Jakartakita.com – Indonesia diproyeksikan menghadapi inflasi medis sebesar 17,8 persen pada 2026, tertinggi di kawasan Asia dan jauh melampaui rata-rata global yang berada di angka 11 persen. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi industri kesehatan dan asuransi karena berpotensi memengaruhi akses masyarakat terhadap layanan kesehatan berkualitas.
Hal tersebut terungkap dalam Allianz Indonesia Media Workshop 2026 melalui Zoom bertajuk “Menjaga Keberlanjutan Perlindungan Kesehatan di Tengah Kenaikan Biaya Medis” yang digelar pada 17 Juni 2026.
Head of Health Allianz Life Indonesia, Rina Tiana, menjelaskan bahwa kenaikan biaya medis di Indonesia didorong oleh sejumlah faktor, mulai dari meningkatnya kasus penyakit, perubahan metode perawatan, hingga inflasi medis yang terus berlangsung. Berdasarkan data yang dipaparkan, inflasi medis Indonesia mencapai 17,8 persen, lebih tinggi dibanding Malaysia (15 persen), Singapura (14 persen), Thailand (14,6 persen), maupun rata-rata Asia sebesar 12,5 persen.
Menurut Allianz, asuransi kesehatan perlu dipandang sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang. Melalui prinsip risk pooling atau berbagi risiko, nasabah tetap dapat memperoleh akses terhadap layanan kesehatan ketika menghadapi risiko penyakit tanpa harus menanggung seluruh biaya pengobatan secara mandiri.
Dalam workshop tersebut, Allianz juga menjelaskan bahwa penyesuaian premi (repricing) merupakan salah satu respons terhadap inflasi medis yang terus meningkat. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan perlindungan kesehatan nasabah agar tetap dapat mengakses layanan kesehatan berkualitas dalam jangka panjang.
Sementara itu, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Bayushi Eka Putra mengungkapkan bahwa tingginya biaya medis saat ini sangat berkaitan dengan perkembangan teknologi kesehatan modern. Menurutnya, banyak masyarakat yang belum memahami bahwa biaya tindakan medis tidak hanya berasal dari jasa dokter atau biaya rawat inap, tetapi juga dari penggunaan perangkat medis berteknologi tinggi.

Sebagai contoh, prosedur pemasangan stent jantung yang kerap disebut “pasang ring” dapat memiliki biaya yang sangat beragam. Stent generasi lama berbahan logam biasa memiliki harga sekitar Rp8 juta hingga Rp15 juta. Namun, teknologi yang kini menjadi standar modern adalah Drug-Eluting Stent (DES), yaitu stent dengan lapisan obat khusus yang mampu menekan risiko penyumbatan ulang hingga di bawah 5 persen. Harga perangkat ini dapat mencapai Rp18 juta hingga lebih dari Rp35 juta per unit.
Selain stent, dokter saat ini juga memanfaatkan teknologi pencitraan canggih seperti IVUS (Intravascular Ultrasound) dan OCT (Optical Coherence Tomography). Kedua teknologi tersebut memungkinkan dokter melihat kondisi pembuluh darah dari bagian dalam secara real time dengan tingkat presisi hingga hitungan milimeter. Teknologi ini membantu menentukan ukuran stent yang tepat, memetakan kalsifikasi pembuluh darah, serta memastikan pemasangan stent berlangsung optimal.
“Setiap probe IVUS atau OCT digunakan hanya untuk satu kali tindakan dan kemudian dibuang. Biaya satu perangkat dapat mencapai Rp30 juta hingga Rp45 juta per prosedur,” jelas Bayushi.
Ia menambahkan bahwa banyak perangkat medis yang digunakan dalam tindakan jantung masih bergantung pada teknologi impor. Selain itu, sejumlah komponen seperti sensor, balon, kabel, dan alat pencitraan merupakan perangkat sekali pakai yang harus diganti untuk setiap pasien demi menjaga standar keselamatan dan kualitas layanan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa biaya tindakan jantung kompleks dapat mencapai lebih dari Rp150 juta. Biaya tersebut tidak hanya mencakup pemasangan stent, tetapi juga penggunaan berbagai teknologi pendukung, perangkat diagnostik, serta alat khusus yang diperlukan sesuai kondisi pasien.
Melalui kegiatan ini, Allianz mengajak masyarakat untuk lebih memahami tren kenaikan biaya medis dan pentingnya memiliki perlindungan kesehatan yang memadai. Di tengah perkembangan teknologi medis yang semakin maju, perencanaan perlindungan kesehatan dinilai menjadi kebutuhan penting untuk menjaga keberlangsungan kondisi finansial keluarga di masa depan. (Risma)
