Tie By Parca, Kisah Tiga Sahabat Menghidupkan Kembali Dasi-Dasi Penuh Kenangan
Jakartakita.com – Sebuah dasi tua yang tersimpan lama di lemari ternyata mampu melahirkan sebuah karya baru. Bukan sekadar aksesori fashion, melainkan sebuah gerakan kecil tentang kenangan, persahabatan, kreativitas, dan keberlanjutan.
Semua bermula dari koleksi dasi milik suami Ruvita Anugrahaningtyas atau yang akrab disapa Vita. Bertahun-tahun dasi-dasi itu menjadi bagian dari rutinitas kerja. Namun ketika masa pensiun tiba dan aktivitas kantor tak lagi dijalani, puluhan dasi tersebut perlahan hanya menjadi penghuni lemari.
Alih-alih membiarkannya menumpuk atau berakhir sebagai sampah tekstil, Vita melihat kemungkinan lain.
“Daripada dibuang, kenapa tidak diolah kembali?” pikirnya saat itu.
Ternyata, cerita serupa juga dimiliki oleh dua sahabatnya, Evandrina Amaliasary dan Diyah Ratna Damayanti yang akrab disapa Nanu.
Bukan hanya dasi milik suami dan pasangan mereka, tetapi juga terdapat koleksi dasi peninggalan ayah yang telah berpulang.
Setiap lembar dasi menyimpan kisah yang berbeda. Ada kenangan tentang perjalanan karier, kerja keras, pertemuan penting, hingga sosok ayah yang pernah mengenakannya. Bagi ketiga sahabat ini, membuangnya begitu saja terasa terlalu sayang.

Dari sanalah lahir Tie By Parca, sebuah brand fashion upcycling yang mengusung filosofi “The Second Life of a Tie” atau kehidupan kedua bagi sebuah dasi.
Persahabatan yang Menghidupkan Ide

Tie By Parca tidak lahir dari latar belakang fashion semata. Ia tumbuh dari persahabatan yang telah terjalin sejak bangku SMA.
Meski memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda, ketiganya justru saling melengkapi. Ada yang kuat dalam kreativitas, ada yang teliti dalam proses produksi, dan ada yang piawai membangun relasi.
“Karena kami sudah saling mengenal selama puluhan tahun, kami memahami karakter masing-masing. Perbedaan itu justru menjadi kekuatan kami,” ujar mereka.
Memasuki masa pensiun juga menjadi titik awal yang penting. Setelah bertahun-tahun sibuk dengan pekerjaan masing-masing, mereka merasa masih memiliki semangat untuk terus berkarya.
“Kami percaya berkarya tidak mengenal usia. Justru setelah pensiun kami memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang selama ini ingin diwujudkan,” kata mereka.
Dari Dasi Menjadi Karya Fashion
Bagi banyak orang, dasi mungkin hanya berfungsi sebagai pelengkap busana formal. Namun di tangan Vita, Evan, dan Nanu, benda tersebut berubah menjadi medium ekspresi kreatif.
Dasi dipilih bukan tanpa alasan. Selain memiliki kualitas bahan yang baik, setiap dasi juga hadir dengan motif, warna, dan karakter yang unik.
Proses kreatifnya pun tidak sederhana.

Mereka mengumpulkan dasi dari berbagai sumber, kemudian menyeleksi satu per satu berdasarkan warna, tekstur, motif, dan kualitas kain. Setelah itu, dasi-dasi tersebut dipadukan hingga membentuk komposisi yang harmonis.
Tak jarang satu karya membutuhkan belasan hingga puluhan dasi.
“Kami tidak pernah memaksa sebuah desain. Justru setiap dasi seperti berbicara dan menentukan akan menjadi apa. Ada yang cocok menjadi bros, ada yang menjadi rok, vest, tas, atau aksesori lainnya,” ungkap mereka.
Dari proses tersebut lahirlah beragam produk seperti rok, vest, bros, kalung, turban, tas, hingga aksesori fashion lainnya.
Menariknya, hampir tidak ada dua produk yang benar-benar sama.
Karena material dasi yang digunakan selalu berbeda, sebagian besar karya Tie By Parca dibuat dalam jumlah terbatas, bahkan banyak yang hanya satu-satunya di dunia.
“Hal itu membuat setiap karya terasa lebih personal dan eksklusif,” ujar mereka.
Mengubah Cara Pandang tentang Barang Bekas
Di balik keindahan setiap produknya, Tie By Parca juga membawa pesan yang lebih besar tentang keberlanjutan atau sustainability.
Menurut mereka, salah satu tantangan terbesar dalam menjalankan bisnis upcycling adalah mengubah cara pandang masyarakat terhadap barang bekas.
Masih banyak yang menganggap produk daur ulang memiliki kualitas lebih rendah dibandingkan produk baru.
Padahal kenyataannya, proses upcycling sering kali membutuhkan pengerjaan yang lebih rumit dan detail.
“Upcycling bukan berarti kualitasnya lebih rendah. Justru karena prosesnya lebih panjang dan banyak dikerjakan dengan tangan, setiap produk memiliki nilai yang lebih personal,” jelas mereka.
Respons masyarakat sejauh ini pun cukup positif. Banyak pelanggan yang awalnya hanya penasaran, kemudian terkejut saat mengetahui sebuah dasi dapat bertransformasi menjadi produk fashion yang modern, elegan, dan nyaman digunakan.
Saat ini, bros, kalung, vest, dan rok menjadi produk yang paling diminati pelanggan.
Memberi Kesempatan Kedua

Bagi para pendirinya, Tie By Parca bukan sekadar bisnis fashion.
Ada pesan yang ingin mereka sampaikan melalui setiap karya yang dihasilkan.
“Kalau sebuah dasi saja bisa memiliki kehidupan baru, kami percaya manusia juga selalu memiliki kesempatan untuk memulai kembali,” tutur mereka.
Pesan tersebut terasa sangat dekat dengan perjalanan hidup ketiganya sendiri. Setelah memasuki masa pensiun, mereka tidak memilih berhenti berkarya. Sebaliknya, mereka memulai babak baru yang menghadirkan semangat dan makna baru dalam kehidupan.
Ke depan, mereka berharap Tie By Parca dapat berkembang menjadi lebih dari sekadar brand fashion.
Mereka ingin memperkenalkan upcycling sebagai bagian dari gaya hidup modern yang berkelanjutan, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan komunitas, seniman, UMKM, dan perempuan-perempuan inspiratif lainnya.
Harapan mereka sederhana: semakin banyak orang yang percaya bahwa sustainability dapat hadir dalam bentuk yang stylish, modern, dan penuh cerita.
Sebab bagi Vita, Evan, dan Nanu, sebuah dasi tidak pernah benar-benar selesai bercerita. Dengan sentuhan kreativitas, setiap dasi berhak mendapatkan kehidupan kedua, dan mungkin, menginspirasi banyak orang untuk memulai babak baru dalam hidup mereka. (Risma)
