberpihakan pemerintah yang konkrit agar industri keramik nasional tetap bertahan,” tambah Susan.

“Bagaimana mengatasi harga gas tidak kompetitif dan berbagai masalah itu, ya kita harus lakukan efisiensi, tapi tidak langsung kurangi kuantiti produksi, kalau dikurangi overheat-nya malah makin tinggi. Kita investasi teknologi mesin yang hemat energi meskipun memang di satu sisi tetap tidak bisa berkompetisi dengan produk impor,” lanjut Susan.

Sementara itu, demi mensiasati pasar yang semakin ketat, menurut Susan, pihaknya (Milan Tiles) akan fokus untuk menyasar pasar domestik meskipun disaat yang sama perusahaannya tetap melakukan ekspor.

Setidaknya, terdapat 25 negara yang menjadi tujuan ekspor. Namun pangsa ekspor diakuinya tidak terlalu besar dan tahun ini ditargetkan hanya bisa tumbuh satu digit saja.

Asal tahu aja, Milan Tiles yang memiliki jumlah motif lebih dari 300 varian, adalah pilihan tepat bagi desainer interior, arsitek dan design enthusiast yang mengerti akan kualitas dalam setiap detailnya.

Sedangkan inovasi dari segi material, menjadikan Milan Tiles bernilai tambah yang mengedepankan fitur kekuatan, ketepatan ukuran, kerapihan, dan keindahan keramik.

Tahun ini, Milan Tiles memperkenalkan 3 efek spesial yang ada di koleksi Habitat Gress, yaitu Pearl Effect (efek kilau mutiara di atas keramik satin, Tinkerbell Effect (efek serbuk berkilauan untuk menambah dimensi pada keramik), dan Glam Effect (efek yang memberikan hasil akhir glamor dan mewah).

“Kedepannya, inovasi teknologi terbaru yang diterapkan adalah digital printing technology, yang kini tidak hanya mampu menghasilkan kualitas gambar beresolusi tinggi, melainkan juga bisa menciptakan berbagai macam tekstur, dari tekstur yang halus hingga relief berukuran mikro pada permukaan keramik, dengan tetap meningkatkan efisiensi pada penggunaan material dan proses cetak,” tandas Susan.  (Edi Triyono)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

IndonesianEnglishDutchChinese (Simplified)Malay
%d bloggers like this: