Info Jakarta - Berita Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Riset : Prospek Bisnis Kedai Kopi Semakin ‘Wangi’ di 2020

3,829
foto : jakartakita.com/edi triyono

Jakartakita.com – Hasil riset Toffin, perusahaan penyedia solusi bisnis berupa barang dan jasa di industri Horeka (Hotel, restoran, dan kafe) di Indonesia, bersama Majalah MIX MarComm – SWA Media Group menyebutkan, bisnis kedai kopi di Indonesia terus bertumbuh, menjadi emerging business yang muncul seperti cendawan di musim penghujan.

Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah kedai kopi di Indonesia secara signifikan dalam tiga tahun terakhir dan naiknya konsumsi domestik kopi di Indonesia.

Nicky Kusuma selaku Vice President Sales and Marketing Toffin Indonesia, merincikan, jumlah kedai kopi di Indonesia pada Agustus 2019 mencapai lebih dari 2950 gerai, atau meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan pada 2016 yang hanya sekitar 1000 gerai.

Menurutnya, angka riil jumlah kedai kopi ini bisa lebih besar karena sensus kedai kopi itu hanya mencakup gerai-gerai berjaringan di kota-kota besar, tidak termasuk kedai-kedai kopi independen yang modern maupun trandisional di berbagai daerah.

Sementara itu, konsumsi kopi domestik Indonesia juga terus meningkat.

Data Tahunan Konsumsi Kopi Indonesia 2019 yang dikeluarkan oleh Global Agricultural Information Network menunjukkan proyeksi konsumsi domestik (Coffee Domestic Consumption) pada 2019/2020 mencapai 294.000 ton atau meningkat sekitar 13.9% dibandingkan konsumsi pada 2018/2019 yang mencapai 258.000 ton.

Secara per kapita, konsumsi kopi masyarakat Indonesia relatif masih rendah dibandingkan negara lain, yaitu hanya sekitar 1 kilogram pada 2018. Bandingkan dengan Vietnam—yang tingkat pendapatannya di bawah Indonesia—yang konsumsi kopi per kapitanya mencapai 1.5 kilogram pada tahun yang sama.

Dari sisi bisnis, penjualan produk Ready to Drink (RTD) Coffee atau kopi siap minum—seperti produk kopi yang dijual di kedai kopi—terus meningkat. Menurut data Euromonitor, kalau pada 2013 retail sales volume RTD Coffee Indonesia hanya sekitar 50 juta liter, pada 2018 menjadi hampir 120 juta liter.

Hasil survei juga menunjukkan, bahwa kedai Coffee to Go yang menyediakan RTD Coffee berkualitas dengan harga terjangkau, sangat diminati generasi yang mendominasi populasi Indonesia saat ini.

Dalam setahun terakhir, 40% generasi ini membeli minuman kopinya dari gerai kopi jenis ini.

Dengan rata-rata alokasi belanja untuk minuman kopi (share of wallet) Rp 200.000 per bulan, bisnis kedai kopi jenis ini diperkirakan akan tumbuh signifikan pada tahun-tahun mendatang.

“Riset ini diperlukan karena selama ini belum ada survey atau penelitian tentang industri kedai kopi di Indonesia. Untuk itu, diharapkan riset ini menjadi panduan bagi pelaku bisnis kedai kopi di Indonesia. Kami sangat bangga bisa menjadi pihak pertama yang bisa merilis riset ini bersama dengan SWA Media Group, dan memberikan rekomendasi serta referensi yang relevan dan akurat bagi para pebisnis kedai kopi,” tutur Nicky di acara “Paparan Riset Tren Bisnis Kedai Kopi di Indonesia” yang berlangsung di Jakarta, Selasa (17/12).

Prospek 2020

Artikel Terkait
1 daripada 23

Riset tentang perkembangan bisnis kedai kopi di Indonesia yang dilakukan oleh Majalah MIX MarComm dan didukung oleh Toffin dilakukan melalui indepth interview dengan para pemangku kepentingan di industri kedai kopi Indonesia.

Proyeksi pertumbuhan pada 2020 ini juga berdasarkan insight dari konsumen yang dikumpulkan melalui survei online kepada kalangan muda (generasi Y dan Z) penggemar kopi di Indonesia.

Dari hasil riset, terungkap sembilan faktor yang mendorong pertumbuhan bisnis kedai kopi di Indonesia, yaitu:

1.Kebiasaan (budaya) nongkrong sambil ngopi;

2.Meningkatnya daya beli konsumen;

3.Tumbuhnya kelas menengah;

4.Harga RTD Coffee di kedai modern yang lebih terjangkau;

5.Dominasi populasi anak muda Indonesia (Generasi Y dan Z) yang menciptakan gaya hidup baru dalam mengonsumsi kopi;

6.Kehadiran media sosial yang memudahkan pebisnis kedai kopi melakukan aktivitas marketing dan promosi;

7.Kehadiran platform ride hailing (Grabfood dan Gofood) yang memudahkan proses penjualan;

8.Rendahnya entries barriers dalam bisnis kopi yang ditunjang dengan ketersediaan pasokan bahan baku, peralatan (mesin kopi), dan sumber daya untuk membangun bisnis kedai kopi; dan

9.Margin bisnis kedai kopi yang relatif cukup tinggi.

Dengan jumlah gerai yang terdata saat ini dan asumsi penjualan rata-rata per outlet 200 cup per hari, serta harga kopi per cup Rp 22.500, Toffin memperkirakan nilai pasar kedai kopi di Indonesia mencapai Rp 4.8 triliun per tahun.

Sementara itu, Ario Fajar selaku Head of Marketing Toffin menambahkan, bahwa riset ini penting karena bisa menjadi landasan bagi pelaku bisnis atau calon pebisnis kedai kopi untuk membangun dan mengembangkan usahanya, baik dari sisi sales, marketing, maupun operasional.

“Toffin berkepentingan mendukung para pelaku usaha kedai kopi di Indonesia dengan riset ini, agar bisnis mereka bisa bertahan dan berkompetisi. Para pelaku bisnis juga perlu tahu apa yang sedang tren, bagaimana peta persaingannya, dan seperti apa proyeksi bisnis ke depannya,” tandas Ario. (Edi Triyono)


Interested in writing for Jakartakita.com? We are looking for information and opinions from experts in a variety of fields or others with appropriate writing skills.
The content must be original on the following topics: lifestyle (beauty, fashion, food), entertainment, science & technology, health, parenting, social media, and sports.
Send your piece to redaksi@jakartakita.com

Open chat
1
Hello can we help you?
Powered by