Take a fresh look at your lifestyle.

Menelusuri Makna Menjadi Manusia Lewat Karya Pramoedya Ananta Toer yang Digemari Gen X sampai Gen Z

Jakartakita.com – Sosok Pramoedya Ananta Toer melalui karya-karyanya bagi sebagian orang lebih dari sebuah bacaan. Pada 6 Februari 2025, Indonesia dan bahkan dunia merayakan 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer. Penulis dan Sastrawan ini selama hidupnya menulis lebih dari 50 karya yang sudah dialihbahasakan ke puluhan bahasa dunia.

Sempat jadi tahanan politik di Pulau Buru oleh Orde Baru pada dekade 60-an karena kedekatannya dengan Lekra—sayap kebudayaan Partai Komunis Indonesia (PKI), namanya masyhur di kemudian hari. Karya-karyanya yang sebagian besar berisi ide perlawanan terhadap kolonialisme didiskusikan komunitas sastra dunia sampai sekarang.

Foto: Jakartakita.com/Henry

Dalam semangat bulan perjuangan bangsa, Yayasan Pramoedya Ananta Toer mempersembahkan acara diskusi bertajuk “Aksara Pram di Bumi Menjadi Manusia”, sebuah ruang refleksi dan perayaan atas warisan pemikiran sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Acara ini mengangkat tema bagaimana orang-orang terinspirasi ketika membaca karya-karya penulis dan sastrawan yang akrab disapa Pram itu, lalu melahirkan kembali semangat kemanusiaan dan perjuangan yang pernah dihidupi Pram.

Lebih dari sekadar peringatan, “Aksara Pram di Bumi Menjadi Manusia” adalah panggilan untuk kembali membaca dan merasakan denyut pemikiran Pram — seorang penulis yang dengan seluruh kata-katanya berupaya membangkitkan kesadaran manusia Indonesia agar menjadi manusia seutuhnya.

Foto: Jakartakita.com/Henry

Melalui acara ini, dimaksudkan mengajak publik menelusuri makna “menjadi manusia” — sebagaimana diungkapkan Pram dalam kutipan karya Tetralogi : “Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan; Duniaku Bumi Manusia dengan segala persoalannya”.

Dari Minke di Bumi Manusia hingga suara kemanusiaan dalam Larasati, Gadis Pantai sampai Perburuan, karya-karya Pram bukan sekadar cerita, melainkan cermin kehidupan— yang memantulkan keberanian, luka, dan keteguhan manusia untuk terus berdiri juga terus melangkah.

Acara yang digelar di TIM, Jakarta Pusat, Minggu, 30 November 2025 ini menghadirkan tiga tokoh lintas bidang yang terinspirasi oleh semangat Pram. Ada Happy Salma, aktris dan pegiat sastra yang termasuk generasi milenial dan kerap menghidupkan karya-karya besar Indonesia melalui panggung teater melalui Titimangsa Foundation.

Lalu ada Mike Marjinal, seorang musisi dan aktivis yang menjadikan seni sebagai ruang perjuangan bagi suara rakyat kecil. Mike yang termasuk Gen X membaca karya-karya Pram sejak masa Orde Baru.

Ketiga ada Chris Wibisana, penulis dan pengamat budaya muda atau Gen Z yang menafsirkan Pram sebagai cermin perjalanan intelektual bangsa. Meski punya latar dan usia berbeda, ketiganya pernah bertemu dan berkomunikasi dengan Pram secara langsung.

Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Dianita Kusuma Pertiwi, jurnalis dan pemerhati budaya, Mike yang merupakan vokalis band Marjinal menuturkan bahwa karya-karya Pramoedya memberinya semacam imunitas, seperti vitamin yang mendorongnya terus berkarya. Dia bahkan telah menciptakan sejumlah lagu yang terinspirasi langsung dari buku-buku Pram maupun dari semangat yang terkandung dalam pemikirannya.

“Saya pernah mengatakan bahwa Pram adalah Datuk Punk. Enggak perlu ngomong punk, Pram sudah jadi Punk. Jangan-jangan punk-punk di luar negeri, terinspirasi dari Pram,” ucapnya sambil tertawa.

Sementara aktris Happy Salma menjadi salah satu figur yang konsisten menghidupkan kembali suara dan gagasan Pram dalam bentuk medium baru. Melalui Titimangsa Foundation, dia menerjemahkan berbagai kisah dalam karya Pram ke dalam naskah teater, menghadirkannya dalam bentuk pementasan yang lebih relevan bagi publik masa kini.

Belum lama ini, ia menggelar pementasan teater berjudul Bunga Penutup Abad. Pertunjukan yang menjadi produksi ke-88 Titimangsa ini merupakan adaptasi dari dua buku pertama Tetralogi Buru, yaitu Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Dengan alih wahana tersebut, Happy berusaha memperkenalkan kembali semangat dan nilai-nilai yang terkandung dalam karya monumental Pram.

Sebelumnya, Bunga Penutup Abad sudah pernah dipentaskan pada 2016, 2017, dan 2018. Namun, tahun ini kembali dipentaskan 29, 30, dan 31 Agustus 2025 dalam rangka menandai 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer.

“Kita di Titimangsa sudah mementaskan karya-karya pengarang dan penulis besar Indonesia termasuk Pram. Untuk kedepannya sudah ada rencana mentas lagi tapi masih kita pertimbangkan karya mana yang akan kita pilih, mungkin juga karya Pram lagi,” terang Happy.

Sedangkan Chris yang baru berusia 20-an mengaku terkesan dengan tokoh-tokoh yang muncul dalam novel Pram, seperti Saaman dalam Keluarga Gerilya dan juga Minke di Tetralogi Pulau Buru, yang ia nilai memiliki kesamaan, yakni soal mempertahankan argumen. Nilai ini yang menurut Chris membuat karya-karya Pram tetap relevan bagi para pembaca di generasi Z. atau gen Z,

“Di satu sisi gen Z punya keberanian untuk menyampaikan maksud mereka. Di sisi lain mereka tidak tahan untuk mempertanggungjawabkan akibat dari omongan mereka. Seringkali mereka itu breakdown,” tambahnya.

Menurut Chris, Pram mengajarkan untuk tak mudah goyah dalam berargumen “dan itulah arti individualitas. Seorang yang mempunyai kemampuan untuk mempertahankan pendapatnya sendiri”.

Pram, bukan hanya menulis kisah, ia menulis kemanusiaan. Karya – karyanya mengingatkan kita untuk berpikir, melawan ketidakadilan, dan tetap percaya bahwa manusia punya daya untuk mengubah sebuah keadaan yang salah.

Mengutip karya tetralogi – Anak Semua Bangsa “Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia” kata Aditya Ananta Toer, putra Pram sekaligus perwakilan Yayasan Pramoedya Ananta Toer ketika membuka acara diskusi.

(Henry)


Tinggalkan komen