Take a fresh look at your lifestyle.

Irish Bella Ungkap Alasan Menjajal Peran Sebagai Executive Producer Lewat Film Dosa

Jakartakita.com – Dikenal luas sebagai seorang aktris, Irish Bella sepertinya mencoba keluar dari zona nyaman. Istri dari Haldy Sabri ini memutuskan untuk terjun ke dunia di balik layar perfilman dengan menjadi Executive Producer untuk film terbarunya yang bertajuk “Dosa“.

Proyek ini menjadi debut Irish Bella dalam memimpin produksi sebuah film layar lebar, sebuah keinginan yang ternyata sudah dipendamnya sejak lama. Irish mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada dunia bisnis dan kerja di balik layar sebenarnya sudah muncul sejak beberapa tahun terakhir.

Foto: Istimewa

Namun, momentum sesungguhnya hadir ketika sang suami memberikan dukungan penuh. “Jujur memang sudah beberapa tahun ini aku lagi senang di belakang layar dan mengurus bisnis. Alhamdulillah, suamiku pas dari pertama dekat sudah langsung ngobrolin rencana beliau yang support banget untuk aku berkiprah di belakang layar,” kata Irish dalam keterangan resminya, belum lama ini.

Keputusan memilih proyek film “Dosa” pun terjadi bak gayung bersambut. Saat itu, Haldy sedang dalam proses membicarakan pembuatan film, dan setelah diskusi panjang, Irish merasa tertarik untuk terlibat langsung.

Memilih “Dosa” sebagai proyek pertama bukan tanpa alasan. Usai berdiskusi panjang dengan sutradara Sondang dan produser Echa, Irish melihat adanya premis dan konflik yang kuat dalam naskah tersebut.

Menurut Irish film bergenre Thriller dengan pendekatan horor psikologis ini tidak hanya bertujuan untuk menakut-nakuti penonton. Visinya adalah agar film ini membawa pesan moral yang mendalam tentang konsekuensi hidup.

“Insya Allah ini bukan sekadar film yang nakut-nakutin atau semacamnya, tapi ada yang lebih dari itu. Dengan value yang kita bawa pada film Dosa ini, semoga banyak pesan yang bisa diambil oleh para penonton,” jelas wanita kelahiran 29 tahun lalu itu.

Film yang juga diproduseri oleh Reza Aditya ini mengangkat tema tentang sebab-akibat perbuatan manusia. Tema ini kata Irish sangat relevan dengan penonton Indonesia karena dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Setiap perbuatan yang kita lakukan akan ada sebab akibat di kemudian hari. Jadi psikologis kita saat menonton benar-benar akan dibuat membayangkan ini dan itu,” ungkapnya.

Dalam debutnya ini, Irish sangat detail memperhatikan aspek visual dan artistik film. Ia memastikan setiap elemen, termasuk pemilihan lokasi di sebuah hotel tua, memiliki makna filosofis. Hotel tersebut digambarkan sebagai ruang privasi manusia, di mana meskipun seseorang merasa sendiri, ada Yang Maha Melihat yang mencatat segalanya.

Melalui film “Dosa”, Irish berharap penonton tidak hanya terhibur, tetapi juga pulang dengan membawa bahan perenungan. “Ternyata film Thriller bukan cuma sekedar ngagetin, tapi ada value yang bisa mereka bawa pulang. Dijamin semua akan langsung memikirkan tentang apa yang sudah dilakukan selama ini,” pungkasnya.

Secara garis besar, film “Dosa” bercerita soal Bima (28) dan istrinya, Ersya (25), nekat pergi ke luar kota demi pelantikan jabatan, mengabaikan firasat buruk ibunya, Nungki, yang bahkan diam-diam diberi obat tidur oleh Ersya.

Dalam perjalanan, pertengkaran mereka memecah konsentrasi Bima saat berpapasan dengan truk yang dikendarai Nanang (35), seorang sopir mabuk yang baru saja melakukan tabrak lari. Mobil Bima pun terperosok ke dalam jurang.

Merasa selamat, Bima dan Ersya mencari bantuan hingga menemukan sebuah hotel tua misterius yang dijaga oleh resepsionis aneh bernama Dilla. Di hotel tersebut, mereka bertemu Nanang dan mulai mengalami berbagai teror supernatural serta penyiksaan sadis oleh sosok algojo.

Teror ini memaksa mereka menghadapi dosa-dosa masa lalu: Ersya yang melakukan perselingkuhan dan aborsi, Nanang yang membunuh orang saat mabuk, serta Bima yang pernah membunuh rekan kerjanya demi promosi jabatan.

Puncaknya, Dilla mengungkap kebenaran bahwa Bima dan Ersya sebenarnya telah tewas dalam kecelakaan tersebut. Hotel itu hanyalah tempat penghakiman atas dosa-dosa mereka.

Sementara jasad Ersya ditemukan tewas tertusuk batang pohon, jasad Bima tergeletak di dasar jurang. Namun, cerita ditutup dengan cliffhanger saat mata mayat Bima tiba-tiba terbuka lebar.


Tinggalkan komen