Jakartakita.com – Rumah Produksi MIR Production merilis film bergenre komedi romantis berjudul “Cinta Lama Babak Kedua” (CLBK) yang akan tayang pada 2 Juli 2026 mendatang.
Aktor senior Slamet Rahardjo Djarot dan aktris senior Widyawati didaulat menjadi pemeran utama film ini. Keduanya menunjukkan akting natural yang mampu menghantarkan cerita film ini tersampaikan ke penonton.
Slamet Rahardjo yang berperan sebagai Abi diceritakan memiliki hubungan di masa lalu dengan Sita. (Widyawati). Kisah cinta di masa lalu yang tidak selesai menimbulkan friksi di masa depan, membuat situasi menjadi rumit.
Film ini dibintangi oleh: Ambar (Sintya Marisca) dan Raka (Iskak
Khivano), Sarah Sechan, Kiki Narendra, Iyang Dharmawan, Febry Khey, Annisa Kaila, Yusuf Mahardhika, Gisellma Firmansyah juga terlibat sebagai Abi muda dan Sita muda.
Sutradara dan penulis film CLBK, Ivander Tedjasukmana, mengungkapkan bahwa ide awal film tersebut terinspirasi dari karya-karya sutradara Nancy Meyers. Menurutnya, film-film Nancy Meyers memiliki alur cerita yang ringan, tidak rumit, dan nyaman dinikmati oleh penonton.

“Saya memang ingin membuat film yang ringan, sederhana, dan tidak membuat penonton harus berpikir terlalu rumit. Di Indonesia, nuansanya kurang lebih seperti film Ramadhan dan Ramona, yaitu kisah cinta yang hangat dan menyenangkan,” ujar Ivander.
Ia juga menceritakan bahwa judul film tersebut sempat mengalami beberapa perubahan. Pada awalnya, film ini diberi judul Me and You Pause. Judul tersebut memiliki dua makna, yakni menggambarkan hubungan antara karakter Ambar dan Raka sekaligus permainan kata yang terdengar seperti “menopause” ketika dibaca.
“Awalnya judulnya bukan CLBK, melainkan Me and You Pause. Namun, setelah dipikirkan lagi, judul itu terasa terlalu kompleks. Untungnya ada yang mengingatkan, sehingga akhirnya kami kembali menggunakan judul CLBK,” katanya.
Dalam proses penyutradaraan, Ivander mengaku lebih memilih menggali karakter asli setiap pemain dibandingkan meminta mereka memerankan sosok yang jauh dari kepribadian masing-masing.
“Saya mencari karakter yang memang sudah ada dalam diri setiap pemain. Saya tidak meminta mereka menjadi orang lain. Saya lebih menggali sisi alami mereka agar karakter yang ditampilkan terasa lebih harmonis dan autentik,” jelasnya.
Ia juga mengaku banyak belajar selama proses produksi film tersebut. Ivander tidak segan berdiskusi dengan para senior di industri perfilman, seperti Slamet Rahardjo dan Niniek L. Karim, untuk memperdalam kemampuannya sebagai sutradara.
“Rasanya seperti sekolah film. Saya banyak bertanya kepada Akung Slamet dan Nin Widyawati. Pengalaman mereka di industri perfilman sangat membantu saya,” tuturnya.
Bagi Ivander, proses syuting CLBK menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan karena berhasil mewujudkan impiannya membuat film romantis yang ringan dan menghibur. “Saya senang karena impian saya membuat film yang ringan dan mudah dinikmati akhirnya bisa terwujud bersama tim yang luar biasa,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa hampir seluruh pemain yang diinginkannya berhasil bergabung dalam proyek tersebut. Hanya satu karakter yang akhirnya diperankan oleh aktor lain karena keterbatasan waktu.”Sebagian besar pemain sesuai dengan harapan saya. Hanya satu karakter yang akhirnya harus diganti karena kondisi yang mendesak,” katanya.
Ivander menambahkan bahwa gagasan film CLBK sebenarnya telah muncul sejak 2016. Saat itu, ia mengembangkan cerita bersama almarhum Cindy, sosok yang pertama kali mengajaknya terjun ke industri perfilman.”Saya masih ingat, kami duduk di belakang rumah sambil membuka laptop, minum kopi, merokok, lalu berdiskusi dan menyusun cerita bersama,” kenangnya.
Dalam diskusi tersebut, almarhum Cindy sempat mengusulkan agar karakter Akung diperankan oleh Slamet Rahardjo dan karakter Nin diperankan oleh Widyawati.
“Waktu itu Cindy bilang, ‘Kalau yang memerankan kakek nya Slamet Rahardjo pasti keren.’ Saya langsung setuju. Lalu untuk neneknya kami membayangkan Widyawati. Alhamdulillah, harapan itu akhirnya benar-benar terwujud,” pungkas Ivander.
“Harapannya, film CLBK dapat dikenal luas dan membuat calon penonton penasaran, ‘seperti apa sih ceritanya?’ karena dari judul filmnya sendiri sudah cukup unik; CLBK,” ujar Vladimir Rama atau Rama, Co-Producer Film CLBK sekaligus founder MIR Productions saat Jumpa pers pada Jum’ät (26/06/2026) di XXI Epicentrum Jakarta.
Rama menambahkan film ini diproduksi tahun lalu dan berlokasi di Jakarta dan Bandung. Pihaknya menyulap jalan Braga di Bandung agar terlihat seperti setting tahun 1970, lengkap dengan segala properti dan ekstras yang berpenampilan dari tahun tersebut.
“Cukup rumit, tapi sangat puas dengan hasilnya. Penonton bisa buktikan sendiri nanti di bioskop,” imbuhnya.
“MIR Productions berharap film perdana ini mampu membawa angin segar diantara maraknya genre-genre lain yang sedang menguasai bioskop tanah air,” jelas Rama.
Terlibat cinta yang tidak selesai membuat Akung Abi (Slamet Rahardjo) dan Nin Sita (Widyawati) menjadi poros persoalan dari premis film ini. Diperankan dengan sangat baik oleh dua aktor kawakan, keseluruhan cerita menjadi sangat kuat, dialog-dialognya menarik dan mudah diingat. Dilengkapi dengan chemistry manis dari Abi (Yusuf Mahardhika) dan Sita (Gisellma Firmansyah) sebagai pasangan muda di tahun 70-an, alur film menjadi terasa lebih unik.

Aktris Sintya Marisca berperan sebagai Ambar mengaku baru pertama kali dipasangkan dengan Khivano dalam sebuah proyek film. Menurutnya, membangun chemistry sebagai pasangan kekasih cukup menantang karena mereka baru saling mengenal.
“Awalnya cukup challenging, tetapi kami terbantu dengan komunikasi di luar syuting. Khivano juga cukup sering menghubungi saya untuk membangun kedekatan, sehingga chemistry kami perlahan terbentuk,” ujar Sintya.
Ia menambahkan, kesibukan masing-masing sempat menjadi kendala. Namun, setiap bertemu mereka memanfaatkan waktu untuk berbincang dan saling mengenal karakter satu sama lain demi mendukung proses syuting.
Sementara itu, tim produksi juga membantu meyakinkan keduanya agar lebih mendalami peran sebagai pasangan kekasih. Menurut Sintya, arahan dari sutradara Ivander Tedjasukmana membuat proses tersebut menjadi lebih mudah.
Di sisi lain, Gisellma Firmansyah yang memerankan Sita Muda mengungkapkan bahwa CLBK merupakan film drama romantis pertamanya. Ia mengaku sempat kesulitan menampilkan emosi jatuh cinta di depan kamera.
“Awalnya saya pikir film romantis akan lebih mudah karena dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ternyata justru sulit menampilkan perasaan cinta secara alami saat berakting,” kata Gisellma.
Ia juga mengaku harus mengubah kebiasaannya yang cenderung santai agar mampu menampilkan karakter perempuan yang lembut dan sedang jatuh cinta. Untuk mendalami peran, Gisellma banyak berdiskusi dengan lawan mainnya serta mencari referensi mengenai dinamika hubungan asmara.
Sementara itu, Vladimir Rama, CoProducer sekaligus Founder MIR Productions, “Premis film ini tidak biasa, meskipun pengalaman didalamnya bisa saja terjadi pada kita semua. Kita butuh film-film seperti ini untuk bisa dinikmati oleh pecinta film Indonesia. Saya puas dengan hasilnya.
“Meskipun genrenya drama romantis, tapi bumbu komedinya cukup kental. Para cast sangat bisa memainkan semua perannya dengan sangat baik. Kalau ingin membuktikan seperti apa adu akting lintas generasi, silahkan saksikan filmnya 2 Juli nanti di Bioskop ya”, tandas Rama.
SINOPSIS FILM CLBK (Cinta Lama Babak Kedua)
Adalah kisah tentang Raka dan Ambar, dua insan muda yang tengah mempersiapkan pernikahan mereka. Namun kebahagiaan itu mendadak runtuh saat Sita, nenek Raka, membatalkan acara keluarga setelah mengetahui bahwa Abi, kakek Ambar, adalah cinta lama yang pernah menghancurkan hatinya di masa muda.
Ambar berusaha mendamaikan masa lalu dengan membujuk Aby untuk meminta maaf. Namun, upaya ini justru membuka luka lama yang memperburuk hubungan Sita dan Abi. Ketegangan ini merambat ke generasi muda — Raka dan Ambar pun mulai saling menjauh demi membela orang tua mereka masing-masing.
Segalanya berubah saat secara tak sengaja Sita dan Abi kembali dipertemukan di Bandung. Melihat peluang ini, Raka dan Ambar meninggalkan mereka berdua agar bisa berdamai. Namun yang terjadi justru mengejutkan — api cinta lama menyala kembali. Hubungan yang memburuk antara Raka dan Ambar kini justru diperparah oleh kekecewaan atas romansa tak terduga dari kakek-nenek mereka. Foto: Jakartakita.com/Edi Triyono
